
"Kamu berkhianat mas,kamu mengkhianati ku.kamu selingkuh mas!!!!"
Suara Ara terdengar hingga ke kamar Maria.Wanita paruh baya itu keluar.Merasa ini adalah masalah pribadi majikannya.Bibi yang tadi hendak mengambil cucian pun menuruni tangga.
Mereka tidak berhak,dan sebisa mungkin tutup telinga dengan apa yang terjadi di dalam kediaman.
"Ada apa ini Fan?" Maria menghampiri Ara,namun mata nya tertuju pada Fandi dan barang yang berserakan di lantai.
"Mah,bantu aku jelaskan ke Ara mah" Maria pun di buat tidak percaya dengan ucapan Fandi,begitu juga Ara.
"Mamah tau ini semua?"
Maria menggeleng "Tidak seperti yang kau pikir Ara sayang" Tangan yang hendak menyentuh pun di hindari oleh Ara,dia menangis dan masuk ke dalam kamar.
Maria mengedikan bahu dan menggeleng kepada Fandi.
Fandi mendengar sesuatu,benar saja Ara sedang mengeluarkan koper nya dan mengumpulkan barangnya di dalam.
Fandi berusaha menghalang-halangi pergerakan istrinya "Sayang,dengar kan aku dulu!Aku bisa jelaskan.Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan sayang!"
"Sayang,sayang dengar kan aku dulu!" Fandi memindahkan baju di koper Ara mengembalikan ke lemari.Hingga Ara sendiri cape,baju nya terus berputar.
"aku harus dengar kan yang bagian mana?!!!" Ara benar-benar sudah di selimuti emosi,suara nya menggema di ruangan itu.Tangan nya menangkup wajah yang sudah basah,air mata nya terus mengalir.
Aakhhhh... lagi-lagi perutnya kram.
Akhirnya Fandi memeluk istrinya, menyalurkan ketenangan.Dia takut terjadi sesuatu dengan calon anak-anaknya.
"Tenang dulu sayang,ini semua salah paham" Fandi mengusap punggung Ara yang terisak tangis.
"Beri aku waktu mas, Tinggalkan aku sendiri!!!" Namun Fandi tak juga beranjak dari sana, terpaksa Ara yang mencoba berdiri dan keluar.Langkahnya terhenti oleh Siti yang hendak memberikan sesuatu.
"kenapa sit?" Ara menyeka air mata nya.
"Maaf nona,barangkali penting" beberapa carik kertas diraihnya,Siti kembali ke belakang.
__ADS_1
Ara menggeleng melihat kertas struk itu.Beberapa nota bill restoran,bukti cek in hotel,dan beberapa puluh juta bukti transferan.
Kembali ke kamar dan meraih tas nya
"Ara!" Fandi mendekat.Ara meraih tangan suaminya dan meletakkan kertas itu.
Kaki nya melangkah dan Brugk!!...
"Sayaaang!!"
"Araaaa!"
Maria dan Fandi bersahutan,mereka terkejut ketika Ara jatuh dan tak sadarkan diri.
🍀
🍀
🍀
Kehamilan baru dua puluh delapan Minggu,bisa melahirkan dini jika tidak secepat nya di tangani medis.Untung saja bayi dan Ibu nya sangat kuat,sehingga bisa bertahan.Begitu lah penuturan dokter obgyn di sana.
Kini Ara sudah tersadar,namun belum mau berkomunikasi,tidurnya saja miring kiri membelakangi siapapun yang menjenguk nya.
Tubuhnya naik turun,di pastikan dia masih terus menangis,sedari tadi.Di sentuh saja tidak mau dan menghindar,terlebih lagi jika itu suaminya Fandi.
Fandi mencoba mencondongkan wajahnya untuk melihat wajah istrinya,tapi Ara makin menyelipkan wajahnya ke bantal.
"Jangan kemiringan,kasian Dede yang satunya kecempet sayaang" Ara yang mendengar itu membenarkan posisi nya,tapi tidak dengan pandangan nya yang masih membelakangi orang-orang.
"Pulang sana!!!Urusi pacar mu saja!" Suaranya bergetar.Fandi menghembuskan nafas kasar.
"Bagaimana mungkin aku punya pacar,aku kan punya istri yang cantik,dan dua anak kita,jagoan ini" Fandi mengusap perut,dan Ara sedikit bergerak menepis dengan tangan nya.
"Dia anak ku,aku yang susah payah mengandung"
__ADS_1
"Iyaaa,dia anak mu.Kamu ratunya" Fandi menuruti saja kemauan Ara.Pasalnya dokter tadi bilang buat mood ibu hamil baik agar tidak kram,dan kontraksi dini.
"Ra,mas mau jelasin semuanya" Ara diam,namun telinga nya mendengar kan.
"Ok,jika tak mau menjawab.Mas anggap kau mau mendengarkan penjelasan mas ini"
Fandi mulai menceritakan semuanya,dari mulai bertemu Ayu Mahesa,diner,cek in,hingga mengantar ke rumahnya.
Dari sana lah Ara tau bahwa mertuanya,Allan,dan Jelita juga mengetahui semua nya dari awal.
Ara sangat sakit hatinya,ternyata Jelita yang sudah di anggap seperti adiknya pun mampu mengecewakan nya.Ara kembali menangis terisak dalam.Bukan tidak kenal,Ara kenal sekali dengan Ayu Mahesa,kekasih Fandi beberapa tahun silam mungkin.Dia tak pernah tahu mereka jadian,hanya saja kemana-mana mesra dan seperti sepasang kekasih.
Barang-barang yang ada di dalam dus itu benar adanya,tapi Fandi tak pernah melakukan sejauh itu,itu hanya akal-akalan Ayu saja,memang pernah tidur bersama,tapi hanya semi saja yang mereka lakukan.Tidak pernah terjadi penyatuan.Dan itu dulu.
Mengapa Ayu datang kembali,padahal dia sudah sukses dengan usaha kosmetiknya di luar pulau.Karna Ayu tahu Fandi sekarang sangatlah sukses,dan mereka tidak pernah ada kata putus.
"Kalau begitu ceraikan aku,selesaikan masalah mu dulu."
"Tidak akan!"
"Aku butuh waktu, untuk menerima ini!" Ara sudah sedikit tenang.
"Tapi Ra,jika untuk melepas mu,sampai nyawa ku pertaruhkan aku rela yang penting aku dengan mu"
"Aku akan kembali jika masalah mu sudah selesai dengan nya.Ini penawaran terakhir"
Fandi sudah tak bisa berkata lagi.Istrinya sangat kuat pendiriannya,terpaksa dia menuruti.
.
.
.
to be continue
__ADS_1