Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
Bertengkar berbisik


__ADS_3

Lima belas menit sebelumnya


Langkah tegap itu terdengar menyusuri koridor lorong rumah sakit.Nafas nya memburu.


Bodohnya karena terlalu tergesa-gesa hingga tidak bertanya di ruang pendaftaran,langsung masuk dan mencari ruang bersalin.Beruntung pria itu bertemu security.


Tiap kamar dia lihat melalui kaca yang terbuka sedikit.


Maksut hati ingin membuat kejutan kepada istri nya,sampai Bandara dia langsung pulang. tiba di rumah tidak ada orang.Hanya dua art dan penjaga di depan pintu gerbang.


Ponsel nya memang kehabisan baterai,ponsel Allan pun begitu.Setelah mengetahui dari penjaga rumahnya,Fandi memerintahkan Allan untuk putar balik menuju rumah sakit,istrinya sedang berjuang untuk anak-anak nya bisa melihat dunia.


"Lebih cepat lagi bisa kan Lan!!?"


Allan hampir stress dengan kelakuan bos nya,dari rumah duduk nya tidak bisa diam.Berganti posisi dan terus berdecak kesal.


Melebihi dari orang yang akan melahirkan!


"Jangan ngebatin Lan!Buruan,itu lampu hijau ayo terjang!"


Chittt!!!!


Allan menginjak remm mendadak karna tidak bisa mengejar lampu hijau.


"Bagaimana sih Lan,Rumah sakit sebentar lagi sampai.Begitu saja tidak bisa!!!"


Fandi keluar dari mobil.Memutuskan untuk berlari karna di rasa waktu nya sudah tidak cukup lagi jika menunggu lampu hijau,sedangkan jalanan macet. Traffic light juga tidak mungkin semenit.


Allan yang melihat bos nya keluar hanya pasrah.


"Ya,mending lari saja sana! Brisik,dia pikir ini jalanan bapak moyang dia apa.Se enak jidat nya dia sendiri meminta trabas lampu merah!"


Allan menggerutu dengan tingkah bos nya.Walau hanya berani berbicara di belakang saja paling tidak sudah mengurangi kekesalan nya.

__ADS_1


Langkah nya cepat menyusuri tiap lorong rumah sakit.


ayss bodoh sekali aku,tidak bertanya dulu di depan.


Setelah mencari-cari,dia bertemu security di depannya.


"Ahh selamat malam pak,maaf ruang bersalin VVIP dimana ya?" Percaya diri sekali bukan?langsung bertanya ruang VVIP.Bagaimana kalau istrinya hanya di ruangan biasa,karena kemauan Ara tidak bisa di tebak.


Security memberitahukan nya,berbicara dengan jelas dan lugas.


Beruntung Fandi langsung menemukan ruangan istrinya.Ternyata benar dugaan nya,ara menempati ruang VVIP.Dia masuk dan bergantian keluar dengan Maria dan Jelita.


🍀


🍀


🍀


Jelita menoleh ke arah suara itu,begitu pula Maria yang dari tadi berjalan bolak balik di pintu ruangan Ara.


"Pak Allan?" mata Jelita mengerjap,memandangi dahulu orang di depan nya itu.


"Iya, Bagaimana dengan Ara,Jelita?" Allan mengulangi lagi pertanyaan nya.


"Oh iya,nona sedang di dalam"


Allan pun akan masuk.


"Ehh Lan,jangan!kau duduk saja di sana!" Maria mencegah nya.


"Dokter hanya mengijinkan satu orang,dan itu suaminya!Fandi sudah di dalam"


Allan tersadar dengan tingkah nya.Sebenarnya Allan sama saja dengan Fandi,khawatir akan kondisi Ara.

__ADS_1


"Oh iya maaf Nyonya" Allan pun duduk bersebelahan dengan jelita.


"Ehekmm!! ternyata masih sekhawtir itu dengan nona?" suaranya lirih tapi bisa terdengar oleh Allan.


Allan memang bodoh,tidak menyadari di sana ada Jelita,terlalu tampak sekali tingkah konyol nya.


Dirinya bingung,apa yang harus di ucapkan ke Jelita sebagai alasan.


"Itu hanya bentuk pengabdian ku kepada nya ta,sama seperti mu.Mengkhawatirkan bos mu,aku juga begitu"


"Tapi dia punya suami!"


"Kau juga akan menjadi milik ku,kenapa kau mengkhawatirkan nona mu?"


"Kau normal kan pak?tidak sedang cemburu dengan perempuan?"


"Tentu saja!Kau ingin mencobanya?"


"Jangan macam-macam!"


Mereka terus berdebat dengan pertengkaran yang berbisik.


Terlalu bertele-tele,bilang saja kau cemburu dengan Ara kan?


Hanya dalam hati tentu nya perasaan itu di tanyakan,mana berani Allan langsung bicara,sedangkan tak jauh dari mereka ada nyonya besar.Bisa jadi bahan bully an nanti.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2