Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
Tunangan


__ADS_3

Waktu yang dinanti pun tiba,keluarga Yugo membuat janji temu di suatu Restauran ternama berbintang lima.


Reservasi tempat VVIP.Karena ternyata yang datang bukan hanya orang tua Yugo saja melainkan Kakek dan Nenek Atmodjo juga menghadiri itu.


Keluarga Ningrat, umur nya sudah hampir kepala sembilan tapi masih terlihat bugar meski beberapa hari lalu di kabar kan sakit.Paman bibi dan beberapa kerabat Yugo juga dilibatkan dalam hal itu.


Adat Jawa masih melekat dan kental sekali dalam keluarga mereka.Masalah melamar anak gadis orang bukan main-main dan tidak hanya pertemuan dua keluarga saja.


Banyak barang-barang yang disiapkan untuk meminang She,terlebih lagi She bukan dari keluarga biasa.Darah Opa Brahmana mengalir di dalam nya.


"Riza , Hafi ingat ya di sana tidak boleh bandel!" Ara mengingatkan pada kedua anaknya.


Mereka pun mengangguk patuh,setelan kemeja batik berwarna abu hitam senada dengan yang digunakan Fandi dan Opa Brahmana.Terlihat menggemaskan sekali kedua bocil itu.


Sedangkan Ara dan Maria memakai kebaya semi formal,Meski perut Ara sudah terlihat besar tapi kebaya nya masih cukup di pakai tanpa menyakiti calon baby girl.


Fandi dan kedua anak nya menuruni tangga,di bawah sudah ada Maria,dan Opa Brahmana.


"Opa uyut,aku tampan tidak?"


Siapa lagi jika bukan Hafi yang menanyakan itu.Sering membuat orang tertawa.Selain periang dan penyayang,Hafi tidak seserius Riza.


"Kalian tampan sekali,seperti uyut waktu muda"


Semua yang di sana terkekeh melihat kedekatan mereka.Jarang bertemu uyut nya tapi Riza dan Hafi terlihat dekat,karena Ara sering bercerita tentang Opa Brahmana.


Ara dan She turun dari lantai dua menggunakan lift.Bukan Ara yang menggandeng She,tapi She yang menggandeng Ara karena perut buncit nya.


She yang menggunakan dress tujuh senti di bawah lutut berwarna hijau muda terang,berlengan namun di buat jatuh, dengan sedikit bahu terbuka.Rambutnya di cepol sedikit berantakan tapi masih terlihat rapih.


.


.

__ADS_1


"Maaf,mobil sudah siap.Apakah sudah bisa berangkat sekarang?"


Petra,Papah Allan memberi tahu jika mobil sudah siap.Petra yang selalu mengawal dimana pun Opa juga menghadiri.


Semua telah memasuki mobil, tinggal menunggu She saja, sedang mengambil ponsel yang tertinggal.


"Semoga ini keputusan yang tepat nona,saya Papah Allan tidak bisa mencegah nya"


Suara itu membuat She menoleh kesamping,Om Petra lebih tepatnya dia sering menyebut.


"Maaf jika lancang" Petra menundukkan kepala nya.


She mengerti arah pembicaraan Petra, ternyata Allan sudah lebih dulu bercerita kepada Papah nya.


"Maafkan aku om" She membuka pintu dan masuk.


🍀


🍀


🍀


Mendengar orang yang selama ini ternyata dia cintai hendak di lamar laki-laki lain, hatinya hancur,otak nya tidak bisa berpikir jernih.Ingin menghancurkan acara itu dia takut terjadi sesuatu dengan keluarga Brahmana.Keluarga yang berjasa besar dengan kehidupan nya,dengan masa depan nya.


Berkali-kali meneguk minuman beralkohol, berkali-kali berteriak memanggil nama She juga akan percuma.Harapan nya hanya satu,benih nya bisa berkembang di sana.


Ponselnya beberapa kali berdering,namun dia abaikan itu.Fandi beberapa kali menghubungi tapi tak pernah di jawab oleh Allan.


Sudah bukan orang asing lagi untuk Fandi,Allan seperti saudara lelakinya.Harusnya dia juga menghadiri acara bahagia itu.


.


.

__ADS_1


Acara berjalan dengan lancar,kedua nya saling menyematkan cincin sebagai tanda She sudah menjadi tunangan Yugo, Beberapa foto diabadikan di sana.


"Onty,aku dan Riza foto bareng onty dan uncle dong"


Mereka pun foto bersama dengan si kembar berposisi di depan She dan Yugo.


Para sesepuh berkumpul bersama termasuk Fandi.


"Fan, akhirnya Kakek bisa menjadi bagian dari keluarga mu ya.Siapa yang tidak bangga memilik keluarga seperti keluarga Brahmana"


Fandi tersenyum "Tidak Kek,kami biasa saja.Hanya Tuhan yang memudahkan segala urusan kita"


"Entah kenapa,aku senang melihat istrimu.Aura nya beda dari wanita pada umum ny"


Nenek Atmodjo mencubit lengan suaminya.Fandibdan Opa Brahmana yang melihat itu terkekeh.


"Ara Kek.Aku beruntung mendapatkan nya,dia memang janda.Munhkin kakek tahu cerita dia dulu_" Kakek pun mengangguk.


"Dia Alfa woman Kek,bagi ku.Dia segalanya untuk ku"


"Kau tau Atmodjo,aku dulu menentangnya.Tapi entah kenapa setelah bertemu dengan nya,melihat wajahnya saja hati ku luluh"


Fandi tersenyum mendengar istrinya banyak di puji oleh para sesepuh di sana.


Aku bangga padamu Ara,Fahira Feryaldi ku.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2