Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
Akrofobia


__ADS_3

Akrofobia,Fobia atau ketakutan ketinggian.Kecemasan,stress,dan panik yang dirasakan oleh Ara sekarang.Pesawat nya sudah terbang beberapa puluh menit yang lalu.Tapi dia masih mencari posisi duduk yang nyaman.


Fandi masih marah soal mimpi itu,dari rumah hingga saat ini dia masih tidak berkata sepatah kata pun kepada Ara.


Sikapnya terendus oleh Maria,tapi ia hanya menggeleng saja.Maklum pengantin baru,begitulah fikiran Maria.


Bulir-bulir keringat mulai terlihat di kening Ara,jantung nya berdetak lebih cepat ketika dia melirik ke bawah sana lewat jendela.


Nafas nya naik turun,berhembus sangat kasar.Berusaha untuk memejamkan mata nyata nya masih saja tetap sama.Kepanikan yang berlebihan.


Hugk! tangan nya menutup mulut,seperti nya mual sudah mulai terasa,perutnya bergejolak.


Fandi yang berusaha masih cuek dan memejamkan mata hanya mengintip sedikit melalui celah ekor matanya.


Wajah Ara sudah pucat pasi,padahal masih kurang lebih empat puluh lima menit lagi pesawat ini mengudara.


Hugk!!! lagi-lagi Ara menahan mulutnya,dia memutuskan untuk ke toilet.


Langkah jenjang nya melewati Fandi yang terlihat tenang,sama sekali tak menghiraukan Ara.


Fandi menoleh,ketika Ara sudah melewatinya.Hanya terlihat punggung Ara saja,lalu menghilang masuk ke dalam toilet.


Benar-benar jahat pria itu,sudah tau aku tidak bisa naik pesawat,katanya akan mencari cara.pembohong!!! Ara menggerutu di dalam toilet.


Setelah membuang isi dalam perut,Ara belum juga merasa lega.


"Mbak maaf ada yang bisa saya bantu?"


Seseorang pramugari cantik nan anggun menghampiri Ara,menawarkan bantuan.Tapi Ara menggeleng.


Lagi,sudut mata Ara melirik jendela.Seketika dunia nya seakan-akan berputar dan tubuhnya terkulai lemas di bawah.


Brugkk!!

__ADS_1


Fandi yang mendengar suara itu langsung menoleh ke sumber suara.Mata nya membulat sempurna.


"Berhenti,dia istri saya.Biar saya yang mengangkatnya" Fandi meneriaki seorang pramugara yang hendak menolong,dan mengangkat tubuh Ara.


Beruntung sekali di dalam kabin kelas ini ada seorang dokter ,yang di tugaskan untuk ke luar pulau.


"Sepertinya selain mabuk udara dia juga fobia ketinggian,biarkan istri anda beristirahat,itu akan lebih baik untuk tubuhnya"


"Fobia ketinggian?" Fandi bergumam tapi masih terdengar oleh dokter itu.


"Anda tidak tahu istri Anda fobia ketinggian?" Fandi menggeleng pelan.


Kenapa tidak bercerita,jika fobia ketinggian?


🍀


🍀


🍀


Pesawatnya sudah mendarat,Ara tak kunjung membuka mata nya,alhasil sebuah brangkar membawa nya turun dan langsung memasuki ambulans.


"Hanya kurang cairan saja,sebentar lagi pasti siuman."


Tidak di pesawat tidak di rumah sakit,sama saja sebentar lagi pasti siuman.


Fandi sudah panik sedari tadi dia melihat Ara pingsan.


"Bangun Ra,kita sudah sampai di ibu kota!"


Tangannya menggenggam jemari Ara,yang sudah tidak pucat lagi karena terisi infus.


"Aku janji tidak akan mendiam kan kamu lagi,ayolah buka matamu!" di kecup lah genggaman tangan nya.

__ADS_1


"Ara,bangun!!!kau tidak ingin aku marah lagi kan.Bangun aku mohon!"


Antara menyesal dan takut saat ini yang Fandi rasakan.Kemarahan nya menguap begitu saja,yang ada hanya kecemasan.


Tak berapa lama, akhirnya Ara mengerjap kan mata nya.Dia tahu ada seseorang menggenggam jemarinya.


Digerakkan perlahan jemari nya,Fandi merasakan pergerakan Ara,matanya yang tadi mengantuk terbuka.


"Raa...sudah bangun?"


"aku haus kak." Fandi segera meraih gelas yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.


"minum dulu Ra!"


Mata nya memicing,memindai cahaya dan ruangan.


"Ini rumah mu kak?"


"Ini rumah sakit Ra,kau tidak sadarkan diri beberapa saat lalu.Nih lihat,kau bahkan membuat ku cemas,hingga harus di infus."


Ara mengangkat tangannya,melihat sudah ada jarum infus dan selang melekat dan plester di sana.


"Kenapa tak bilang jika fobia ketinggian?!"


"Sebenarnya,bisa dikendalikan jika aku di ajak mengobrol.Itu bisa sejenak melupakan fobia ku.Tapi aku di diamkan saja sejak dari rumah.Aku harus bagaimana?" matanya melirik pria di sebelahnya.


"Kau masih berhutang penjelasan tentang mimpi mu semalam.Jika sekarang aku bicara dengan mu,karna aku terlalu mencemaskan mu.Bukan berarti aku luluh karna aku mencintaimu.Itu bukan kelemahan ku!!Dan jangan di jadikan senjata untuk mu.Ingat itu!!" panjang lebar Fandi menjelaskan.


galak sekali. gumaman itu terdengar oleh Fandi.


"apa kau bilang?"


Ara segera menggeleng "tidak ada." matanya terpejam kembali.

__ADS_1


_to be continue_


__ADS_2