
Sely terkejut mendengar Ara di panggil oleh Presdir.Dari mereka mulai berteman hingga detik ini Sely merasa Ara tidak pernah membuat ulah dan tidak pernah membuat kesalahan dalam kerja.
Wajah panik Sely semakin terlihat ketika sudah mendekati ruang produksi.Tangan nya menggenggam saling meremas,dahinya berkerut.Tak kalah jantung nya pun tak biasa saja,detak nya lebih cepat.
Apa yang Ara lakukan hingga di panggil Presdir,kesalahan apa,aku harus bagaimana menyampaikannya?
Berbagai spekulasi pertanyaan bersarang di fikiran Sely.
"Sel,kau kenapa?kenapa terlihat panik begitu?" Sely trus meremas jemarinya.
"Ra... ehm, kau...aduh bagaimana ini!"
"Sel..aku kenapa?" Ara semakin penasaran di buatnya.
"Raa... kau,di panggil oleh Presdir.Kau di suruh ke ruangan nya sekarang juga"
Ara menegakan badannya.Ada perlu apa Fandi memanggil nya,ini sungguh di luar nalar Ara,sudah dibilang jangan mencoba membuat asumsi,penasaran, atau pertanyaan untuk karyawan yang lain tentang mereka.
"Kau kata siapa Sel?"
"Bu Susan menelfon tadi Ra"
"Ya sudah aku akan menemui nya,kamu tunggu sini menggantikan ku,aku titip sebentar" Sely segera mengangguk.
Susan adalah sekretaris Fandi,selain pintar dia juga cantik,berwawasan luas.Tapi jangan pernah menganggap sekretaris pasti slalu merayu bos nya.Tidak semua.
Nyata nya Susan sekretaris yang handal,tidak pernah mencoba menggoda Fandi ataupun Allan.Dia sangat profesional.Tidak pernah berminat menyimpan hati dengan teman satu kantor.
Ara sudah masuk ke dalam lift,dia menekan tombol lantai menuju ruangan Presdir.
"Selamat siang Bu Susan,apa Pak Fandi nya ada?" Ara menghampiri sekretaris.
"Oh selamat siang juga,masuk saja sudah di tunggu"
__ADS_1
"Baik, terimakasih" Ara membungkuk dan masuk.
Handle pintu di buka,Fandi dan Allan menoleh bersama. Ara yang merasa keduanya menatap pun tersenyum kaku.
"Selamat siang pak,saya Fahira ada kepentingan apa bapak memanggil saya?"
Terlihat lucu sekali bukan,se formal itu Ara berbicara kepada Fandi.Pembawaan nya pas,pas untuk men drama.Berpura-pura seperti atasan dan bawahan.
Allan yang melihat itu dibuat terkejut.Lain dengan Fandi yang sejak tadi menahan tawa nya.
Fandi beranjak dr duduk nya,lalu memeluk Ara dengan erat,dan mengecup keningnya.Secepat kilat dia dorong dada Fandi hingga membentur sofa.
"Maaf pak,anda tidak sopan!" Ara masih mode drama,pasalnya ada Allan,dan bagi Ara Allan belum tahu rahasianya.
"hahhaaaa..." Fandi tertawa puas.
"Allan sudah tau,sayang.Kalau kau istri ku"
"Tanya saja pada dia sendiri" tangan Ara di genggam dan di iring langkahnya ke sofa.
Ara nampak malu dengan Allan,sudah berapa kali menolak cinta Allan,dan berapa kali pula menyatakan sedang tidak ingin berkomitmen dahulu,nyatanya menikah diam-diam.
Allan terus menatap Ara yang sedikit canggung setelah bercerita.
"Matamu bisa di jaga tidak Lan! Ara istriku biasa saja melihatnya!!"
Allan memutar bola matanya jengah,Dia takkan akan menikung milik sahabatnya sendiri.Tapi tidak tau kalau besok itu Ara.
"maaf kan aku pak Allan,ini semua juga diluar kendaliku,
"Lupakan saja Ra,tapi jika suatu saat Fandi menyakiti mu,datanglah padaku.aku pasti akan menjadi terdepan untuk mu..." Suara itu lantang sekali,tanpa mempedulikan Fandi juga ada di sana.
"sialan!!!" sebuah bantal sofa melayang lagi di wajah Allan.
__ADS_1
🍀
🍀
🍀
Selain untuk memperjelas bahwa Ara istrinya,hari ini adalah hari terakhir dia bekerja.
Dipecat secara tidak hormat,dan tidak akan diterima di perusahaan manapun adalah tujuan Fandi.Mengurung istrinya dan tidak boleh kemanapun.
Ara menangis sejadinya di ruangan Fandi,dari tadi dia memukul dada suaminya.
"kamu jahat kak,memecat ku padahal tak punya kesalahan!Aku slalu berprestasi dalam produksi dan penjualan"
hikz..hikzz...hikzzz.... huaaa
"Jangan menangis raa!" Fandi mengusap pipi istrinya.
"Kamu di rumah saja tidak usah kemana-mana,menunggu ku di depan rumah saat pulang kerja dan mengandung anak-anak ku."
Allan yang tak kuasa melihat kemesraan mereka berdua segera undur diri.Matanya lama-lama sakit melihatnya.
"Ya sudah aku mau pulang!" tangan nya di pegang oleh Fandi.
"Nanti bareng sama aku Ra". Ara menghembuskan nafas kasar.
Sangat tidak manusiawi sekali pikir Ara,semudah itu memecat nya.Ara fikir Fandi lupa masalah itu,nyatanya dia benar memecatnya.
.
.
_to be continue
__ADS_1