
Pagi hari yang sudah terlewat, Ara baru saja terbangun setelah tadi tertidur kembali. Tidak ada sosok yang dia cari.
"Sus,suami ku mana?" hanya ada suster yang sedang membaca di sofa.
"Oh sudah bangun nona?anda membutuhkan sesuatu? Tadi suami anda menitipkan pesan kepada saya,ada sesuatu yang harus di kerjakan di kantor,secepatnya akan kembali."
Ara yang mengerti itu hanya mengangguk.Mencoba bangun dan beranjak dari tidurnya.
Selama ini Ara pun belum tahu tentang suaminya kerja dimana,tinggal di ibu kota dimana.
"Sus,apa aku sudah di bolehkan pulang?" seketika ide gila nya muncul.
"Beberapa menit lagi dokter akan berkeliling,nanti ditanyakan saja nona"
"Baiklah"
Ara meraih tas nya,tas dengan merk ternama yang orang lain pun tidak percaya bahwa itu asli.Tapi Ara membelinya dengan tabungan yang tidak main-main dia kumpulkan.
Setelah berbenah dan membersihkan diri di toilet ruangannya,Ara melangkahkan kakinya.Ya, Ara sudah boleh pulang saat ini juga.Melakukan pembayaran sendiri,dan menebus obat nya sendiri.
Bukan Fandi tidak mau membayar,tapi inilah awal ide gilanya.
Kaki nya melangkah menuju halte bus,untuk mencari taxi.Persetan dengan barang-barang yang ada di koper, terpenting saat ini hanyalah tas yang ada di bahunya.
__ADS_1
Semua kehidupannya ada di dalam tas itu.Atm,ponsel,kartu tanda pengenal dan masih banyak yang lain.
Taxi berhenti,Ara masuk ke dalam sana,melaju membelah ibu kota.Senyumnya merekah. Izinkan aku menikmatinya sejenak Tuhan.
Tubuhnya di renggang kan,terasa kaku memang hidup beberapa hari dengan orang itu,pikirnya.
"Pak,berhenti di mini market sebentar yaa?!" sopir taxi hanya menganggukkan kepalanya.
Beberapa belanjaan sudah memenuhi dua kantong kresek.Cemilan dan makanan siap saji.Perutnya sangat lapar dan ingin segera di isi.
Setelah beberapa puluh menit,Ara sampai juga di rumah kecilnya.Kecil sekali tapi nyaman aman dan membuat dia betah berlama-lama di sana.
Tidak ada pengganggu dan tidak ada orang yang suka menekannya,memaksa ini itu.Benar-benar menyebalkan.
Berganti baju dan merebahkan tubuhnya di kasur.Di raih nya benda pipih miliknya di dalam tas "home sweet home" begitu lah story' di aplikasi hijau miliknya. Tenang saja,dia bahkan sudah memprivate story' nya dari Fandi.
Ya, ide gila itu adalah kabur. Lebih tepatnya mengasingkan beberapa waktu dari Fandi,hidupnya seakan sempit jika terus bersamanya.
"Araa sudah pulang?" isi pesan dari Allan,siapa lagi yang slalu memandangi story' Ara jika bukan dia.
Hari nya hanya untuk menunggu Ara update story'.Beberapa kali menghubungi pun slalu di abaikan oleh Ara.
"ya,saya sudah di rumah pak"
__ADS_1
"Boleh,saya main ke rumah?"
"tentu saja,silahkan!" Tanpa pikir panjang,Ara meng-iyakan padahal bisa menimbulkan bencana.
Allan segera membelokkan mobilnya menuju rumah Ara,sudah lama tak bertemu.Rasa rindunya semakin bertambah.
Di rumah sakit. Fandi yang baru datang setelah urusannya selesai di buat terkejut oleh bilik yang di huni Ara ternyata sudah rapih tak berpenghuni.
Langkah lebarnya mencari di sudut sisi rumah sakit dan taman,tak terlewat juga di kantin tetap nihil.
Suster yang dia sewa untuk menjaga Ara pun sudah pulang berganti shift. Merasa kecolongan dan di luar kendali,ternyata Ara benar-benar ingin kabur dari nya.
Jantung nya bergemuruh,rahangnya mengeras,emosinya sudah di puncak.
Harus menghubungi siapa saat ini,ponsel Ara tidak aktif.Dia menyugar rambutnya,berkacak pinggang di depan bilik Ara.
"****!!!berani sekali dia!!!!! " nafasnya berat dan memburu.
Seketika fikiran nya tertuju pada tempat pendaftaran.Pagi tadi dia mendaftar kan Ara dengan tanda pengenal milik Ara.
Mudah bagi nya mendapatkan identitas Ara,dengan bermodal beberapa lembar uang berwarna biru dan sedikit drama tentunya.
Identitas Ara sudah di genggamannya,Fandi menuju parkiran mobil,bersiap melaju membelah jalanan menuju rumah Ara.
__ADS_1
"kau pikir kau pintar Ara!!!" senyumnya meremehkan.
_to be continue_