
Ucapan Ara tidak main-main,tiga hari di rawat dan dia pulang ke rumah paman nya tanpa di antar Fandi atau pun Allan,bahkan sopir di rumah saja dia tolak.
Hatinya sudah mengeras,tidak akan bertemu Fandi dulu stelah masalah mereka selesai.Bagaimana pun juga Ayu memang kekasih Fandi dulu.
Susah menjalin hidup memang,jika salah satunya belum kelar dengan masa lalu nya.Seperti ini lah yang akan terjadi.Tidak mau di salahkan Ara mundur,menunggu suasananya enak dia akan kembali.
Bersama dengan paman nya adalah jalan satu-satunya yang dia yakini.Tidak menerima siapapun yang akan menemuinya.
"Kamu jadi periksa kandungan nak?" Paman Pardi mendekati Ara yang sedang sarapan.
"Jadi paman,sudah mengambil antrian.Sebentar lagi aku ke sana" Sejak seminggu lalu Ara bersama paman dan bibi nya,tak terlupakan ada Galih yang merupakan sepupu Ara,dia bekerja di bengkel mobil yang cukup terkenal di kota ini.
"Nih Ra,buat periksa kandungan." Galih memberikan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Astaga Galih,aku merepotkan jika aku menerima itu.Uang ku lebih dari cukup jika hanya untuk memeriksa kandungan"
"Jangan sombong Ra,aku tahu suami mu keturunan Sultan dan itu anak mu sama saja.Tapi tolonglah jangan menolak, Bagaimana pun juga kau adikku" Ara terharu dengan ucapan sepupunya.
"Ya sudah terima kasih" senyum Ara merekah.
Biarlah apa yang sebenarnya dia rasa,dia sembunyikan dalam di relung hati nya terdalam.
Bersama dengan paman nya,dia menjadi lebih tenang dan santai,tidak mendengar berita apapun di dunia luar.Wajahnya sudah mulai bersinar tidak seperti kemarin pucat.
Kini Ara sudah menunggu di bangku,nunggu namanya di panggil oleh perawat.Mata nya melihat sekitar,banyak pasangan suami istri yang saling menemani.Tiba-tiba hatinya terenyuh mengingat suaminya,matanya berkaca-kaca.
Ibu Fahira Brahmana
Perawat memanggil namanya,tanpa di duga seseorang menguntit di belakang dan ikut masuk ke ruangan.
Ara menengok,matanya mengerjap.Suaminya disini menemani memeriksa kandungan.
Fandi membantu Ara menaikki kasur dan merebahkan tubuhnya di sana.
__ADS_1
Dokter mulai mengusap kan gel ke perut Ara,alat ditempelkan.Dokter pun tersenyum.
"kenapa dok,ada apa dengan mereka?" tanya Fandi penasaran
"Kedua nya baik-baik saja,sangat sehat,hidungnya mancung-mancung ya,seperti papah nya ini."
Ara yang mendengar nya langsung melengos,sedangkan Fandi tersenyum merasa bangga.
"Semua nya normal dan bagus, kira-kira besok mau lahiran normal atau Caesar?"
"Caesar.."
"Normal.."
Dokter pun tersenyum mendengar kedua nya yang tak sama.
"Normal saja dok!" Ara menekan kan kalimatnya.
Ara yang mendengar itu,melirik suaminya sinis,Fandi yang tahu lirikan istrinya hanya tersenyum hambar.
🍀
🍀
🍀
Setelah selesai dengan segala pemeriksaan dan mengantri beberapa vitamin,Ara dan Fandi kini berada di selasar rumah sakit.
"ayok sayang!" Fandi berusaha mengambil hati Ara.
"Aku mau pulang tempat paman!"
"Iya aku tahu,aku antar kan ayok masuk!" kesabaran nya harus banyak kali ini demi istrinya.
__ADS_1
Masalah Ayu sebenarnya sudah selesai,tapi Ara masih saja di rumah paman nya,belum ingin kembali.
Selama di perjalanan Ara tertidur pulas,Fandi menepikan mobil nya,hanya demi memandangi wajah istrinya yang sedang tidur.Kerinduan untuk memeluk nya sudah tak bisa terbendung lagi.
Kursi jog Ara diturunkan perlahan,Fandi merangsek mendekati istrinya,mencium dan mengusap pipi nya.Ara masih diam tak bergeming.Fandi pun mendekat dan mengecupi bibirnya.
Kesabaran nya mulai menipis,Fandi pun memperdalam kecupan nya menjadi hisapan.
Bragkk!! Plakk!!!
Ara tersadar dari tidurnya,mendorong Fandi dan menampar nya.Suami nya kaget dengan tindakan istrinya.
"Astaga Araaa,Fahira Brahmana!" Fandi di buat gemash sendiri dengan istrinya.Ingin marah tapi nanti istrinya semakin marah lagi.
"Kenapa aku di tampar sih?kamu istriku Ra,wajar kan aku melakukan itu?Aku kangen."
"Tidak lupa kan,aku masih marah!"
Fandi menghembuskan nafas nya "Mau sampai kapan,masalah nya sudah selesai.Ayolah sayang pulang!Aku mohon"
"aku kesepian,aku merindukan mu,aku membutuhkan mu Fahira Brahmana" Fandi tersenyum setelah mengucapkan nama Ara,nama belakang Ara ternyata sudah diganti walaupun hanya untuk penyebutan saja.
"Nanti aku pasti pulang"
"Jangan lama-lama" Fandi memeluk tubuh istrinya.meski Ara tidak membalas,dia tidak peduli.
.
.
.
to be continue_
__ADS_1