Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
Paket


__ADS_3

Hari itu benar-benar hari yang membuat mood Ara berantakan.Tidak menjelaskan meeting kemana dengan siapa, marah-marah tidak jelas.


Ara tertekan dengan perubahan sikap Fandi,air mata nya mulai meluncur di pipi yang sudah di poles se natural mungkin.


Hati nya bergetar dengan kemarahan dan perkataan Fandi,suami nya hanya peduli dengan anak nya saja,hanya anak nya saja yang dia inginkan.


Bahkan suaminya mampu berbicara berteriak lantang dengan nya di depan umum.


"maaf nak" Ara bergumam lirih dengan perutnya.


Ita yang duduk di depan mengetahui kesedihan nona mudanya.Tapi dia berusaha tidak ikut campur.


Perjalanan cukup jauh ke panti,Ara sampai tertidur di mobil.Langit mulai meneteskan air nya cukup deras.


Jelita menurunkan suhu mobil karna memang di rasa suhu semakin rendah.


"Pelan-pelan saja pak,hujan sangat deras.Nona tidur!"


Sopir hanya menganggukkan kepala nya.


Beratus ratus snek box sudah Ara pesan dari kedai terdekat dengan panti,beberapa mainan,baju dan perlengkapan bayi sudah dia pesan,dan hanya mampir untuk mengambilnya.


Dari satu toko ke toko lain sudah di datangi.Jelita di pastikan tahu semua tentang itu.


Beberapa meter lagi mobil sampai di gerbang panti.


"Nonaa...Nonaa bangun,kita sebentar lagi sampai" jelita mengusap lutut Ara.


Ara mengerjap kan matanya.Hawa dingin terasa di sana.Beruntung hujan sudah reda tapi masih mendung.


Mereka bertiga turun dari mobil,dan di sambut anak-anak di sana dengan gembira.


Ara memakai switer nya karna hawa semakin dingin.


Pak sopir membuka bagasi dan menurunkan semua barang-barang.


🍀

__ADS_1


🍀


🍀


Sama hal nya dengan Ara,Fandi pun sedang tidak baik-baik saja hari ini.Mood nya berantakan.Setelah memarahi istrinya, Ara tak bicara sepatah kata pun.


Hanya berpamitan dan mencium tangan nya dan Maria, berpamitan yang tak tahu tujuan nya,pamitan kepada nya atau mamah.


Bersandar di kursi kebesaran nya adalah hal yang biasa dia lakukan ketika sedang penat.Telfon nya berdering "AM" sebuah inisail tertera di sana.


Panggilan itu di abaikan oleh Fandi,namun semakin di abaikan semakin intens ponselnya berbunyi.


"Hallo"


"Fan, tolong!mobilku di tilang di daerah X aku sedang tidak membawa dompet dan surat-surat,salah ambil tas"


"Lalu??"


"Please lah Fan!"


"Aku transfer saja,kalau begitu"


"Ckk..." panggilan pun di matikan.Fandi beranjak dari sana.


Segera menemui dan menyelesaikan lalu pulang,begitu lah pikirnya.


.


.


Setelah mengurus segala kepentingan nya,Fandi ingin kembali ke kantor tapi langkahnya terhenti ketika Ayu memeluk lengan nya.


"Terimakasih.Benar kan kau masih peduli dan sangat peduli dengan ku"


"Lepas yu,ini di tempat umum!"


Ayu tertawa "Kalau sepi boleh dong?!"

__ADS_1


"Jaga bicara mu!"


Fandi melangkah menuju mobilnya,ayu masih mengekor di belakang nya.


"Aku sudah mengirim sapu tangan,dan semua kenangan tentang kita pagi tadi lewat kurir yang aku sewa"


Suara Ayu membuat Fandi berhenti "Kau kirim kemana?"


"Ke rumah,sesuai alamat pada identitas mu."


"Jam berapa kau mengirim itu?"


Ayu melihat jam di pergelangan tangan nya "Kira-kira tiga jam yang lalu,mungkin sebentar lagi sampai?"


"Kenapa kau mengirim nya ke rumah?" Fandi menggoncang bahu Ayu.


"Bukan kah kau yang bilang kemarin.kau sendiri yang akan membuang jauh-jauh kenangan kita?jadi aku kirim ke rumah mu saja"


"ahh shitt!!" Fandi meninju ke udara.


"awas saja kalau Ara sampai tahu,aku tidak akan pernah memaafkan mu yu!"


Fandi masuk ke mobilnya,dan mengendarai nya dengan kecepatan penuh.


Ayu yang masih berdiri di sana tersenyum sinis.Matanya memicing memandang kepergian mobil Fandi yang semakin jauh.


"nona ada paket untuk Tuan"


sebuah pesan masuk di ponsel Ara.


.


.


.


.

__ADS_1


to be continue_


__ADS_2