
Merasa Jelita berperan banyak dalam penyekapan Ara,Fandi menyetujui saja keinginan istrinya.Benar saja kedatangan Jelita membuat Ara lebih sering bersenda gurau.
Memang Fandi punya She saudara perempuan nya,hanya saja dia jarang ke kediaman Brahmana karna harus mengurus usaha,di kota kelahirannya.
Selain Ara dan Jelita ternyata Maria juga sering bergabung dengan mereka, kadang kala Ara sampai tertidur di Gasebo karna terlalu asik mengobrol.Sejauh ini Fandi belum protes akan waktu bersama nya.
Pekerjaan yang banyak membuat dia lupa diri,dan tidak begitu memperhatikan Ara.Untung saja ada Jelita,dari mulai membuat susu, menyiapkan keperluan,dan mengurus kebutuhan Ara..
Beberapa hari lagi acara empat bulanan di adakan di hotel Brahmana.Beberapa kamar sudah di sediakan untuk keluarga besar mereka.Keluarga Brahmana turut serta dalam acara itu,mereka sengaja jauh-jauh datang ke Indonesia hanya karna undangan Opa.
Hari ini acaranya fitting baju,Maria sudah memilihkan tiga baju untuk menantu dan anak nya.Tidak couple tapi senada,mini dress berbahan ceruti berwarna peach untuk acara formal,gamis broken white untuk pengajian,dan baby blue semi kebaya untuk siraman.
Ara sangat antusias hingga perjalanan pulang tertidur di mobil.Tubuhnya bersandar di jog mobil,kakinya terulur.Beruntung di sayangi dan di cintai konglomerat,hingga di masa kehamilan nya dia tidak mengalami kecapean.
"Itaa..tadi Ara sudah minum susu nya?" tanya Fandi pada Ita yang ada di jog belakang.
"Maaf Tuan,Nona minta ganti rasanya.Kata Dede bayi bosan!"
"Anak ku bilang begitu?" dahi nya mengerut,Aneh saja istrinya anak dalam perut sudah bisa bicara.
"Bukan.Nona Ara yang bilang" menyesal Ita bercerita.Sudah tahu yang aneh adalah nona muda nya.Mana ada bayi masih dalam perut berbicara.
"Ada-ada saja,baru bisa nendang sudah bisa bicara!Dasar mau nya mamah nya saja." Tangan Fandi mengusak rambut Ara gemash.
__ADS_1
Maria yang ada di jog depan menggeleng,melihat interaksi menantu dan anaknya dari spion dalam.
🍀
🍀
🍀
Mobil memasuki pekarangan.Hari sudah senja,malam gelap menyapa.Segala rutinitas segera di akhiri.
"Mas,bibi di bawah masak apa ya untuk makan malam?" Fandi yang sedang membuka gawainya di kejutkan istrinya yang tiba-tiba duduk di sebelah.
"Telfon aja pake wairless ke dapur Ra" tangannya berselancar di layar,mengoreksi persiapan gedung. Tidak lain,Allan lah yang mengurus semuanya.
"Aku pengin makan gulai daging mas,ngilerr sampai nih" Bibir nya mengecap membayangkan makanan itu,mata nya menerawang.
"ngidam???"
"He'eem..mungkin" Ara memasang wajah yang sendu.
"Mas ke bawah ya,nyuruh bibi masak gulai?"
"Aku pengin masak sendiri mas!"
__ADS_1
"Nanti cape sayang"
"Dibantuin mas lah"
"Aku??mana bisa?aku bisa nya makan,tidak bisa memasak." padahal batinnya sudah menduga,ternyata benar saja istrinya menginginkan hal yang aneh.
"Emang ada daging nya mas?"
"Pasti ada,mamah slalu menyetok belanjaan di kulkas,demi ngidam nya cucu kata nya." tangan nya mengusap perut Ara.
"Mas ke bawah,bilang bibi siapkan perlengkapan dulu.Nanti aku yang masak_"
"Kamu gak mau kan bantuin aku mas?!" Ara melengos memasuki kamar mandi.
Fandi yang tahu istrinya mulai drama pun berlalu ke bawah.Akan berkepanjangan jika meladeni ibu hamil.Moodian,susah di tebak,dan pasti lawannya serba salah.
Padahal belum bilang iya atau tidak,tapi sudah mengambil keputusan sendiri.
Fandi hanya menghembuskan nafas kasar.
.
.
__ADS_1
.
to be continue_