
Sudah beberapa kali Ara mengalami bersin-bersin pagi ini, tidak demam hanya saja sekitaran hidung sedikit merah.
Entah apa yang membuatnya bersin-bersin terus,hingga membuat seisi rumah meng khawatirkan.Siang nanti empat bulanan akan di adakan.Tapi sepertinya Ara terkena flu.
Berbagai macam spekulasi muncul di benak mereka.Mulai dari Opa yang membawa keluar rumah pagi sekali,makanan dan minuman yang tidak di jaga,hingga Jelita yang sering membuat Kan nya es dikala siang terik panas melanda.
Fandi di buat kesal dengan seisi rumah,tidak ada yang bisa jaga Ara,berawal dari kandungan yang lemah, dan kehamilan yang pernah membuat Ara badrest.
Setelah mandi air hangat,Ara merebahkan diri di ranjangnya.Masih ada empat jam lagi untuk menuju hotel.
"Istirahat sayang, bentar lagi dokter Rima datang.Opa yang mencarikan dokter spesialis obgyn untukmu" Masih dengan laptop yang menyala, sama-sama di atas ranjang.
Membuka laptop dan sementara bekerja dari rumah,ada Allan asisten nya yang sangat bisa di andalkan.
"Aku tuh tidak sakit sayang,kalian terlalu lebay_"
"Sayang tutup laptopnya,aku mau di peluk!"
Satu kata ajaib dipeluk .Istrinya sangat suka sekali berlama-lama di pelukan Fandi.Bahkan kadang di kamar berlama-lama untuk bisa di peluk suaminya.
Fandi yang mengerti itu pun segera menutup laptop nya dan mendekati istrinya.Tidak tanggung-tanggung Ara memposisikan dirinya di pangkuan Fandi,dan memeluk pinggang nya.Wajah dia letakan pas di dada Fandi.
Nyaman,itulah yang Ara rasakan.Berawal dari pernikahan karna kepergok satu kamar,kini Ara semakin bersyukur di cintai oleh Fandi.Awalnya sulit menerima,tapi Ara bukan perempuan yang bodoh.Dia mengerti hak dan kewajiban.
Hanya hitungan menit Ara tertidur,usapan demi usapan tangan Fandi di punggung nya membuat Ara merasa tenang.
Fandi dikejutkan dengan kedatangan Maria yang membuka pintu.
"Fan.... oh maaf,mamah tidak tahu" Maria sudah biasa,keluar masuk kamar menantu nya.Beberapa kali memergoki mereka bercumbu mesra juga menjadi hal yang biasa.
__ADS_1
Sssttt!!! satu jarinya diletakkan di ujung bibir.
"Masuk saja mah!" suara nya nyaris hampir tak terdengar.
"Ada dokter Rima,Mau memeriksa Ara boleh?" Tak kalah lirihnya ucapan Maria.Dan di angguki oleh Fandi.
Maria dan Dokter Rima masuk,merasa sungkan dengan pemandangan di depannya,dokter cantik itu segera menunduk.
"Sayang bangun!!Dokter nya sudah datang!" Pipi Ara di tepuk kecil "Sayang,ada dokter bangun!"
Ara menggeliat,membuka matanya.Fandi membopong tubuh istrinya untuk diletakan bersebelahan dengan nya.
"Tidak di suntik kan?" Pertanyaan konyol, lagi-lagi masalah di suntik,mereka terkekeh mendengar nya.
"Tidak" jawab Fandi.
"Mahh..." Fandi menengaih,dan Ara hanya tersenyum malu.
🍀
🍀
🍀
Setelah beberapa menit pemeriksaan selesai,dan berakhir Ara di infus vitamin C.Daya tahan tubuhnya menurun karna alergi wewangian.
"Kenapa bisa ya dok?" tanya Fandi penasaran.
"Bisa,ada beberapa jenis manusia yang tidak suka parfum, terlebih lagi jika mengandung kadar alkohol yang terlalu tinggi.Itu bisa menimbulkan rangsangan saraf yang berlebihan.Dan mengakibatkan imun tubuh rendah atau drop_"
__ADS_1
"Mungkin ada orang rumah yang memakai wewangian apa?.." jelas dokter Rima.
Maria dan Fandi saling bertatap, menyalurkan pertanyaan.
Rima yang melihat interaksi Ara,Fandi,dan Maria semakin membuktikan bahwa memang penerus Brahmana Group sudah memiliki tambatan hati,dan kini sedang mengandung.
Benar saja dirahasiakan,selain cantik suaminya juga sangat bucin.Apa benar dia janda?kenapa tubuhnya tidak terlihat janda?
Ada pepatah berbicara,bertamu lah ke rumah orang dalam keadaan buta dan keluarlah dalam keadaan bisu (Kalau salah benerin ya say!😉).Harus nya seperti itu sikap dokter Rima nanti.
"Setelah vitamin,infus lalu istirahat sebentar.Kalau dilihat dari fisik nona kuat jadi nanti siang bisa beraktivitas kembali.Saya sudah mengajarkan Jelita untuk mengganti infus nya"
Mereka yang ada di sana mengangguk paham.Terlebih Jelita,dia benar-benar memperhatikan penjelasan dokter.
"Terima kasih banyak dokter Rima" Fandi menundukan wajahnya.
"Mari saya antar kan keluar!" Maria menawarkan diri.
Merasa ada yang segera di lakukan oleh Fandi,tangan Ara yang sedari tadi melingkar di lengan nya,dia turunkan karna sudah kembali tidur.
"Jelita,nitip Ara.Ada yang akan saya kerjakan." Di angguki oleh Ita.Fandi pun berlalu.
.
.
.
to be continue
__ADS_1