Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
Detik-detik


__ADS_3

Merasa perutnya kencang Ara terbangun dari tidur siangnya.Sedari pagi tadi sering mules tapi dengan jarak yang cukup jauh.


Jika dilihat di buku cek kandungan,hari perkiraan lahir kurang tiga hari lagi.Suami nya sedang pergi ke negara tetangga sudah seminggu lebih.Hanya video call saja mereka berdua dapat melepas rindu.


Terutama rindu pada mamahnya.Meninggal kan Ara yang sedang hamil tua adalah beban terberat nya,Namun beruntung Maria selalu ada di rumah untuk menemani istri kesayangan nya.


Menjadi pebisnis tersohor bukan lah hal yang mudah,sering kali di undang hanya untuk sekedar say hallo pun sudah tak asing untuk Fandi.Opa nya hingga sekarang masih betah di Australia bersama sepupu nya.


Beliau akan pulang jika Ara melahirkan.Menyambut dua cicit sekaligus keturunan Brahmana adalah kebahagiaan tersendiri.


Bertahun-tahun hidup mengkonsumsi obat dan tak lepas dari rutinitas kontrol dokter membuat Opa berdiam di negara itu.Kali ini kabar dari menantunya Maria membuat beliau berani membayar mahal dokter untuk ikut di boyong ke Indonesia,tanah air yang sudah membesarkan namanya.


"Petra,,aku akan punya cicit dari Fandi.Keturunan Brahmana akan segera hadir di dunia" Rasa bahagia itu sangat jelas terasa saat beliau di pesawat.


Ara berulang kali menelfon suami nya tak juga tersambung,begitu juga dengan Allan.Bukan cuma Ara,Jelita pun juga berkali-kali mencoba sama saja.


"Sabar nak,mungkin Fandi sedang meeting atau ponsel nya kehabisan batrai"


"Kenapa Allan juga susah di hubungi mah.. aah,sakit nya datang lagi mah!" Ara mencengkram tangan Jelita yang sedang duduk di depannya.


Jelita yang merasakan cengkraman Ara kuat sekali hanya meringis.


Maria melihat itu hanya tersenyum dan mengangguk pada Jelita.


"Mah!!! Sakit sekali!!!!" Jelita yang melihat Ara kesakitan ikut menangis.


"Tarik nafas dalam,keluarkan pelan nak.Jangan lupa berdoa,biar nanti gampang keluarnya!" Maria mengelus bahu Ara,sesekali membelai rambut coklat gelap yang sudah panjang itu.


Cengkraman nya memudar,berarti rasa sakit nya sudah hilang.Jelita bisa tersenyum lega.Ara mencoba berdiri berjalan-jalan kecil di depan mamahnya dan Jelita.Sesekali berjongkok menumpu pada kursi.


Pernah mengikuti senam kehamilan,jadi Ara sedikit tahu tentang itu.


"Mah.. Ara pengin pipis" Maria pun mengantar hingga depan pintu.


Ketika di dalam toilet,Ara terperangah ********** sudah banyak darah.Perutnya semakin sakit dan mengencang.

__ADS_1


tok..tok..tokk!!! Maria yang di depan pintu terperanjat dan segera membuka nya.


Melihat Ara yang terkulai dan menahan sakit,Maria langsung memapah menantunya yang sedang duduk di closet.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya Ra!!"


Ara pun mengangguk dan berjalan pelan.Maria berteriak memanggil Jelita,untuk bersiap membawa tas dan keperluan yang lain.


🍀


🍀


🍀


Ara sudah berada di rumah sakit,ruang bersalin yang begitu mewah.Setelah diperiksa dan mengetahui bahwa sudah enam pembukaan,Ara diminta untuk sering berjalan-jalan kecil.


Jelita yang setia menemani,di genggam,hingga tangan nya memerah.Apapun yang di rasakan Ara , Jelita lah yang menjadi pelampiasannya.


Beberapa jam kemudian Ara sudah benar-benar merasakan sakit yang luar biasa.


"Mah,mas Fandi mahh!!.."


"Sakit mah!"


Nafasnya tersengal.Dokter menganjurkan untuk sesekali mengejan.


Keringat sebiji jagung menetes dari dahinya.


"Mas Fandi,sakittt!!"


Bayangan suami di sampingnya dan menemani sudah pudar di benak Ara,susah di hubungi dari siang.Mamah nya pun tak mengucapkan apa-apa,hanya selalu memberi support kepada menantunya.


"Sakit!!Hhuhuuu..."


Mengambil nafas dan menghembuskan perlahan.Dokter dan beberapa suster datang untuk mengecek jalan lahir kembali.

__ADS_1


"Maaf Bu,ini sudah siap kepala bayi sudah terlihat.Hanya satu orang saja yang boleh tetap berada di sini sebagai pendamping"


"Kalau begitu saya saja dok,saya asisten non_"


"Jangan Jelita,biar saya saja.Saya mamah nya Dok"


Melihat perdebatan itu dokter pun mengerutkan keningnya.


"Biasanya yang paling antusias suaminya,dimana sua_"


"Saya dok!Saya suaminya!!!" Keringat Fandi bercucuran, seperti habis mengikuti maraton beberapa puluh kilometer.


"Mass!!" Ara mendengar suara suaminya,tangan nya langsung terulur.Kedua nya berpelukan erat.


"Sakit sekali mas!!!"


"Iya sabarr,banyak berdoa ya!" Bahunya di tepuk oleh Maria.


"Fan,kalau gitu mamah dan jelita tunggu di luar ya?!" Fandi mengangguk.


Semua tim medis sudah siapp,Fandi mendampingi Ara,mengelap keringat nya dengan telaten.Tangan Ara selalu mencengkram baju Fandi,hingga dada bidang Fandi tepat di depan wajah Ara.


"Terus nona,mengedjan terus!"


Ara pun melakukan arahan dari dokter dan para suster yang ada di sana.Fandi yang selalu mengecupi dan mensuport.


andai aku bisa menggantikan sayang,aku tidak tega melihatnya.


.


.


.


to be continue_

__ADS_1


__ADS_2