
Benar saja,menjelang subuh Ara terbangun.Perutnya merasa seperti di aduk-aduk tidak karuan.
Langkahnya terhuyung menuju ke wastafel.Ara mengeluarkan semua isi dalam perutnya.Kepala nya sungguh sakit,pandangan nya berputar-putar.
"Akh" Tubuhnya yang hendak jatuh di tangkap oleh suaminya.
"Sudah??" Ara pun mengangguk.Suaminya mengangkat tubuh itu,dan di baringkan kembali di ranjang.
"Mana yang tidak enak sayang?"
"Kepala ku pusing mas!" Bibirnya berucap meski matanya terpejam.
Fandi memijit kepala Ara.Buliran bening keluar dari sela-sela mata Ara yang terpejam.Fandi pun mengusap nya perlahan.
Tidak tega memang jika melihat istrinya seperti ini.Dulu sudah pernah,dan ini di ulangi nya lagi.Mengidam yang sangat kepayahan hingga sakit.
Istrinya tiba-tiba membuka mata,dan bangun.Berakhir di wastafel.Sudah beberapa kali pagi ini.Padahal matahari saja belum naik sempurna.
Maria datang membawa segelas minuman untuk Ara.
"Ini apa mah?"
"Itu jahe hangat,untuk mengurangi mual Ara.Cobalah!!rasanya enak,tidak bau"
Menantunya pun mencoba,Suami nya menghitung dalam hati sampai sepuluh tidak keluar lagi berarti aman.
Ternyata Ara mencoba nya kembali beberapa teguk.Fandi yang tahu itu menegakan dada nya.Hatinya merasa tenang karena minuman yang dibawakan mamah Maria tidak di buang lagi oleh Ara.
Hingga Fandi bisa tidur kembali di samping,dan memeluk istrinya.Suara pintu di buka oleh duo krucil dari luar sana.
"Mamah!!!.." Suara Hafi yang melingking.Siapa lagi jika bukan dia yang suka begitu.
Riza lebih memilih mengikuti adiknya,berjalan santai di belakangnya.
Menaikki ranjang dan memeluk Ara dari belakang.Fandi yang tahu itu langsung bergerak melindungi perut Ara.
"Hai Sayang?" Ara terbangun karena teriakan nya.
__ADS_1
"Pelan-pelan Hafi! jangan sampai menyakiti perut mamah mu!"
Hafi reflek terdiam,tubuhnya terpaku di belakang punggung Ara,dengan kaki yang di lipat dan berdiri di kasur.
"Kenapa Pah?Kata Oma aku akan menjadi kakak.Apa itu benar?"
Riza baru mendekat dan berada di sisi papah nya.Sama-sama menunggu jawaban lelaki dewasa itu.
Fandi pun mengangguk kan kepala,yang berarti jawaban ny "iya".
"Hah!!Za aku juga seperti mu akan menjadi kakak.Kamu punya adik dua Za!" Riza hanya tersenyum.
Melihat ekspresi Riza,Ara pun mengerutkan keningnya.
"Za,sini sayang?!" bocah balita itu pun naik,dan menghampiri mamah nya.Ara dengan gemash memeluk dan menciumnya.
"Kenapa Riza hanya tersenyum?Riza tidak seperti Hafi yang sangat bahagia?"
Riza menggeleng.Ara semakin penasaran dengan tanggapan anaknya.Fandi pun di buat menatap tajam ketika Riza menggeleng.Sedangkan Hafi diam saja.
Fandi tertawa dengan penuturan Riza,masih kecil tapi cara berpikir nya seperti orang dewasa.
"Adikmu satu di dalam sini Za,bukan twins seperti kalian."
"Kalau twins, berarti tiga papah!"
"Maksudnya gimana sih Za,Papah tidak mengerti"
"Dua itu berarti adik bayi dan mamah,aku juga harus menjaga mamah,bukan cuma adik saja!"
Ara dan Fandi tercengang,sulit di mengerti Riza memang pola pikirnya melebihi dari balita pada umumnya.
Ara semakin erat memeluk Riza sedangkan anaknya hanya diam.Hafi yang terlihat iri pun menyelinap di antara mereka.
Satu ranjang bergumul bersama dengan anak dan suaminya.Ara merasa sangat bahagia dengan kedekatan ini.Dan akan bertambah satu lagi di dalam perut.
🍀
__ADS_1
🍀
🍀
Sembilan Minggu sudah terlewatkan dengan drama yang mual muntah,Mamah Maria pun selalu membuat jahe hangat untuk menantunya.
Tubuh Ara semakin gendut di kehamilan kedua nya.Jika sudah siang hari rasa mual dan muntah nya hilang berganti dengan keinginan mengemil yang tidak bisa di rem jika sedang diam tak melakukan pekerjaan.
Ara masih tidak mau bergabung sarapan di meja makan,karena tidak suka bau masakan yang macam-macam.Pagi hari nya hanya segelas susu vanila dan satu piring buah naga,bergantian dengan strawberry dan anggur.
Jika siang Ara sering meminta jajan di pinggir jalan.Biasanya yang sering membelikan Allan karena Fandi tidak mengerti itu.
Antar jemput Riza dan Hafi sudah di alihkan kepada Nera jika tidak Jelita.Beruntung kedua nya tidak rewel dan tidak ada drama sebelum berangkat sekolah.
Sejak mengetahui akan menjadi kakak keduanya sangat patuh dan mengikuti ucapan mamahnya.
Sekolah,pulang sekolah istirahat,main sebentar,mandi dan belajar.Semua sudah di atur oleh wanita itu.Anaknya benar-benar sangat mandiri hingga mandi pun Ara hanya mengintruksi dari pintu.
Bel berbunyi.
"Papah pulang Za?!" Hafi memberitahu pada kakak nya.
Ara melihat jam di dinding,baru pukul setengah empat sore.Tapi kenapa menekan Bel segala.
"Itu bukan papah Hafi!" Ara menggeleng.
Tak lama ketukan pintu terdengar di kamar Ara.
"Non,ada tamu"
.
.
.
to be continue
__ADS_1