Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
Terbongkar


__ADS_3

Suara gerbang terdengar dibuka oleh security,dan kereta besi milik Fandi pun masuk dan terparkir di halaman.


Tergesa-gesa turun dan melangkah sedikit berlari masuk ke dalam.Dia bertemu kedua sahabatnya di ruang tamu.


Setelah bersalaman dan duduk di sofa,Dia merasa gugup dengan kedatangan sahabat nya.Fandi mengingat jebakan yang dibuat oleh keduanya terjadi dan di setujui oleh nya.Dia terlibat dalam penjebakan Ara dan diri nya sendiri.


Sejauh ini ingin bercerita dan mengakui nya kepada Ara,tapi waktu lah yang belum tepat.


"Kenapa kalian tidak ke kantor saja?"


"Aku tidak tahu kantor mu"


"Kenapa tidak menelepon ku dulu?"


Toni dan Radit mengangkat bahunya.


"Nomor ku bahkan selalu diabaikan oleh mu.Nomor yang anda tuju sedang sibuk!"


Ya,beberapa kali menelpon jawabannya sama.Operator yang menjawabnya.


"Ternyata kau jadi menikah dengan Ara.Jebakan ku dulu berhasil ya,dia sedang mengandung Fan?"


Fandi mengangguk


"Kau gerak cepat juga,lima tahun tidak bertemu.Ara sudah mengandung tiga kali!"


"Ya benar,benih mu tokcer juga Fan!" sipaling iseng Toni sudah membuka mulut dan di pastikan setelah ini makin tidak jelas bicaranya.


"Bagaimana rasanya janda Fan?Waktu itu kan kau langsung menghilang,aku ingin mengorek informasi padahal!"


Benarkan,baru saja di bilang sebentar lagi mulut nya makin tidak jelas.Ini malah makin meledak.


"Jangan bahas itu,itu urusan ku dan istriku!"


Toni dan Radit tersenyum hambar.Orang di depan mereka ternyata tidak seperti Fandi yang sering dia kenal.Dia adalah bos besar disini.

__ADS_1


Wibawa dan harga diri nya disini sangat di junjung,terlebih lagi membawa nama perusahaan dan nama besar kakek nya Brahmana.


"Kau lupa Ton,dia di sini siapa?" Radit menyenggol lengan Toni mengingatkannya.


"Bukan begitu Sit,bercerita tentang itu sama saja kita menaruh kotoran di muka sendiri bukan?itu rahasia ku dengan istri ku,cukup kami saja yang tahu."


Toni dan Radit terperangah dan merasa malu dengan apa yang di ucapkan Fandi memang benar.


"Tapi setidaknya jebakan yang kita buat malam di saat reuni Akbar itu berhasil kan?"


"Hahhh,apa?!!"


Tanpa mereka tahu,Ara sudah mendekati mereka dengan dua cangkir teh dan beberapa cemilan.


Fandi tercengang,istrinya sudah ada di sana dan mendengarkan obrolan itu, terutama kalimat terakhir Toni.


Dirinya mendengar jelas apa yang Toni katakan.Nampan nya langsung di letakan kasar di meja,dan melangkah pergi meninggalkan suami dan temannya.


"Sayang?"


"Fahira Feryaldi,stop disana aku bilang!"


Tidak dihiraukan,bahkan ketika Fandi mengancamnya Ara tetap berlalu pergi.


Fandi menatap tajam pada kedua sahabatnya.


"Gara-gara kalian istriku marah,dia belum tau yang sebenarnya.Aku belum menceritakan itu!"


Toni dan Radit pun sama terkejutnya,merasa bersalah pasti mereka.


"Minumlah dulu teh nya,setelah ini save nomor ku.Kalian bisa menghubungi ku saja.Aku mohon beri waktu untuk ku membujuk istriku dahulu.Besok kita mengobrol lagi."


Mengusir dengan sangat halus,seperti itu mungkin kedengarannya.Tapi Fandi berharap mereka pulang terlebih dahulu,karena ucapan Toni lah yang membuat Ara marah.


Terbongkar jebakan masa lalu,pada saat reuni Akbar lima tahun silam ternyata Fandi terlibat di dalamnya,dan itu sengaja dia lakukan untuk mendapatkan Ara.

__ADS_1


🍀


🍀


🍀


Ara duduk di sofa panjang memangku Hafi yang sedikit merasa demam mendadak.Tatapan nya menuju halaman dan jalanan kota yang terlihat dari sana.


Tidak menyangka kejadian lima tahun silam suaminya ikut terlibat di dalam nya dan itu memang jelas di rencanakan mereka.


Pikiran nya terus bergulir ke masa lalu mengingat semua hingga kejadian malam panas di sebuah penginapan,tamparan yang dilayangkan oleh mas yoga kakak lelaki Ara yang bahkan tak pernah sekali pun marah,bisa menampar nya karena ulah Fandi.


Ara bisa saja memenjarakan pelaku nya pada saat itu,tapi dia memilih diam karena Fandi bertanggung jawab,lagi pula hal seperti itu adalah aib.


Tangan Ara di cekal dan di geser oleh suaminya.Mengambil Hafi yang tertidur di pangkuan nya lalu menggendong dan akan memindahkan ke kamar Maria.


"Mah,nitip Hafi dan Riza sebentar.Aku ingin bicara dengan Ara." Maria pun mengangguk.Dia merasa Ara terdiam dan memang sesutu terjadi pada mereka.


"Riza sama Opa dulu sebentar ya, Papah ada urusan dengan Mamah" Riza pun mengangguk patuh,tapi matanya terus menatap ke dua nya hingga hilang di balik pintu.


Fandi menarik Ara menggandeng untuk menuju kamar nya sendiri setelah meletakan Hafi di kamar Maria.


Keduanya memasuki kamar,tangan Fandi mengunci ganda pintu itu.Ara terus berjalan memasuki kamar mandi untuk mencuci muka.


"Sayang,biar aku jelaskan.Sini duduk!"


Kali ini Ara menepis tangan suaminya.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2