Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
ONTY COMING


__ADS_3

Semakin hari keluarga kecil Fandi semakin terlihat bahagia,Mamah Maria yang pada akhirnya menetap di Jakarta pun tidak pernah jauh dari kedua cucu nya.


Bagaikan bermimpi bisa melihat Fandi kecil,Riza dan Hafi adalah gambaran Fandi saat bayi.Biasanya ada yang sering menyebut anak laki-laki akan mirip dengan Mamah nya,tapi ini bagi Maria kedua nya sangat lah mirip Fandi saat dulu bayi.


Tiap hari selalu bermain dengan kedua nya,seperti mempunyai mainan baru.


"Kalau ada cewek nya pasti lebih gemas lagi kan mah?"


Suara bariton itu tiba-tiba terdengar di belakang Maria.Fandi berjalan mendekati Maria, tangan nya dia masukan ke dalam kantong celana.


Memakai kemeja berwarna coklat muda dan setelan jas berwarna abu,tidak lupa jam yang seharga jutaan itu melingkar di pergelangan tangannya.Ara mengikuti di belakang,setelah beberapa saat lalu menyiapkan suami nya untuk berangkat ke kantor.


Untung saja hari ini tidak ada jadwal kunjungan,alhasil Fandi bisa berangkat setelah makan siang.


"Aku bayangin mereka punya adik cewek kembar juga,ahh pasti rame banget nih rumah"


Ara yang juga mendengar nya sedikit geram,Riza dan Hafi saja baru berumur tiga bulan lebih dikit udah mikir adik,adik,adik terus.


"Nanti ya mas,kalau mereka sudah sekolah dan mandiri" Ara berusaha berbicara dengan halus,tidak lupa senyum yang di paksa,melihatkan deretan gigi putih nya.


Suaminya menghela nafas.Mending dikasih waktu dari pada Ara trauma melahirkan.Akhirnya setelah berpamitan pada Riza dan Hafi,Fandi pun masuk mobil untuk berangkat ke perusahaan.Tidak lupa Ara yang sedari tadi di belakang nya menyalimi,dan sebuah kecupan singkat dari Fandi.


"Baik-baik dirumah,kalau mau pergi telfon aku dulu.Jagain dua jagoan kita.Aku mencintaimu A-ra ku Sayang" lagi-lagi sebuah kecupan di kening Ara.


Ara tersenyum lebar,pipinya merona.


"Aku juga mencintaimu,suami ku Fandi Brahmana".


Fandi pun melajukan mobilnya,tidak mau di sopiri kecuali jika pertemuan kerja dengan Allan.

__ADS_1


🍀


🍀


🍀


Ara kembali lagi ke halaman belakang bergabung dengan dua anaknya dan Mamah Maria.


Ternyata Hafi sudah tertidur di pangkuan Maria.


"Ra, She menelfon mu?"


"Tidak,atau mungkin iya mah.Ponsel ku di kamar.Memangnya ada apa ya mah?"


"Mamah juga tidak tahu.Sebelum kamu melahirkan dia pernah bercerita tentang dirinya yang akan menetap lama di sini.Tapi buktinya sampai sekarang belum juga.Mamah khawatir dia di sana sendirian Ra" Terlihat raut wajah Maria yang sangat khawatir memang.


"Coba nanti Ara yang menelfon She mah,mamah tenang.Anak itu pasti baik-baik saja."


tap


tap


tap


tap


"RIZAAA HAAAFI MY TWINS ONTY COMING" Teriakan nya sangat melengking.Ternyata yang sedari tadi menjadi bahan pembicaraan Mamah Maria dan Ara datang.


"Hah!Panjang umur dia mah" Ara melihat ke arah belakang,She yang berlari kecil menghampiri mereka.

__ADS_1


Dicium nya punggung tangan mamah dan ipar nya.


"Maaf tidak mengabari!" Ara dan Maria pun mengangguk.


She beralih ke kedua ponakan nya,mencium gemas pipi gembul keduanya.


"Nona She,kata Tuan Allan tas nya sudah di kamar" Siti menghampiri,hanya sekedar melapor apa yang Allan barusan sampaikan.


Ara mengerutkan keningnya,katanya tidak mengabari.Kenapa Allan membawakan tas dia.


"Allan menjemput mu She?"


"Dia yang menawarkan kak,bukan aku yang minta.Aku bukan tipe pencari perhatian pria yang sudah punya pacar!" sedikit ketus tapi Ara bisa merasakan itu.


"Berarti dia tahu kamu akan pulang?"


"Dia juga yang bertanya,bukan aku yang mengabari.Kan aku sudah bilang,maaf aku tidak mengabari dulu tadi"


Mood She berubah ketika Ara bertanya-tanya tentang Allan.


"oh iya yaaa,ya sudah.Istirahat dulu sana.Cape kan?" Mamah Maria pun menengaih keduanya.


"Nanti saja mah,aku masih kangen sama baby twins,baby bolu ku" She mengulum bibir nya yang gemash.Ingin mencubit pipi nya tapi takut mereka menangis.


.


.


.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2