Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
Tawanan pria tak dikenal


__ADS_3

Mata Ara mengerjap,memindai cahaya lampu.Perlahan mata nya terbuka.Dia tersadar dari pingsan nya dan beringsut di ujung ranjang.


Ruangan yang begitu besar,dan mewah terasa asing baginya.Hanya kasur,meja nakas,dan satu buah sofa panjang.


Ara melihat jendela kaca yang tampak hitam,pertanda hari sudah gelap.


Sepintas bayangan Fandi terlintas di fikiran nya. Ara terisak "Tolong aku kak,aku dimana? takut."


Suara handle pintu,membuat nya menegang mencengkram sepray.Diliriknya seseorang yang masuk dari sana.Perempuan,mungkin usia nya tidak jauh dari dirinya,memakai seragam putih seperti perawat.


Mendekatinya,dan Ara semakin beringsut di pinggiran.


"Selamat malam nona" perempuan itu menunduk kan setengah badannya.


"kamu siapa?"


"saya bertugas untuk menjaga nona, dan melayani"


Ara masih asing di ruangan itu.Kaki nya mencoba turun dari ranjang.Mendekati jendela dan melihat dari sana.Mungkin Ara berada di ketinggian tiga atau empat lantai.


Jendela nya di lapisi jeruji besi.Pemandangannya cukup indah,lautan yang terbentang luas.Di bawah bangunan itu ada banyak penjaga berpakaian hitam.


"Sebenarnya aku dimana?" Gumaman Ara terdengar oleh ita.Namun ita tak berani menjawab.


Ara mengelus perutnya,terlihat oleh ita perut yg membuncit sedikit.mata Ita menyipit.


"nona sedang hamil?"


Ara mengangguk "iya..." matanya masih tertuju pemandangan di luar sana. Hatinya bergetar "sayang,aku rindu" buliran bening meluncur dari matanya.


Kehamilan nya membuat Ara semakin ingin bermanja,biasa tidur di peluk oleh sang suami.Kini bahkan dia tak tahu sedang dimana Ara berada.Seingat nya terakhir kali di toilet dalam mall, seseorang membekap dari belakang.


Tas dompet dan barang nya pun Ara tidak tahu kemana.Air matanya semakin deras,dia sungguh merindukan suami nya.


Wajahnya tertunduk,melihat perut nya.

__ADS_1


"Sabarr ya nak,kita berjuang bersama.Semoga papah mu cepat kemari.Mamah takut."


Pemandangan yang membuat Ita terharu.Pikirannya sedari tadi sudah penuh dengan tanya.Siapa sebenarnya wanita yang ada di depannya.Ada hubungan apa dengan bos nya,kenapa seperti tawanan yang di asingkan.


"Anda,,boleh saya bertanya?"


"ahh,tentu.. silahkan nona" Ita merasa tidak di abaikan lagi.


"Kau tahu dimana aku sekarang?"


"Maaf nona,saya pun tidak tahu.Mata saya di tutup saat di bawa kemari"


Ara menghembuskan nafasnya kasar.Ternyata bukan hanya Ara saja yang seperti tawanan.Pembantu nya juga demikian.


"Jam berapa sekarang?"


"Sebentar,saya lihat dulu" Ita berjalan keluar untuk melihat jam.Tidak boleh meminjam kan ponsel,alangkah baik nya tidak usah membawa nya sekalian.Dia tinggalkan di kamarnya.


Ita masuk kembali dan mengunci pintu.Ara melihat jika pembantu nya itu meletakan kunci di saku sebelah kiri.


"Biasanya aku tidur,dan di peluk oleh suamiku.Tapi ini aku bahkan tidak tahu aku dimana.Siapa yang membawa ku kemari,aku cape..Oiya aku harus memanggil mu apa?"


Dari tadi Ita bahkan belum menyebutkan nama.Ara pikir jalan satu-satunya berdamai dengan keadaan.Menjalin hubungan dengan baik pada perempuan yang ada di hadapannya,karna hanya dia lah yang bisa di ajak ngobrol saat ini.


"Nama saya Jelita,panggil saja saya Ita.Maaf kan saya Nona,saya hanya bekerja di sini.Tidak boleh memberi tahu siapa bos saya,dan tidak boleh meminjamkan ponsel.Setiap saya di dalam kamar,kunci pun harus saya pegang."


Ara mendengarkan Ita bercerita,seperti nya dia bisa di ajak berteman.


"Tidak apa Ita.. Apa kau tahu dimana tas saya?" Ita menggeleng.


"Kalau boleh tahu,umurmu berapa?"


"23tahun nona"


"Suamiku juga punya adik,umurnya sama seperti mu"

__ADS_1


Ita semakin penasaran dibuat nya,sebuah ide muncul.


"Kalau boleh tau siapa nama suami anda nona?"


"Fandi brahmana,cucu dari Brahmana"


Ita melebarkan mata,dan menutup mulutnya..


"Kenapa terkejut?" Ara melihat perubahan di mukanya.


Brahmana group itulah yang ada di pikiran Ita,sudah dapat di pastikan wanita yang di depan nya adalah Nona muda Brahmana.


Pengusaha, konglomerat.Usahanya ada di belahan bumi manapun.Sulit dipercaya nona muda nya se sederhana ini berpenampilan.


Pak Reno bosnya telah menculik Nona muda Brahmana.Ita menggeleng kan kepala nya.


"Maafkan saya Nona tidak bisa membantu anda". wajah Ita murung.Dia tahu jika dia sedang terlibat masalah besar. Memperlakukan dengan baik adalah langkah nya untuk di maafkan jika kelak penyekapan ini terungkap.


"Itaa..Apa bos mu adalah Reno?"


Tidak pernah mempunyai musuh seingat Ara,tapi belakangan ini hanya Reno lah yang sering mengirimi pesan yang terdengar mengancam.


Ita tak menjawab,,


"Jika itu benar,katakan padanya.Temuilah aku , jangan menjadi pecundang yang hanya melihat di balik layar" Mata Ara melirik pada cctv yang ada di atas sofa.


Ara merebahkan kembali tubuhnya di ranjang,di tarik selimutnya hingga batas dada.Sudah larut malam,jika Fandi tahu dia belum tidur pasti akan marah.


Ara menyentuh perutnya "Mari kita tidur tanpa papah mu,dan semoga hari esok akan lebih baik."


.


.


_to be continue..

__ADS_1


__ADS_2