
Merasa di bohongi bertahun-tahun oleh suaminya,Ara pun sedikit kecewa tentang ini.Tidak dengan cara jujur,dan terucap oleh suami nya sendiri melainkan dari temannya.
Memang pada akhirnya dia juga mencintai Fandi,hingga melahirkan Riza dan Hafi dan kini pun sedang mengandung anaknya yang ketiga.Tapi rasa yang amat kecewa masih ada di sana.
Bukan nya duduk di sebelah suami nya bersebelahan di atas ranjang,tapi Ara duduk di sofa dan menyalakan televisi.meraih cemilan dari toples.
Fandi menghela nafas,istrinya memang seperti ini jika marah.
Cepat diakhiri atau seperti ini terus kau yang bisa merayu nya Fand.
Begitulah dirinya berbicara dan menyemangati diri sendiri.Dengan mengalah dan menurunkan egonya Fandi beralih duduk di sofa bersebelahan dengan istinya.
"Sayang aku tidak mau ya seperti ini,diam terus menerus hanya karena sesuatu yang kau dengar tanpa tahu penjelasannya!"
Fandi memaksa Ara dan memeluk pinggangnya,untuk tidak menghindari.
"Aku jelaskan!Ya memang penjebakan itu sengaja dan aku terlibat.Itu semua demi kamu,_"
Wajah Ara cemberut melirik suaminya,
demi aku?yang benar saja.Aku saja korban nya!
"Itu semua demi kamu.Demi kamu yang aku cintai,aku tidak tahu dengan cara apa untuk mendapatkan kamu secara paksa.Kamu tahu kan dari cerita mamah dulu,aku mencintai mu dari masa sekolah_"
Kedua tangan fandi menggamit kedua pipi Ara untuk menatap dirinya.
"Dan aku benar-benar menunggu mu saat kamu tidak lagi dengan Reno.Aku mencintaimu sejak dahulu Fahira Feryaldi Brahmana.Aku merasa tidak punya kesempatan mendekati mu saat kau berubah dingin,terlebih lagi kau yang trauma dengan pernikahan.Aku mohon percaya padaku,aku memang sengaja melakukan itu untuk mu,untuk kita.Untuk kita bisa seperti sampai sekarang.Jebakan itu benar dan lebih benar nya lagi,aku sangat mencintaimu A-ra"
__ADS_1
Satu kecupan mendarat di bibir Ara.
"Aku mencintaimu Fahira,aku mencintaimu."
"Aku tidak masalah dengan itu mas,yang jadi masalah nya aku mendengar dari orang lain bukan mulutmu sendiri yang bercerita!'
"Maaf,bukan tidak mau cerita.Tapi aku menunggu waktu yang tepat"
"Kapan?sampai kita tua punya cucu?atau sampai aku sudah dikubur kau akan bercerita di pusara ku?"
Sedikit lega hati Ara,apa yang ingin dia ucapkan akhirnya keluar semua.
"Hustt!! jangan bilang seperti itu,kita akan tua bersama.Aku belum siap bercerita takut kau sperti ini sayang,marah"
"Apalagi yang aku tidak tahu tentang rahasia mu,apa kau punya perempuan atau anak lain selain twins dan ini? cepat katakan sebelum aku dengar dari orang lain!"
"awas saja jika suatu saat ada yang seperti ini lagi!dan aku tahu dari orang lain!"
"Sudah,hanya itu aku berjanji"
Lagi-lagi kecupan yang amad banyak mendarat di wajah Ara.
Bibirnya menyesap dan ******* sangat dalam di bibir istrinya,tangan nya mulai bergerilya ke dalam sana.
"Sebentar ya sayang?"
Nah kan nglunjak si Fandi,sudah di maafkan dan meminta jatahnya lebih awal.
__ADS_1
🍀
🍀
🍀
"Akhh..mashh pe akhh..hmmmpt" Fandi terus memperdalam hentakan nya,kandungan Ara sudah mendekati enam belas Minggu artinya sudah cukup kuat untuk melakukan hubungan ranjang.
Bibirnya terus memagut,hingga bertukar saliva.Fandi di buat candu dengan kemolekan tubuh istrinya, kehamilan kali ini Ara terlihat sangat berisi.
Dua buah kenyal kesukaan suaminya itu pun semakin besar dan sangat lentur,padahal sudah lama tidak mengASIhi tapi masih keluar.
Fandi pun memposisikan dirinya seperti bayi,dan menelan air yang keluar dari sana, senjata nya terus bekerja menghujam dan memperdalam.
Memaju mundurkan milik nya hingga Ara kewalahan mengimbangi aksi suaminya.
Beruntung ruangan kamar itu kedap suara, suara Ara sangat merdu hingga Fandi menggila.
"Sore berkeringat..Argh..Argh!" suara Fandi berbisik di telinga Ara.
Ara menekan kepala Fandi,dan kedua nya mencapai puncak bersama.Yang katanya hanya Sebentar nyatanya hampir Adzan magrib baru mereka mengakhiri nya.
.
.
.
__ADS_1
to be continue