
Ceklek
Pintu terbuka,nampak Ara di ambang sana.
Kedua nya menoleh,Yoga melayangkan tatapan tajam nya kepada Ara.Ara yang sudah tau itu mendadag nyalinya ciut,dia memejamkan mata dalam-dalam.
Tak berapa lama Fandi di belakang sana menyusul memasuki gudang.Mereka berdua perlahan mendekat ke sofa dimana ada Yoga dan Azia duduk di sana.
Yoga melihat jam di tangan,jari telunjuk nya sudah mengetuk-ngetuk meja "Jelaskan sudah sampai mana hubungan kalian!!!"
Ara mencoba melangkah mendekati Yoga,tapi rasanya sepatu yang dia kenakan seperti terbuat dari besi,jalan nya sangat berat.
"Mas ka-kamii..."
"Stop disana,jangan ke sini-sini.Tetap berdiri tidak ada yang menyuruh kau duduk,dimana pun!"
Ara terlonjak kaget,sudah di pastikan Yoga sangat marah pada dirinya.
"Pergaulan seperti ini yang kau jalani di sana?hingga kau berani tidur dengan lelaki itu,yang bahkan kami tidak mengenalinya?!"
"Bukan begitu mas,kita hanya berte_"
"Saya akan bertanggung jawab mas,dan ijinkan aku menikaih Ara"
Mata Ara membola dengan sempurna.tidak hanya Ara,Azia pun kaget di buat nya.Fandi langsung melamar Ara.
Ara terpaksa memberanikan diri berjalan cepat bersimpuh di depan Yoga "mas kami tidak saling cinta,dan tidak terjadi apapun dengan kami,ini semua salah paham".
Ara mendongak melihat wajah Yoga,tapi sayang sangat d sayang Yoga melihat tanda kissmark di leher dan dada Ara.
Plak!
"Araa!" Terdengar suara yang meninggi dari Azia dan Fandi bersama.
Ara memegang pipi nya,sangat sakit dan pedas.Kakak laki-lakinya baru kali ini menampar dia dan di hadapan orang lain.
Ara meneteskan butiran bening,dada nya naik turu.
"Kau tahu Ara bagaimana tanggung jawab mas setelah ayah tidak ada?kau mengerti bukan?!!!"
__ADS_1
"Ayah dan Ibu mengajarkan,mendidik kita dengan kasih sayang dan di bekali ilmu agama,ini yang kau balas?!!!"
"Tidak kah kau berfikir apa yang terjadi di sana dengan mereka jika mengetahui anak bungsu nya seperti ini?"
Mereka terdiam,tidak ada yang berani bersuara.Isak tangis Ara semakin menjadi.
"Ak-aku tid_"
plakk!!
"Cukup mas" Azia menahan tangan Yoga.
Fandi mendekat menarik dan memeluk Ara.Tubuh Ara bergetar,nafasnya naik turun.Tangisnya semakin kencang.
"Stop mas!!Aku yang salah disini bukan Ara,Aku yang mencintai nya dan berambisi ingin memilikinya.Jadi tolong aku saja yang di hukum"
Mendengar itu, Yoga mendekati Fandi menarik kerah,menjauhkan dari Ara.
Bugh!..bugh!..bugh!..
Berkali kali Yoga melayangkan kepalannya dan mendarat sempurna di muka dan perutnya.
Bukan Fandi yang tidak bisa membalas,tapi dia lebih menghargai Yoga adalah kakak kandung Ara,benar yang dikatakan Yoga,Ara adalah tanggung jawab kakak laki-laki.
Tangan Yoga sudah melayang, lagi-lagi mendarat sempurna di perut Fandi.
"Mas!!! jangan mas,aku mohon!" Ara menghalangi,memeluk tubuh Fandi yang sudah melemas di sudut sofa.
"Mass,sudah! ..istighfar!!" Azia menahan lengan nya.Yoga melihat pemandangan langsung,adiknya mengkhawatirkan Fandi,dia merelakan pasang badan demi Fandi.
"Besok pagi aku tunggu kau dan keluarga mu, untuk kau meminang adikku,jangan sampai mengingkari!jika tak ingin aku obrak abrik rumah mu!!"
Akhirnya Yoga keluar juga dari gudang,di iringi Azia dibelakang nya.
"Di sana ada kotak obat.obati luka nya!" Azia memberitahukan kepada Ara,sebelum menghilang di balik pintu.
🍀
🍀
__ADS_1
🍀
"Aww..aawww.. pelan-pelan Ra!" Fandi merintih,saat lukanya di bersihkan menggunakan kapas.
Keduanya sudah berpindah di sofa duduk bersebelahan.
"Kan,aku juga sudah bilang.Kamu cukup diam biar aku saja" Mata sendu Ara meng isyaratkan bahwa dia sangat khawatir.
"Aku tidak bisa melihat wanita menangis,mas yoga terlihat benar-benar kecewa pada mu Ra..Maafkan Ku".
"Mas yoga sabuk hitam,meski pun dia bukan atlet.Dia tahu bagaimana cara memukul, walaupun tidak mengeluarkan tenaga.Tetap saja sakit".
"Kenapa kau tidak membalasnya?kau laki-laki bukan?" Tangan Ara masih sibuk menempelkan cairan kuning kehitaman di luka Fandi.
Fandi terkekeh "Kau sudah membuktikan sendiri kan bagaimana perkasa nya aku tadi malam?"
"aww Ra!" Tangan Ara sengaja menekan luka di ujung bibirnya.
"Jangan dibahas!!" matanya membola.
"Maaf bercanda.... Aku bukan tidak ingin membalas,mas yoga kakak mu.Kalau dia terluka di tangan ku,nanti hubungan kita yang tak seberapa dan akan menjadi istimewa ini tidak di restui oleh keluarga mu_"
"dan lagi,jika mas yoga masuk rumah sakit yang akan menjadi walimu di pernikahan kita siapa?" Fandi menunggu reaksi Ara.
Ara menghembuskan nafas nya kasar,dan meletakan kapas yang kotor ke kantong plastik.
"Kau serius kak,ingin menikaih ku?Aku sudah bilang,aku belum punya niat dan aku tidak mencintaimu.kurang jelas,atau mau aku ulangi lagi perkataan barusan?"
Fandi meraih kedua tangan Ara,di genggam erat jemari tangan itu.
"Aku tidak perduli dengan niat mu,sudah atau belum kau mencintai ku biar itu menjadi PR ku untuk membuat mu mencintaiku"
Ara termangu dengan perkataan Fandi barusan. Eror nih manusia,jangan sampai kau membuat surat perjanjian ya nantinya,awas aja kalau kaya di novel-novel!!... kata batinnya.
Sebuah kecupan mendarat di bibir Ara secara tiba-tiba.
"Terimakasih untuk obatnya,sekarang masuklah,sebentar lagi pagi.Aku akan pulang,sore aku akan kemari membawa keluarga ku".
Ara menuruti dan berjalan keluar gudang di ikuti oleh Fandi,mereka berpisah di halaman depan.
__ADS_1
Gerbang di buka dan Fandi melaju ke luar halaman,di saksikan oleh Ara yang masih mematung di depan pintu rumah.
_to be continue...