Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
Keanehan Ara


__ADS_3

Meninggalkan Allan sendiri di taman kota adalah pilihan yang paling tepat bagi Fandi.Mobilnya melaju cepat menyusul Ara yang sudah sedari tadi menghilang.


Memarkirkan,dan berlari ke apartemen.Berharap Ara di sana dan tidak menghilang.Fandi takut kehilangan atau di tinggal pergi oleh Ara.


Mendapatkan kan nya tidak susah,tapi menemukan Ara hingga bertahun-tahun,terlebih lagi menunggu hingga dia menjadi janda.


Bukan perjalanan yang sebentar bagi Fandi.dia tidak akan pernah lupa.


Pintu terbuka, Langkah nya panjang menuju kamar mereka berdua.Benar saja Ara sedang duduk di bawah dan memeluk lutut nya.


"sayaang.."


"aku sudah bilang,jangan nikaih aku kalau akan seperti ini.Aku belum siap untuk menikah lagi,tapi kamu memaksaku hanya karna ingin bertanggung jawab jika aku hamil atau tidak, padahal belum jelas kan?"


Ara menangis histeris,dan memukuli Fandi.


"Aku takut akan komitmen,aku takut rumah tangga ku seperti dulu lagi,aku takut cerai lagi,dan aku takut menjadi jan_"


"Hustttt!!!!Tidak akan.Tidak akan pernah.Dengarkan aku dulu!"


Fandi memeluk Ara menyalurkan energi,dan menenangkan nya.Tangan nya membelai surai indah itu.Ara yang sedari tadi sudah menangis hingga nafas nya tersengal,sedikit tenang saat ini.


"Dengar! Perempuan tadi pagi anak kolega opa yang ikut pulang dengan kita.Dan yang Allan bicarakan itu,opa memaksa ku untuk bertunangan dengan nya,tapi aku menolak nya."


Fandi mengusap air mata Ara,menciumi wajahnya. "Cuma kamu yang aku cintai,dan aku inginkan Ra,tidak yang lain.Tidak akan pernah!"


Ara memandang wajah Fandi,matanya berkedip "opa belum tau kau sudah menikah?" Fandi menggeleng.


"kenapa?kakak takut,opa malu punya menantu seperti ku?"


"Bukan itu"


"Laluuu?"


Fandi memposisikan dirinya,agar Ara bisa bersandar di bahunya.


"Sebenarnya opa sangat mengutamakan kasta,kasta kita jauh berbeda Ra.Tapi aku tidak peduli itu."

__ADS_1


"Kalau opa tahu,dan tidak merestui kita bagaimana?"


"Aku akan tetap memilihmu!"


"Kau tidak takut miskin kak,tidak di akui opa?"


Fandi menggeleng "Aku lebih takut kehilangan mu Ra" Fandi memeluk Ara.


Fandi sangat bahagia dengan kecemburuan Ara,itu berarti dia sudah berhasil membuat istrinya jatuh cinta.Meski Ara tidak pernah mengungkapkan tapi Fandi tau itu.


"Ra..aku merindukan mu" di sela-sela pelukannya,Fandi mencoba merayu istrinya.Tapi sayang istrinya sedang tidak peka akan kemauan nya.


"iyaa..." Fandi menghela nafasnya,istrinya tidak tahu mau nya apa.Sudahlah biar nanti saja meminta hak nya.


"Uhuk..kakak belum mandi dari kapan,bau?!" Ara mendorong dada Fandi untuk menjauh.


apa dia bilang?aku bau?yang benar saja aku bau.


Fandi mencium diri nya sendiri,tidak bau. Ara mengibaskan tangannya,pertanda Fandi untuk menyingkir.


"mandi sana kak!"


"makan laper" Ara keluar dari kamar meninggal kan suaminya sendiri untuk mandi.


Dasar aneh,wangi begini dibilang bau.Mana ada seorang Fandi Brahmana bau,tidak ada dalam sejarah!


Fandi bergumam,membanggakan diri sendiri.


🍀


🍀


🍀


Allan sudah di apartemen nya sendiri.Hatinya patah, perempuan yang selama ini dia sukai jatuh di tangan bos nya sendiri. Bos,sekaligus sahabat nya.


Deretan tentang kejadian sedang dia kumpulkan, bagai bermain puzzle.Namun sayang, Allan bermain puzzle dengan takdir.

__ADS_1


Takdir yang tak bisa di elakkan. Teringat akan kata nya sendiri saat itu "kau tidak sedang merencanakan pernikahan kan Ra?"


Pengajuan cuti Ara nyatanya benar menikah.Jika mereka menikah dua bulan yang lalu dan Allan sempat bertemu Fandi di terminal pada saat Ara pergi.


Lalu kenapa saat Ara pulang,Allan masih bisa berkunjung ke rumah Ara?..


Entah apa yang sedang terjadi saat ini.Allan benar-benar dibuat bingung.Jalan satu-satunya hanya mendengar kebenaran dari salah satu mereka.


Lain Allan,Lain juga dengan Melda.Gadis itu sekarang sedang uring-uringan meminta kepada Papah nya untuk bicara kepada opa Brahma tentang pertunangan nya.


Gabriel, sebenarnya tidak pernah menjanjikan Melda untuk bertunangan dengan Fandi.Itu semata hanya obsesi Melda yang ingin mempunyai suami seperti Fandi.


Opa Brahma yang menyayangi Melda bagai cucu sendiri hanya menurut saja,dengan begitu Melda akan diam.


Tapi Melda yang sekarang bukanlah Melda yang bisa di bohongi seperti waktu dia kecil.Menganggap semua serius.


Opa Brahma tidak bisa apa-apa selain menuruti keinginan Melda,yang sudah di anggap seperti cucu sendiri.


"Pah,kapan aku bertunangan dengan kak Fandi?.."


Melda terus merengek kepada papahnya,tidak tahu waktu sekali gadis itu,sudah malam masih coba merayu papahnya. Benar sekali jika pergaulan mempengaruhi kehidupan.


Melda yang baru berumur dua puluh tahun sudah ngebet pengin bertunangan dan menikah.


Memang tidak di pungkiri dulu Ara juga menikah muda,itu karna di paksa dan dijebak oleh Reno.Reno yang tergiur melihat Ara saat ranum-ranum nya,ingin sekali menjamah tubuhnya.Padahal umurnya baru saja menginjak sembilan belas tahun.


"Sebenarnya siapa yang menjanjikan kau bertunangan dengan Fandi?"


"Tidak ada,tapi aku yang menginginkan nya pah" Segala bujuk rayu Melda dia kerahkan demi mendapatkan Fandi.


Siapa yang tak mau di nikaih pria tampan,mapan,berpendidikan,masa depan terkenal dan berpengaruh dalam dunia bisnis.


"Papah tidak janji Mel,kita lihat saja nanti" Gabriel pergi menghindar dari Melda.


Rasanya cape sendiri melihat tingkah putrinya.


.

__ADS_1


.


to be continue_


__ADS_2