
BAB 1. Sekolah Baru
Hari yang sangat cerah,tetesan embun masih basah di atas dedaunan hijau.Suara burung terdengar riang sangat nyaring di atas sana.Seseorang masih terlelap di balik selimut tebalnya.
Sreeek!!
Mamah Dahlia membuka gorden tebal,dan mengaitkan di tepian jendela.
Ceklek!!
Suara kancing jendela di lepas dan dibuka lebar.
"Sayang,bangun nak.Matahari sudah tinggi"
Mamah Dahlia duduk di pinggir kasur.Tangan nya menyentuh bahu anak gadisnya.
"Irish,bangun yuk.Yang lain sudah bangun sedari tadi".
Irish Putri Darmawan,putri sulung dari pasangan Dahlia permata dan Letnan kolonel Hardi Darmawan.Mereka baru beberapa hari menginjakkan kaki nya di kota ini,kota yang sangat sejuk dan indah pemandangan nya.
Irish merenggangkan tubuhnya.Seminggu tidak melakukan rutinitas pagi,pergi ke sekolah membuat dia terlalu nyaman di peraduan nya.
Hari ini rencana nya Mama Dahlia akan mendaftarkan Irish dan Mecca ke salah satu sekolah di sana.
Mecca putri dermawan,adik Irish satu-satunya.Mereka mungkin mirip jika dilihat secara seksama.Hanya saja Mecca lebih putih dan berhidung mancung di banding Irish.
__ADS_1
Bukan membanding kan,karna setiap anak mempunyai keistimewaan tersendiri.Mecca memang banyak lebih nya di banding Irish,terutama di bidang akademik.
Meski masih di bangku Sekolah Dasar tapi piala nya sudah sangat banyak.Yang membuat iri lagi,Mecca tidak pernah belajar dengan serius dan menyita waktu.Tapi kecerdasan nya memang tidak di ragukan.
Irish sudah rapi dengan seragam sekolahnya,mama Dahlia dan Mecca yang sudah menunggu di sofa,tak lupa satu toples sriping pisang di pangkuan Mecca.
"Kakak lama, Mecca jadi kebanyakan ngemil kan" jika tidak ada sriping sudah di pastikan Mecca cemberut sedari tadi.
Mama Dahlia hanya tersenyum.
"Sudah tidak apa,ayoo kita berangkat!"
Irish berjalan di belakang mama dan adik nya,sambil membenarkan tas punggungnya.
"Maaf dek,kakak kesiangan.Semalam video call sama teman-teman"
💕💕💕
Mereka pergi menggunakan taxi.Tujuan pertama ke gedung sekolah Mecca. Sekolah Mecca dan sekolah Irish sebenarnya hanya tersekat oleh sebidang lapangan yang cukup luas,biasa nya untuk ber olahraga masih dalam satu lingkungan yang sama.
Mecca diterima di Sekolah Dasar Tunas Bangsa,kelas lima.Sudah bisa langsung belajar untuk perkenalan terlebih dahulu.
Di dampingi oleh kepala sekolah dan wali kelas Mama Dahlia berpamitan.
"Mecca, mama tinggal tidak apa-apa kan,nanti pulangnya mama jemput"
"Ok ma,Mecca berani kok meski belum punya teman" kata-kata Mecca membuat yang ada di sana tergelak tawa.
__ADS_1
Mama Dahlia berjalan ke gedung sebelah,hanya lima sampai sepuluh menit saja mereka sampai di SMA TUNAS BANGSA.
"Ma.. aku ketoilet dulu ya" Bisik Irish di telinga mama,raut wajahnya sudah menandakan dia menahan sesuatu di bawah sana.
"Ya sudah,mama langsung ke kantor kepala sekolah saja.Nanti kamu menyusul ya nak?"
"Iya maa,nanti Irish nyusul"
Irish berjalan,mencari toilet di sana.Rambut nya yang ikal panjang tergerai,mengibas otomatis karna terkena angin.Beberapa siswa yang lain memperhatikan Irish,terutama cowok-cowok.
Seseorang di tepi lapangan basket memicingkan matanya,melihat kemana langkah Irish.
Toilet di sudut kelas lah tempat Irish membuang hajatnya.Keluar dari toilet dan terlihat ada siswa akan berganti baju stelah mapel olahraga.
"Aku tidak pernah melihat mu,kamu anak baru?" Tanya seorang siswa perempuan.
Irish tersenyum "Iyaa,saya baru akan masuk di sini"
"Wahh benar kah?Masuk kelas apa?"
"Rencana nya di 2 IPS 1,jika ada yang kosong.Kalau tidak ada mungkin di IPS 2,3 atau 4"
"Di sini hanya sampai 3,tapi sepertinya IPS 1 ada yang kosong,kenalkan nama ku Lily 2 IPS 1.Semoga nanti kita satu kelas" Lily tersenyum ramah.
"Ohh iyaa,nama ku Irish.Kalau begitu aku pamit duluan ya.Semoga nanti kita bertemu"..
Irish menunduk kan wajah,sebagai tanda dia mengakhiri obrolan.
__ADS_1
_to be continue.