
Sudah dua bulan berlalu setelah acara empat bulanan,semua kembali seperti sedia kala.Menjalani rutinitas seperti biasa.Kini perut Ara semakin membuncit,ruang gerak nya pun terbatas.
Mengandung dua bayi sekaligus adalah anugerah sangat luar biasa.Keturunan Brahmana yang selalu di nanti.Membuat kesehatan Ara sangat terjaga oleh seisi rumah.
Maria yang mendadak menetap di Ibukota,menjadikan ia mertua yang siaga bila suatu ketika Ara meminta apapun.Fandi yang selalu bolak balik antar daerah demi pekerjaan yang semakin maju.Perusahaan nya berkembang sejak pernikahan nya publish.
Ternyata calon anak nya pun membawa rejeki yang begitu hebat di keluarga Brahmana.Beberapa proyek slalu dia dapat dengan mulus dan mudah.
Allan selalu mendampingi nya,bukan tidak mampu.Fandi jauh lebih cerdas,hanya saja sering membuat keputusan mendadak,sedangkan jika ada Allan.Allan lah yang selalu mengingatkan.
Ara sudah bisa bepergian tanpa harus banyak pengawal.Setelah Reno divonis penjara tujuh tahun dan tiga bulan.Keluarga Brahmana sedikit lega meski tidak sesuai ekspektasi.Harusnya Reno di penjara lebih dari sepuluh tahun.
Ara dan Maria sudah mulai mencari perlengkapan bayi.Segala pernak pernik bernuansa laki-laki di belinya.Termasuk kaos kaki dan tangan berwarna kuning,biru,merah,dan abu.
"Kenapa semua nya lucu-lucu sih mah?" matanya berbinar melihat satu box besar baju bayi.
Maria tersenyum "Ingat Ara,pakaian seperti ini hanya di pakai hingga tiga atau empat bulan saja,jangan membeli memburu nafsu ya?"
"Iya mah..." Bukan nya pelit,Maria memang benar,gurita, popok dan perlak hanya di pakai sebentar.
Dua kantong besar,Ara memilih perlengkapan bayi nya.Wajah nya berbinar puas,bisa memilih untuk bayi nya nanti.
"cape Ra?" tanya Maria
__ADS_1
Ara mengangguk,tangan nya sambil memegang pinggangnya.
"Sabar non,bentar lagi Tuan Allan datang.Aku sudah menelepon nya" Kata Jelita.
Ara merasa aneh dan terkejut
"Loh,kenapa Allan?"
"Iyaa,kata Tuan muda ada meeting dadakan.Jadi tidak bisa menjemput nona ara.digantikan Tuan Allan"
Beberapa waktu lalu Fandi menelepon Jelita,bahwa dirinya sedang ada pertemuan.Nanti Allan yang akan menggantikan.
Kenapa mas Fandi sendirian meeting,tumben sekali tidak dengan Allan.
Perasaan bumil sedang tidak enak memang,atau hanya dugaan nya saja.
Sepanjang perjalanan pulang,Ara hanya diam mengamati jalanan dari kaca pintu.Firasat nya tidak enak,hatinya terus menerka-nerka.Tidak biasanya suami nya meminta ijin tidak dengan nya,tapi dengan jelita.
Meeting,Allan pun tidak mendampingi.Meeting dengan siapa dan dimana?
Ara melihat ponsel nya yang tak ada satupun pesan dari Fandi,panggilan tak terjawab juga tidak ada.
kenapa malahan menelepon Jelita?!
__ADS_1
Terlalu overthinking sekali Ara, padahal sudah ada Allan dan mama nya disitu.
"Allaan,Fandi meeting dengan siapa?" pertanyaan itu membuat Allan menegang tiba-tiba.
Bos nya memang tidak menjelaskan banyak kepada Allan,dia hanya berpesan kawal dan antar Ara pulang sampai ke rumah.Tapi setidaknya Allan tahu dimana Fandi sekarang.
Tidak hanya Fandi,Jelita bahkan juga mengetahui nya.Tidak mau terlibat dan ikut campur lebih dalam Jelita melengos ke arah jendela untuk menghindari tatapan Allan yang seolah-olah meminta bantuan.
"Maaf Ra,iPad ku tertinggal di kantor.aku lupa" ya,lebih baik berbohong pikir Allan.
Maria yang merasa menantu nya agak bersikap lain pun menengaih.
"Sudah,nanti kalau Fandi pulang kita tanyakan ya Ara?!"
Tangan nya mengelus punggung Ara.Dan Ara mengangguk mendengar penuturan dari mertuanya.
.
.
.
to be continue
__ADS_1