
Beruntung sekali si kembar,lahir di keluarga Brahmana. Keluarga yang jelas-jelas sudah tahu bibit bebet dan bobot nya tidak di ragukan lagi.
Sejak dalam kandungan sudah di nobatkan menjadi penerus Brahmana Group.Perusahan yang merajai di bidang segala hal.
Nama yang tersebar hampir di seluruh sudut Indonesia,dan mulai di kenal di luar negri pastinya.
Kini mereka sudah hadir di dunia, pekerjaan yang besar pula yang akan menanti pasangan orang tua baru itu.Harus mendidik ke dua anak nya menjadi lelaki yang pintar dan tangguh.Dan tidak lupa juga pendidikan agama adalah nomor satu bagi keluarga itu.
Seluruh media sudah mengetahui akan hal itu karna unggahan Petra di laman sosial media milik Tuan Besar .Hanya saja wajahnya masih di beri emoticon.
Katanya pamali Opa!Jangan dulu,takut Dede nya kenapa-napa.Masih bayik!
Begitu lah kata Ara,Petra dan Opa nya pun menurut saja dengan perkataan cucu memantu nya itu.
Sebagian media sudah ada yang minta jadwal temu.Dan Petra mencatat di gadget yang Petra bawa kemanapun.Tapi kembali lagi kepada cucu menantu nya.Ara masih tidak mau berhadapan dengan media.
Bagi Mamah muda itu,berbicara,di foto,di wawancarai dan masuk televisi,atau sosial media yang lain,adalah hal yang asing dan tidak terbiasa.Sama hal nya dengan Fandi,kehidupan nya sering di sorot media tapi dia bahkan cuek sekali,dan enggan untuk menanggapi nya.
Sudah terlalu lama bayik ke dua ada di pangkuan Opa,mungkin lelaki tua itu sudah mulai kesemutan hingga dari tadi raut wajahnya sedikit aneh.
"Sudah di siapkan namanya Fan?" Fandi yang mendengar itu malah menatap Ara lekat.
"Ahh lama sekali kau Fan!Maria menantu ku tolong angkat bayi ini,tangan ku mulai kesemutan!" Maria Tersenyum menghampiri Opa Brahmana dan mengangkat bayi untuk di pindahkan ke box yang sudah ada.
"Coba beritahu Opa,yang mana yang lahir duluan?" Opa memandang dari kursinya.
"Yang tidak ada tanda lahir nya Opa!" Ara menjawab nya.
__ADS_1
"Tanda lahir?kenapa aku tak melihatnya tadi?" Opa pun penasaran,ingin beranjak dari sofa tapi kesumat tan di tangannya belum hilang.
"Tanda lahir kecil kemerahan,di bawah betis bagian kanan ada Opa,baby yang bagian kiri Opa" Kali ini Fandi yang menjelaskan nya.
Opa yang mengerti itu hanya ber oh saja.
"Kalau sampai besok kalian belum menemukan namanya,aku sendiri yang akan memberikan nama."
"Jangan Opa,aku dan Ara sudah menyiapkan nama untuk mereka"
"Benar begitu Ara?" Cucu menantu nya pun mengangguk membenarkan perkataan suaminya.
"Kalau namanya singkat awas saja,Seperti almarhum papah mu dulu Fandi dan Shelle.Untung saja belakang nya masih pake nama ku coba kalo tidak,tidak ku temukan kalian!"
Opa berbicara dengan akuhnya.Tidak memikirkan di sana ada Maria menantunya.
"Maaf Maria,papah tidak bermaksud menyinggung mu!" Maria yang sudah tahu persis watak mertua nya hanya tersenyum saja.
Tapi sungguh sangat di sayang Bara meninggal pada saat Fandi beranjak dewasa.Dan itu adalah awal dimana Fandi harus berjuang untuk mempelajari bisnis keluarga besar Brahmana,hingga di nobat kan menjadi pewaris tunggal karna hanya dia cucu laki-laki di keluarga itu.
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
Seorang gadis yang baru saja memesan beberapa makanan karna dia kelaparan di kejutkan dengan kedekatan sepasang manusia yang turun dari kereta besi nya dan bergandengan.
Mereka ada hubungan apa,pacaran?Yang benar saja kenapa aku tidak tahu?aku tidak salah melihat kan?Aku pasti salah melihat!Coba sekarang jam berapa?
Gadis itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.
Ah benar saja sudah hampir subuh,tapi mata ku masih melek.Pasti eror nih!
Kepala nya dia pukul sendiri dengan tangan nya.Kaki jenjangnya kembali melangkah ke kamar Ara,dimana kakak ipar nya di rawat.
Ya,benar gadis itu adalah She yang melihat Allan dan Jelita kembali lagi untuk memberikan baju ganti kepada Tuannya.
Shelle kaget dan terkejut melihat pemandangan tadi,pasalnya gadis itu menaruh hati pada Allan sedikit,meski sedikit dan sangat kecil,dia juga punya hati yang pasti akan sakit jika melihat itu.
Ceklek!!
Pintu di buka dan lagi-lagi mata nya ternoda,Allan dan Jelita duduk bersandingan,tangan Allan melingkari bagian belakang pinggang Jelita.
Astaga hatiku,terpotek!!!
Shelle sontak terdiam membeku di daun pintu melihat keduanya.
.
.
.
__ADS_1
.
to be continue_