
Week end, keluarga besar Fandi pergi bersama untuk jalan-jalan pagi di Acara Car free day yang cukup dekat dari kediaman nya.
Semua kompak menggunakan kaos dan training nuansa biru putih,Daffin yang paling kecil sendiri duduk di atas pangkuan Hafi.
Di antara semua kakak nya,Daffin paling nyaman dengan Hafi,bukan berarti yang lain tidak.Hanya saja Hafi dan Daffin sudah seperti Ayah dan Anak.
"Mamah,besok Daffin berangkat sekolah dengan kak Hafi ya?"
Hafi yang duduk bersandar dan melihat luar kaca pun langsung menoleh adik kecilnya,dan menunggu jawaban mamah nya.
"Kenapa begitu?Tidak mau di antar Kakak yang lain?Atau Papah dan Mamah?"
Daffin menggeleng "Aku mau kak Hafi saja"
Bukan hal yang baru Daffin meminta ini,biasanya jika merengek ingin di antar kan Hafi,bocah kecil itu ingin membicarakan sesuatu.
"Hafi!! Besok bangunlah lebih cepat dan antar kan adikmu pergi sekolah!"
Riza hanya mengintip lewat spion dalam kepada Hafi.Ara dan Inggi mendengar ucapan Fandi.
"Iyaa Pah"
Mendengar persetujuan dari Hafi,Daffin menyandarkan kepala nya di dada Hafi.Anak itu mendongak dan membisikan sesuatu.
Mendengar bisikan Daffin,Hafi pun mengerutkan keningnya.Hal itu tidak luput dari pandangan Ara sang Mamah.
.
.
Bukan dengan Fandi papah nya,Daffin lebih memilih menggandeng Riza dan Hafi,anak kecil itu di apit kedua kakak kembar nya yang sangat tampan.
Ara yang umurnya sudah tidak muda lagi pun bergandengan dengan suaminya.
Anak-anak berjalan di depan nya.Inggira yang merasa tidak ada yang menggandeng pun akhirnya bergelayut di lengan Fandi.
Suasana Car Free Day pagi ini benar-benar sangat ramai,banyak kuliner dari berbagai macam makanan apapun tersedia di sini.
Dari mulai yang harga ratusan ribu hingga paling kecil seribu rupiah.
Kebetulan hari itu ada pameran seni rupa,lukisan dari berbagai macam seniman semua ada di lapangan yang di ubah menjadi galeri.
Tangan Fandi di tarik oleh Anak gadisnya untuk masuk ke galeri lukisan.Kuliah desain grafis dan beberapa kali mendapat orderan desain.Inggira merasa tertarik dengan isi galeri itu.
Dilihat nya satu persatu,hingga berhenti di lukisan seorang perempuan yang sangat manis.Beberapa kali Inggira mengamati lukisan itu.
Aku seperti pernah melihat tokoh dalam lukisan ini.Tapi siapa?Dia tidak asing bagi ku.
.
.
Ketika suami dan anak gadis nya memasuki galeri, Langkah Ara justru berhenti ketika melihat sesosok lelaki yang sangat dia kenal.
__ADS_1
"Nuel?!"
Lelaki itu melihat Ara dan tersenyum padanya.
"Hai Ra?" Nuel mengulurkan tangan nya.
"Kau disini?bukan kah kau pindah sekolah waktu itu,dan menetap di sana?"
Nuel terkekeh mendengar nya.Wanita di depan nya masih mengingat nya setelah beberapa puluh tahun lamanya.
"Aku semakin tua,tapi kau mengenal li ku.Lain dengan mu,aku hampir tidak mengenali mu Fahira"
"Sebenarnya,selain untuk pameran,Aku sengaja datang kemari untuk mengembalikan apa yang seharusnya milikmu."
Ara mengerutkan kening nya bingung.
"Lukisan mu saat dulu kala,masih aku simpan rapih dan aku bawa kemari.Aku mendengar dari beberapa teman kita dulu kau berada di kota ini,dan...menjadi nyonya besar di sini"
Kata-kata Nuel terakhir dia dekatkan di telinga dan di pelan kan.
Ara tersenyum,tidak menyangka bisa bertemu sahabat saat sekolah dahulu kala.Nuel harus melanjutkan ke luar pulau karena kedinasan orang tua.
"Lukisan mu di dalam,Ayo aku perlihatkan!"
Keduanya masuk ke dalam galeri.Menyusuri lukisan demi lukisan hingga berhenti tepat di depan lukisan dirinya,Ara tercengang dengan karya itu.
"Ya Tuhan,ini aku?saat dulu kala!" Ara menoleh ke Nuel.
"Sayang!" Tiba-tiba tangan Fandi melingkar di perut Ara. Inggira yang tahu itu memutar bola matanya jengah.
Lagi-lagi papah tidak tahu tempat,dasar pengabdi bucin!
"Ohh,dia suami mu sekarang Ra?" Nuel ternyata baru tahu jika Fandi suami Ara, yang dia tahu bukan Fandi melainkan Reno.
Fandi pun menoleh ke suara itu,wajah nya mendadak tegas melihat pria itu.
"Kau?!"
Nuel tersenyum "Senang bertemu kembali dengan mu Fan!Kita sudah sama-sama tua ternyata"
Keduanya berjabat tangan.
"Mah,Pah ..." Inggira menghampiri mereka.
.
.
"Kenalkan NueL,Ini anak ku yang ke tiga, Inggira"
"Ketiga?"
"Ara hamil tiga kali,anak pertama dan kedua kami kembar,Inggira anak ke tiga dan ada satu lagi baru ber sekolah dasar "
__ADS_1
Nuel tertawa terbahak mendengar nya.Terkejut berkali-kali lebih tepat nya.Terkejut karena bukan Reno melainkan Fandi,dan ternyata mempunyai anak empat,yang terakhir bahkan masih ber Sekolah Dasar.
Inggira menyalami tangan Nuel,dan mencium punggung tangan nya.
"Lalu yang lain?"
Fandi dan Ara menoleh mencari anak yang lain,tapi tidak satupun terlihat.
"Entahlaah,ketiga nya lelaki jadi mungkin mereka asik sendiri" Fandi menjelaskan pada Nuel.
Nuel pun mengangguk paham.
.
.
Inggi menarik tangan Ara,dan bergeser di depan sebuah lukisan.
"Mah,aku baru sadar ini lukisan apa dan siapa.Ini mamah kan mah? aku pernah menemukan foto ini di album kenangan... apa yaa aku lupa!"
Ara tercengang melihat nya,tidak menyangka memang benar adanya.Lukisan dia beberapa puluh tahun silam masih ada dan masih terawat.
"Mah!!"
Ara menoleh dan mengangguk kepada anak nya.Dan melihat tanda tangan yang tertera di kiri bawah.Tulisan latin tapi masih bisa di baca "Imanuel".
Dari kejauhan Nuel tersenyum.
"Aku akan membeli lukisanmu itu!"
Kedua lelaki itu mendengar ibu dan anak berbincang,Fandi yang tahu itu langsung berinisiatif untuk membelinya. Harga dirinya sangat tinggi,selain itu juga dia tidak mau wajah istrinya di nikmati pria lain meski hanya lukisan.
"Itu milik Rara,bawalah saja!"
"Jangan memanggil nya seperti itu,tidak ada sebutan lain untuk istriku,kecuali aku sendiri yang menyebutnya!"
"Hahhaaa..... Ternyata kau sangat pencemburu!!! Tenang saja Bung,Dia masih aku anggap teman,sahabat,dan saudara sampai sekarang"
Fandi mengedikan bahu nya "Semoga itu bisa dipercaya!"
Langkah kedua nya menghampiri Ara dan Inggi,memang benar lukisan yang sangat indah,hanya saja yang membuat Fandi sesak.Kenapa dada Istrinya terbuka,itu di ambil melalui foto atau Ara langsung?
Atau nuel berimajinasi?
Mata Fandi melirik Nuel dan Ara bergantian.
.
.
.
🤗
__ADS_1