
Ara dan Fandi bergabung dengan para ibu yang lainnya di bangku rumah sakit.Akhir nya dengan segala bujuk rayu Maria,istrinya mau di periksa kan ke dokter.Ara benar-benar di buat mabuk.Tubuhnya sangat lemas,tangannya di genggam oleh Fandi.kepala nya bersandar di bahu,matanya terpejam rapat.
Stelah mendengar wejangan dari mamah mertua nya, Ara yang meminta sendiri ke suaminya untuk berobat.
Dia baru menyadari sejak menikah belum datang bulan sama sekali.Tapi kenapa secepat ini? Sedangkan dulu dia bersama Reno saja dua tahun tidak hamil.
"Nyonya Fahiraa,Nyonya Fahira Feryaldi..!!!"
"Iya" Fandi menjawab,dan menuntun,menggenggam jemari Ara.
Mereka duduk berhadapan dengan dokter obgyn.
"Bagaimana?"
"Istri saya dari pagi mual,pusing dok sampai lemas"
"Kapan terakhir datang bulan,sudah cek kehamilan?"
Ara menggeleng,, "terakhir datang bulan kira-kira dua bulan yang lalu"
"Silahkan d cek terlebih dahulu,tampung air kencing disini" Dokter menyerahkan alatยฒ yang di butuhkan.
Ara berlalu,dan benar saja saat kembali dr toilet ada dua garis merah di testpack.Wajah Fandi berubah,dia sangat bahagia.
"Ayo Nyonya,mari kita lihat calon baby nya" Ara di tuntun untuk tiduran d brankar.Perawat menyibak kan baju dan mengoleskan gel di perut ara.
Dokter meletakkan alat USG di perut Ara,senyumnya mengembang.
"Bagaimana dok?" tanya Fandi penasaran.
"Wah,sudah besar ini.Sembilan Minggu dua hari.Beratnya kurang ya,dan mereka sehat-sehat semua.Detak jantungnya juga normal"
Mata Ara dan Fandi membulat sempurna.Mendengar penuturan dokter.
"Maksudnya apa ya dok?"
"Baby twins".
Fandi terlalu bahagia hingga dia mencium bibir Ara di depan dokter.
"Malu kak!" Fandi hanya terkekeh.
"Dilihat dari gejalanya,sepertinya harus badrest ya,karna ibu nya terlalu mabuk ya mengidam nya?"
"Iya betul sekali dok,hanya rebahan saja di ranjang" Fandi yang sangat aktif tanya jawab dengan dokternya.
__ADS_1
"Iyaa,tidak apa nanti saya berikan vitamin dan penambah darah,ada pereda mual juga.Harus di paksakan makan ya nyonya,jangan sampai kosong,minum susu juga harus,ngemil apapun yang penting masuk". Mereka pun keluar bergandengan beriringan.
Di sela-sela mengantri obat kedua nya melihat foto hasil USG,Fandi tertawa bahagia. tak kalah dengan Ara yang trus mengelus perutnya yang masih datar itu.
Sembilan Minggu dua hari,fix di pastikan malam itu benih Fandi benar-benar di buahi.Pukul sebelas malam mereka baru sampai di apartemen,ternyata selama di perjalanan Ara tertidur.Terpaksa Fandi menggendong hingga ke atas.
Menyelimuti Ara,dan kembali ke luar.Mengabari Maria dan keluarga yang lain bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi orang tua.
Balasan dari saudara pun sama hal nya dengan Fandi,mereka sangat senang.Terlebih lagi mendapat dua sekaligus.
Hingga akan subuh Fandi tak bisa memejamkan mata,tak merasa mengantuk.Ara masih tertidur,semalam stelah minum obat dirinya bisa sedikit tenang.
Fandi memikirkan bagaimana kedepannya,Ara badrest tidak bisa di tinggal, sedangkan dirinya harus bekerja.Beberapa jadwal keluar kota saja sudah di genggam oleh Allan.
Terlalu berat pikirannya hingga tak terasa matanya terpejam,menyandarkan punggungnya di sandaran sofa,kepala nya menengadah ke atas.
๐
๐
๐
Keesokan harinya,Ara yang tiba-tiba berlari memasuki toilet dan mengeluarkan semua isi perut nya.
Makanan yang dia masuk,slalu keluar stelah beberapa jam.Fandi sudah tidak ke kantor tiga hari.dan Allan slalu menghampiri nya untuk meminta tanda tangan.
"Sudah?" Ara mengangguk.Jemari nya meraih tissue untuk membersihkan bibirnya.
Fandi menuntun Ara ke ranjang,tapi tubuh Ara menolak kaku.
"Kenapa?"
"Aku ingin ke bawah,bosan di kamar trus"
"Mau aku gendong sayang?"
"gk kak,aku bisa jalan sendiri" meski tubuhnya lemas,kalau hanya jalan Ara masih mampu.
"Sayang,coba jangan panggil suami mu ini kakak.Aku seperti menikahi adik sendiri kedengarannya"
Ara tersenyum "Trus apa,kakak memang kakak kelas ku dulu kan,aku sudah terbiasa dengan panggilan itu!"
"panggil sayang,honey,Beib atau dears"
Ara semakin tersenyum lebar "Kalau mas gimana... Ahh nanti aku pikirkan ya?"
__ADS_1
Fandi tersenyum,melihat Ara kembali senyum lebar.Tiga hari Ara selalu di kamar badrest,pindah ke bawah melihat televisi membuat dia lebih rileks.
Bel berbunyi.Fandi membuka pintu,ternyata Allan berkunjung,rutinitas tambahan hanya untuk membubuhi tanda tangan berkas.
Matanya menatap Ara yang sedang duduk bersandar, Allan pun menghampiri.
"Ra,,apa kabar?"
"Baik Pak Allan..ka_"
"Allan saja!" Fandi melayangkan protes nya,ekor matanya melihat Allan yang duduk berdekatan dengan Ara..
"Astaga kau Fan,masih saja cemburu"
"wajar aku cemburu,aku suaminya.Kalau kau yang cemburu baru tidak wajar,kau bukan Siapa-siapa nya!"
Memang jaman sekarang harus waspada pada setiap orang,karna kita tidak tahu bagaimana dalam nya orang itu.termasuk Allan ya Fan??
"Sudah sayang,pak Allan...ehm maksud ku Allan hanya menanyakan kabar ku,,hal itu wajar di tanyakan jika seseorang lama tak saling bertemu.Kecuali begini Pak Allan lama tak bertemu aku merindukan mu.Itu baru salah karna aku sudah bersuami.Iya kan Allan?"
Baru saja di buat melayang karna Ara memanggil nya sayang, Beberapa detik kemudian Ara melontarkan kerinduan nya walau hanya contoh.
"Itu cuma pengandaian kan sayang?" dahi Fandi berkerut.
Ara mengulum bibir nya menahan senyum.
"iya sayang" Ara mencubit gemash pipi Fandi.
Pletakk!!!..
Lupa menutup pintu utama,terdengar suara benda dilempar ke dalam.Tak lama ada asap mengepul dari ruang tamu masuk.
Uhuk..uhukk... Ara terbatuk mencium nya.Fandi dan Allan bergegas melihat ke luar,hingga seklebatan seseorang merunduk masuk,mereka berdua tidak tahu.
"Uhukkk,sayang.. " dada Ara terasa sesak,tangan nya sudah mengibas Ibas asap tetap saja asap nya semakin pekat.
"Sa_ ahhh!!!lepaskan tangan ku!! Sayang tol_"
.
.
.
_to be continue...
__ADS_1