
...****************...
" Jelita, terimakasih sudah meluangkan waktu mu untuk mengantar ibu berobat nak" Wanita tua,ibu dari jelita.Merasa sangat bersyukur mempunyai anak seperti Jelita,selain patuh dia juga pekerja keras.
Rela hanya menamatkan SMA kemudian bekerja untuk biaya berobat ibunya.Menderita gagal ginjal dan harus berobat terus menerus membuat Jelita bekerja apa saja.
"sama-sama Bu,sudah menjadi kewajiban ku untuk mengantar ibu"
Setelah berbagai proses pengobatan yang di jalankan ibu jelita hari ini,kini mereka duduk mengantri menebus obat.
Pikiran Jelita terlintas untuk melakukan satu hal.
Keluarga brahmana pasti punya sebagian saham dari rumah sakit ini.Sebagai gantinya aku akan mencoba menolong nona Ara.
Jelita menoleh kanan kiri,wajahnya berusaha untuk biasa saja.Takut jikalau ada bodyguard Reno menguntit.
Jelita meraba isi dalam tas nya,dia menuliskan sesuatu dalam secarik kertas yang hanya berukuran setengah dari lembar resep pada umumnya.
"Bu,ibu tunggu sini sebentar ya,aku akan ke toilet.Jangan kemana-mana ya Bu!"
Ibu nya pun mengangguk patuh.
Jelita berjalan melewati para pasien yang lain.Tujuan nya toilet yang berada di sebelah ruang pendaftaran.Hanya bersebelahan dengan ruang tebus obat,tapi lumayan beberapa meter.
Gadis itu sengaja melewati keramaian ruang pendaftaran,untuk berdesakan di sana.Tangan nya berpura-pura memegang meja,dijatuhkan selembar kertas pas di depan meja receptionis.Lalu langkahnya buru-buru masuk ke dalam toilet.
Semoga nona Ara cepat di temukan.
Doa jelita dalam hati.
__ADS_1
.
.
Seorang karyawan rumah sakit mengerutkan keningnya.Membuka selembar kertas yang jatuh pas di depan nya.Dibuka dan membacanya.
"Pak security!!!.."
Pak security yang bername tag Fahrur A.T mendekat pada karyawan itu.Ia pun membaca tulisan di selembar kertas.Mata nya menyipit pada karyawan itu.
"Jangan bicarakan ke yang lain dulu.Ini rahasia!Saya akan kroscek kepada asisten nya"
Pak Fahrur segera menuju office dan menghubungi pihak terkait.
🍀
🍀
🍀
Susan mengirim foto bergambar selembar kertas yang security itu berikan.Allan tercengang melihatnya.Selembar kertas,mungkin itu adalah klu dimana Ara.
"Susan, tolong hubungi security rumah sakit sekarang.Aku ingin bicara dengan nya"
Panggilan lewat wairless di matikan dan Susan segera menelpon pihak rumah sakit.
Beberapa saat Pak Fahrur datang,kini kedua nya duduk berhadapan di ruang kerja Allan.
"Darimana anda mendapat selembar kertas ini?" Allan meletakan nya di meja.
__ADS_1
"Sebelum nya saya minta maaf karna sudah lancang, saya mendapat ini dari karyawan receptionis rumah sakit.Seseorang meletakkan di meja dalam persis di depan karyawan itu" penjelasan pak Fahrur cukup jelas dan lugas.
"Saya akan pegang kertas ini.Tolong jangan sebarkan berita ini kemanapun.Dan bisakah bapak mencari siapa orang itu lewat cctv rumah sakit?kemudian cetak wajah orang tersebut!" Allan berbicara dengan santai,kakinya bertumpu pada kaki satunya,bahu nya ia sandarkan.
Pak Fahrur mengangguk paham.
"Saya harap pak Fahrur bisa bekerja sama dengan baik.Apa Bapak mengerti?"
"Saya mengerti pak Allan,jika sudah selesai.Saya boleh undur diri?" pak Fahrur berpamitan.
Allan pun mempersilahkan pak Fahrur keluar dari ruangannya.
Menghubungi orang-orang kepercayaan opa Brahma adalah hal yang paling utama bagi Allan.
"Cancel semua jadwal hari ini dan besok,terserah kau mau di pindah hari apa San!"
Susan yang mendengar terkejut seketika. "Pak Allan mau kemana?"
"Ada urusan,Jika ada apapun hubungi saya!"
Susan mengangguk patuh.
Langkah nya panjang,tangan nya memegang ponsel,sibuk menghubungi para bawahan dan orang-orang terpercaya.
Mobil Allan melaju menembus jalanan,kediaman utama Fandi lah tujuan utamanya.
.
.
__ADS_1
.
to be continue