Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
Khilaf


__ADS_3

Pagi hari, rutinitas biasa dilakukan Fandi dan Ara.Setelah melakukan kewajiban nya Ara turun ke dapur dan memasak untuk sarapan mereka.


Kembali ke kamar,mandi bersiap untuk bekerja.Fandi yang sudah sedari tadi selesai dengan ritual nya,membuka ponsel untuk melihat jadwal,mata nya sesekali melihat pergerakan Ara yang sedang bersiap.


Belum juga mengajukan resign.Itulah yang ada di batin Fandi. Kali ini Ara memakai rok berwarna coklat,panjangnya di atas lutut lima senti,kaki jenjangnya terekspos sempurna.Kemeja broken white,rambut bagian bawahnya sedikit di buat Curly,tepian nya di tarik ke belakang dan tidak lupa poni nya yang selalu melengkung indah.


"Sudah! Ayo kak turun,sarapan dulu.." Fandi menoleh,matanya membingkai penampilan Ara.


Cantik. Fandi mengikuti berjalan di belakang Ara. Mereka menyantap sarapan dengan hening. Istrinya tidak perlu belajar dan diberi tahu,dia sudah lihai jika hanya mengurus suami.


"Apa ini kak?" sebuah benda tipis,diletakan di depan Ara oleh Fandi.


"Pegang lah,untuk mu" Ara tau itu debit card yang tak terbatas nominalnya.Tapi setau Ara,nafkah nya selalu diberikan tunai oleh Fandi.


"Ini terlalu berlebihan kak,aku tidak mau.Takut"


"Takut kenapa?"


"Takut khilaf!" Ara tergelak sendiri dengan dirinya karna membisikan kepada Fandi.


"Aku ada Ra,tapi yang biasa.Itu untukmu saja"


"aku juga ada kak,yang biasa dan itu cukup untuk ku"


"Sudahlah pegang saja.Kau yang menyimpan nya.Satu lagi, berangkat dengan ku nan_"


"Jangan!!!,kakak berangkat saja dulu.Aku menyusul.Aku belum siap jika yang lain mengetahui"


"Kenapa bisa begitu?"Fandi penasaran dengan Ara,sebagian besar perempuan harusnya bangga dan pamer punya suami seorang pengusaha muda.


"Bisa saja para karyawan menilai ku lain,mereka tidak tau kalau aku dulunya janda.Pacaran saja tidak pernah,nanti apa kata mereka kepada ku jika tahu 'Ara punya hubungan dengan Bos karna harta' Bisa-bisa aku bunuh diri karna bullying"

__ADS_1


Tangan Fandi menggantung mengepal,dia gemas melihat kelakuan istrinya,benar memang kata orang 'Mau sebanyak apapun umur anak bungsu,dia tetap di anggap anak kecil'.


"Tidak ada yang akan berkata begitu Ra!"


"Tetap saja aku belum siap kak,pliz aku naik taxi saja"


Satu yang memang sulit di elakkan,Ara sangat keras kepala.Yoga maupun Azia juga mengakui itu.


🍀


🍀


🍀


"Fan,aku ingin bicara dengan mu sekarang juga!!!" Allan masuk tanpa ketok pintu,langsung menerabas,mendobrak meja Atasannya.


Kali ini dia tidak melihat Fandi bos nya,sahabat.Persetan dengan attitude atau etika.Rasa penasaran nya sudah membuncah,di khianati tentu saja dia merasa di khianati secara tidak langsung.


Patah hati tentu saja,tapi dia tidak mau menggantukan asa nya terlebih dahulu sebelum semua nya jelas.


Dan satu yang harus Allan pikirkan jika semua ini benar,bagaimana cara nya mengatasi hati nya untuk mengikhlaskan gadis yang dia cintai selama ini.


Fandi menyunggingkan alisnya "Kau kenapa?Datang marah,sopan sekali kau menggebrak meja ku,kau ingin di SP Lan?"


"Terserah kau!aku meminta penjelasan mu tentang Ara!"


"Tentang bagaimana?dia istri ku La" Fandi menegaskan kata istri pada Allan.


"Dia gadis yang aku sukai dan cintai sudah lama Fan,kenapa kau menikahinya?"


"Aku lebih berhak,karna aku sudah dari sekolah menyukainya"

__ADS_1


"Dia teman mu dulu?" Fandi mengangguk.


Fandi mulai menceritakan dari awal hingga akhir tak ada yang di tutupi satupun.Sebenar nya Allan sangat sakit,patah hati untuk kesekian kalinya.


Belum juga perang tapi sudah menerima kekalahan telak,hati nya berdenyut nyeri.


"Kau dulu meyukai nya Lan?"


"sangat,aku bahkan di tolak berkali-kali karna dia masih tidak mau berkomitmen"


Fandi menepuk bahu Allan "Maaf,aku sudah mencarinya sejak dulu,bahkan sejak Ara menjadi istri orang aku menunggu kandanya"


Allan menoleh,mengerutkan dahinya "Janda?maksut mu Ara janda?"


"Ara,janda..Kau tidak tahu?kurang teliti mengorek informasi kau Lan, padahal di data ada"


Satu lagi yang baru terungkap bahwa Ara janda "Seperti itu canda, bagaimana gadisnya?" Lemparan bantal mengenai wajahnya.


"Maksut mu apa hah?!" Fandi berkacak pinggang.


"Bahagia kan Ara,Fan..Jika aku mengetahui dia tidak bahagia,aku yang paling terdepan merebutnya darimu.Camkan kata-kata ku ini!!"


Meski terkesan gertakan,tapi Fandi menganggap nya biasa.Dia bukan anak kemaren sore yang harus di arahkan.


"Lan,bilang Susan untuk memanggil Ara ke ruangan ku!"


.


.


_to be continue_

__ADS_1


__ADS_2