
Pekerjaan yang hari ini selesai tertunda karna mood Fandi berantakan,kedatangan Opa nya membuat kesabaran nya yang setipis tissu itu menguap.Selalu saja tolak ukur Opa nya dengan bisnis.
Imbas mood jelek Fandi adalah jadwal yang harus di ubah,Susan sampai melayangkan protes kepada Allan karna dua kali kerja.Allan hanya pasrah di salahkan keduanya.Sekretaris dan Bos nya.
"Memang aku baby sitter nya,harus merawat,menjaga agar mood nya bagus"
Opa sama sekali tidak menemui Fandi kembali di ruangannya,gengsinya terlalu tinggi untuk melakukan nya.Lebih baik kembali ke kediaman utama.Fandi memang keras kepala,tidak mungkin langsung patuh.
Terlebih lagi dia merasa hanya dia lah cucu laki-laki,dan pewaris Brahmana Group,meski awalnya tak tergiur dengan harta yang berlimpah,namun wasiat mendiang Papah hingga Fandi menjadi seperti sekarang ini.
"Petra..." lelaki tua itu berdiri memandang luar lewat jendela yang menjulang tinggi di lantai tiga kamarnya.
"Iya Tuan" selain assisten,Petra adalah tempat Opa berkeluh kesah berbagi segala nya.
"Apa mungkin aku mendapat kan informasi yang salah?Coba lah tanyakan kepada Allan,tentang Istri Fandi" beliau menjeda kalimatnya,semakin tua semakin susah untuk berbicara lantang sebenarnya.
"dan satu lagi... Kau tau apartemen yang mereka tinggali bukan,aku antar kan ke sana siang ini.Aku ingin bicara dengan nya"
"Mengenai Informasi itu,maaf saya lancang.. bukan hanya Fandi yang sangat mencintai nya....Allan bahkan sempat bercerita tentang nya kepada saya"
Opa langsung menoleh Petra yang sedang menunduk " Allan juga menyukainya?"
"Itu dulu,sebelum di nikaih oleh Tuan muda"
Seorang art masuk membawa nampan.Lelaki tua itu bahkan bosan melihat nampan yang berisi air dan beberapa butir obat.
"Cepat lah kemari,aku sangat bosan melihatnya" meminum nya sekaligus.Hidup nya terasa ketergantungan,hampir enam tahun mengkonsumsi nya tapi tak ada perubahan.
"Aku istirahat sebentar,tolong nanti ingat kan ku untuk ke apartemen itu.. aku ingin mengetahui lebih jelas" berlalu ke bilik nya,masih di ruang yang sama hanya terlihat lebih privasi disana.
Petra undur diri.Merasa ada yang salah memang dengan semua ini.Mungkin benar kata Tuan muda nya,uang yang Tuan besar nya hamburkan salah.Pasalnya informasi yang beliau dapat semua tidak benar.
Apa yang Allan cerita dengan yang di dapat oleh Tuan nya sangat bertolak belakang.Petra berinisiatif menghubungi Allan anaknya.
Mungkin dia tahu,semoga saja!
🍀
🍀
🍀
Lagi-lagi merasa bosan di rumah,art nya sudah pulang beberapa saat lalu,karna ijin pulang cepat.Ara pun mengijinkan nya.
Berselancar di sosial media nya adalah jalan membuang kebosanan,Fandi yang beberapa saat lalu mengabari tidak pulang makan siang,tapi nanti akan pulang lebih awal.
Berbagai aplikasi sudah dia buka,yang terakhir aplikasi kamera merah. Ara penasaran dengan pemberitahuan permintaan pesan,mengulangi nya lagi padahal sudah jelas siapa.Itulah kebiasaan Ara.
Dengan tidak sengaja dia membuka nya,mata nya membulat lebar.Nafasnya terasa sesak.Beberapa foto diterima nya.Foto apartemen,segala tindak tanduk Ara dan Fandi bahkan semua ada disana.
Sampai bertemu lagi Ara ku,kita berdekatan,hanya saja waktu yang belum tepat untuk aku bisa membawamu.Sampai jumpa di waktu yang segera tiba.
__ADS_1
_aku mencintai-mu_
RENO
Tubuhnya bergetar hebat,perut nya tiba-tiba kram.Ara menahan nya,butiran keringat mulai keluar dari dahinya.Menarik nafas dalam-dalam dan membuang nya perlahan.Air mata nya menetes.
Ting..
Ting...
Bel yang berbunyi, semakin menambah ke khawatiran Ara.Semakin sakit pula perutnya.Dia beranjak mencoba melihat siapa yang datang.
Monitor menyala.
"selamat siang,benar disini kediaman Fandi Brahmana?"
Ara memastikan wajahnya dahulu,seperti nya dia kenal dan pernah melihat tapi dimana.Perutnya semakin sakit,wajah nya pucat.
"Saya Petra assisten pribadi Tuan Brahmana,boleh saya masuk?" merasa orang yang di dalam sana tidak menjawab,Petra memperkenalkan dirinya.Mungkin Ara sudah di beri pesan tidak membuka pintu orang asing.
"Oh maaf.... se-bentar saya buka" Perutnya benar-benar tidak bisa di kendalikan.
Pintu terbuka,menampakan Opa Brahma dan Petra tak jauh di belakangnya.Ara yang tahu itu segera memberi salam dan mencium punggung tangannya dengan Taksim.
"Boleh masuk?" kini giliran opa yang angkat bicara.
"Oh,, silahkan ma__"
Opa melihat darah di bawah lutut Ara.
"Petra,bawa dia ke rumah sakit sekarang!"
Petra menggendong dan membawa ke mobil, lalu keluar dari baseman,melaju dengan cepat.
"Telfon Anak nakal itu Sekarang Pet!"
Jari nya sangat cekatan,padahal dia juga mengemudikan mobil.
Sesampainya di rumah sakit Ara langsung di tangani oleh dokter ahli kandungan,opa Brahma dan Petra duduk bersisian menunggu di depan pintu.
Seorang perempuan yang sangat cantik keluar dari pintu.
Petra langsung mendekat "Bagaimana keadaan nya Dok?"
"Anda?..."
"Kami keluarga nya Dok" Opa segera menjawab, bagaimana pun juga Ara tetap lah cucu menantu nya.
"Keadaan nya sudah membaik, begitu juga keadaan janin nya,karna cepat di tindak lanjuti.Pendarahan nya sudah berhenti,tapi tetap butuh istirahat total,dan usahakan jangan terlalu tertekan atau berfikir yang terlalu dalam,karna bisa mempengaruhi janinnya.Untung mereka kuat.Sebentar lagi boleh di jenguk.Saya pamit dulu" Dokter pun berlalu di ikuti para perawat yang baru saja membuka pintu.
"Om!!!!..." Fandi berlari,fikiran nya sudah tidak karuan.
__ADS_1
Petra menoleh "Mana Ara om?" Petra menoleh ke pintu.
Fandi segera masuk dan ternyata di sana ada Opa Brahma,duduk di samping Ara.
"Kenapa Opa ke apartemen ku?apa yang Opa lakukan kepada Ara,kenapa dia bisa begini Opa? Opa?!!!"
"Shutttt! istrimu sedang tidur,kita bicara di luar" Fandi mengikuti Opa nya.
.
.
"Opa?jawab aku?!" Fandi nampaknya sudah berang, opa nya sudah mulai mengisik orang yang ia cintai.
"Tadi,memang Opa ke apartemen mu,tapi baru di buka kan pintu, tiba-tiba dia pingsan.Dia pendarahan Fan,lalu Opa segera membawanya ke sini,opa hanya ingin melihat langsung istrimu,tidak lebih"
"kenapa tidak berta_"
"Kau pasti tidak mengijinkan" Belum juga selesai,tapi opa sudah bisa menebak akhirnya.
"Kau tidak memperkerjakan art?uang mu mana?sudah miskin?Kata dokter jika bukan terlalu cape dia tertekan,dan berakibat pendarahan"
"Kau ingin membunuh anak mu sendiri?ingin membunuh penerus ku?"
"Opa?..."
"Opa akan mencari tau sebenarnya,Opa tidak akan memaksamu.Tapi ada syarat nya"
"apa?"
"Pindahkan cucu menantu ku di kediaman utama,dan ceritakan semua tidak ada yang terlewat satupun"
Fandi merasa bahagia mendengar penuturan Opa,dia tahu Opa nya sebenarnya baik.Hanya saja orang sekitar yang slalu membuat pikiran nya berubah,Jika Brahmana dulu Menikahi Maria yang hanya putri dari keluarga biasa saja,dan keluar dari mantion. beliau tidak mau penyesalan nya terjadi ke dua kalinya pada Fandi.
Bagaimana pun perempuan dari kalangan keluarga biasa saja mampu mendidik penerus yang tangguh, berprestasi,dan kompeten.
"Terimakasih opa" Fandi memeluk haru opa nya.
pletak! "Jangan menangis bodoh!" Fandi langsung menghapus air matanya di pipi.
"Apa calon cicit ku kembar?"
.
.
.
.
to be continue_
__ADS_1