Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
Yugo Wira Atmodjo


__ADS_3

Malam menjelang,Semua keluarga berkumpul di ruang tengah,termasuk Jelita dan suster Nera.


Sembari menunggu hidangan makan malam di siapkan,Mereka berdiskusi masing-masing membicarakan entah apa topik pembicaraan.Ara dan Jelita yang sedang bermain-main dengan Riza dan Hafi.


Mereka dikejutkan dengan Riza yang tiba-tiba membalikan badannya.


"Woahh! anak mamah sudah bisa tengkurap" Wajah Ara terkejut,matanya membulat.


"Berapa bulan sih kak,kenapa secepat itu?Ya ampun baby bolu nya Onty!" Tidak mau kalah She turun dari sofa dan menggendong Riza.Mencium,mencubit hingga bayi itu merasa risih dengan She.


"Nona,Riza risih jika nona terlalu gemas"


"Tidak apa,memang aku ingin menggigit pipi gembul ini Ita.Aku gigit ya kak Ara.Coba dia nangis tidak!"


"Coba saja She!,nanti aku lempar asbak ini dari sini!" Fandi yang sedang main catur di sudut ruangan mendengar She berbicara.


"Ishhh!!Telinga nya mendengar kan saja!" She menggerutu, Ara dan mamah nya tersenyum melihat itu.


Suara bel berbunyi.


"Aku saja yang membuka kan!" Teriak She,menahan mereka semua.


Huhuaaaaa... She lari tunggang langgang setelah benar-benar menggigit pipi Riza, padahal tidak dengan gigi,hanya dengan bibir yang di apit,tapi kulit bayi masih sangat tipis hingga menimbulkan kemerahan disana.


"Heiii!!Awas saja kau ya She,nanti kalau kau kembali ya,kita buat perhitungan" Fandi beranjak dari duduk nya.Filling nya kuat,setelah Riza pasti Hafi akan menangis.


Benar saja Hafi menangis sejadi-jadinya.Ara mengambil Hafi dan Fandi mengambil Riza,untuk di gendong,keduanya menaikki tangga menuju ke balkon.

__ADS_1


"Kalian makan malam duluan saja nanti sama Mamah,tidak usah menunggu ku" Jelita dan suster Nera pun mengangguk.


"Cup..cup sayang,onty nakal yaa.Riza jangan cengeng ya kak,nanti adeknya ikut nangis" Fandi berbicara dengan bayinya,yang hanya di balas kedipan mata.


"Nanti kita balas onty ya kak,kita sayang onty,cium gemas onty nya yaa" Sama hal nya dengan Fandi, Ara pun menepuk pelan punggung anaknya.


Keduanya sudah mulai reda tidak menangis lagi.


Mereka berdua berdiri di balkon lantai dua,tatapan mata nya tak sengaja melihat halaman depan.She dan teman laki-lakinya.


"Itu siapa mas?"


"Mas juga tidak tahu sayang"


"Lah,kenapa meluk She?"


Fandi yang tahu itu juga tak membalas ucapan Ara.Matanya hanya menatap lekat, memperhatikan interaksi adiknya dengan seseorang pria,mungkin teman,mungkin juga kekasih nya.


"Hai.." seseorang di sebalik pintu mengangkat tangan nya menyapa She yang membuka kan pintu.


"Masuk,atau mau di gazebo depan?" She mengacungkan telunjuknya ke gazebo yang ada di halaman depan.


"Disana kayanya lebih asik kan She?"


"Ok.." She pun berjalan beriringan dengan pria yang baru datang itu.


"Nyasar gak kesini?"

__ADS_1


"Gak lah,sesuai share lokasi di ponsel.Dan aku baru tahu kalau kamu adik kandung Fandi Brahmana"


She terkekeh,dari dulu sampai sekarang She selalu ada di bayang-bayang nama besar kakak nya.


Jika tahu keluarga Brahmana pasti tau dedengkot nya,dan pasti lebih tau lagi real life story keluarga ini.


"Kau mengenal keluarga ku Yugo?"


Yugo Wira Atmodjo,Cucu laki-laki keluarga Atmodjo.Keluarga ningrat,meski Tuan Atmodjo nya sendiri hanya abdi dalem tertua di sana.


Berteman dekat dengan She,sempat satu fakultas yang sama di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.Mereka kembali dipertemukan di Ibu kota.


"Siapa yang tidak mengenal Kakek Brahmana,mungkin kakek ku mengenal.Tapi tidak dengan Kakek Brahmana.Kakak mu lebih mengenal Kakek ku bisa jadi"


Klakson mobil terdengar dari depan pintu gerbang.Security membuka nya,mobil pun melaju masuk.


She melihat mobil siapa yang masuk "Yugo, bisakah aku minta tolong!Peluk aku sekarang!"


"Hah,apa?" Yugo kaget mendengar ucapan She.


"Peluk aku sekarang!!" Suara She pelan namun dapat terdengar jelas oleh Yugo.Dia pun merapatkan tubuhnya ke samping She,tak lupa tangan nya terulur di pinggang gadis itu.


.


.


.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2