
Menjalani masa-masa ngidam bagi sebagian ibu hamil mungkin sudah biasa.Tapi tidak dengan Ara,dia benar-benar di buat mual muntah trus setiap pagi.
Rutinitas nya jika pagi adalah bolak balik wastafel,baru tiga belas Minggu .Biasanya akan seperti itu selama trimester pertama.
Maria masih di kediaman Brahmana, She mengalah kembali ke kota nya seminggu yang lalu.Pekerjaan dia banyak,dan lagi rumah nya tidak ada yg menghuni.
Malam ini Ara ribut menginginkan sesuatu,sampai Fandi berdecak kesal.
"Jam sembilan mana ada yang jualan bubur Manado sayang?"
"Usaha dulu,cari dimana gitu.Coba buka aplikasi siapa tau disana ada" Ara sudah hampir meneteskan buliran bening di matanya.
"Besok ya,besok minta mamah bikin kan"
"aku mau nya sekarang!" Ara sudah berubah raut wajahnya.
"Astaga!" Batin Fandi tersiksa,menuruti orang ngidam memang bikin gemash, coba kalau bukan istrinya,pasti sudah marah sedari tadi.
Ara tidur memunggungi suaminya.Bahu nya turun naik,ternyata ibu hamil itu menangis karna permintaan nya tak di kabulkan oleh suaminya.
"Sayang jangan nangis,kasian Dede nya dalam perut,juga ikut sedih" Fandi mencoba membalikan tubuh Ara, untuk di peluk.Suara isakan tangis pun mulai hilang,dan berganti dengan dengkuran halus.
Sudah tidur rupanya.Apapun yang Ara minta pasti akan Fandi kabul kan.Tapi untuk kali ini dia tidak bisa,karna di ibu kota jarang yang jualan bubur Manado,terlebih lagi ini sudah lewat jam sembilan malam.
__ADS_1
Tangan nya terulur menggapai ponsel yang ada di nakas,Fandi mengirim pesan kepada Maria untuk di buatkan bubur Manado esok hari.
satu mangkok saja mah,takut jika ngidamnya hanya bualan saja,sayang kalau tidak di makan.
Beberapa hari lalu sama hal nya seperti malam ini,meminta dimsum malam-malam.Pagi nya hanya dimakan setengah saja.
Fandi sempat tidak enak hati pada art rumah, bukan tidak enak.Masakannya enak,hanya saja Ara yang aneh.
Istrinya memasuki alam mimpi. Fandi pun mengikuti di sebelahnya.Menyusul istrinya ke alam mimpi.
🍀
🍀
🍀
"Mah,,"
"Hemm... Iya nak,kenapa?" Maria terkejut, tiba-tiba menantu nya menempel.
"Minta tolong boleh gak mah?" Ara berbisik lirih pada Maria,mata Fandi memindai gerak gerik istrinya.
Maria terkejut, mengerutkan keningnya "apa?" suaranya ikut berbisik.
__ADS_1
"Nonton yuk mah,Ara pengin nonton di bioskop.Tapi jangan sama Fandi,dia ribet mah"
Maria mengulum senyum.Menantu nya lucu sekali,berbisik di depan orang yang dia hindari.Fandi yang sedang mengolesi selai di rotinya,sesekali matanya menatap tajam mereka.
Setelah berpamitan pada Ara dan buah hatinya Fandi berangkat kerja,tumpukan berkas dan kunjungan proyek sudah menanti.
Allan sedari tadi sudah menelfon tapi di abaikan oleh Fandi.Seseorang mendadak membuat janji temu.
"Kenapa tidak menjawab telfon ku?"
"aku sedang di jalan Lan" mereka melangkah lebar,menuju ruangan Fandi.Ternyata Susan sudah ada di dalam.
"maaf pak Lancang,Sudah di tunggu oleh pak Nugroho setengah jam yang lalu"
Fandi yang tahu maksud Susan menganggukkan kepalanya.Klain yang ini memang laik dari pada yang lain.
.
.
.
_to be continue_
__ADS_1