
Menyimpan ditempat yang jarang dijamah dan didatangi oleh orang lain selain dirinya adalah hal yang paling benar,itulah yang ada dalam pikirannya.
Dia tidak berfikir,bangkai semakin lama semakin akan tercium juga.
Fandi hendak masuk ke kamar nya,hal yang sama juga Jelita akan masuk.
"apa?" alisnya terangkat.
"Maaf Tuan,untuk nona.Tadi nona Ara minta di buatkan ini"
Fandi mengambil dari nampan yang di bawa oleh Ita.
"Aku saja ta,kau kembalilah ke paviliun,hari ini biar aku saja yang melayani Ara.Kebetulan aku pulang lebih cepat"
"Baik Tuan" Ita pun mengangguk dan pergi dari sana.
Dilihat istrinya sedang merebahkan diri di papan ranjang,sudah berganti dengan daster rumahan merk ternama.
Fandi merangkak,mendekati Ara.
"Jus nya sayang" Fandi memberikan segelas jus
Sejak kapan dia suka parfum perempuan?
"Terimakasih,letakan di atas meja dahulu nanti aku minum!" suaminya pun meletakan di sana.
"Aku mandi dulu ya?" kecupan di kening tak lupa Fandi berikan untuk istrinya.Ara hanya diam tanpa kata.
Fandi mencopot semua baju nya tanpa sisa dan meletakan di keranjang baju kotor.
Selesai dengan ritual mandi nya yang tak seberapa lama, Fandi merebahkan tubuhnya lagi di ranjang.Ara saat itu sudah tertidur.
Suaminya mencoba menatap wajah istrinya.
maaf ya,sudah membentak mu tadi pagi,sudah mengacuhkan telfon mu kemarin.Aku takut sayang,takut jika kau mengetahui nya kau akan pergi dari ku.Secepat mungkin aku akan singkirkan dia dari hidup kita.Aku janji!!!
Fandi hanya berucap dalam hati,mana mungkin dia berani bersuara jika istrinya hanya pura-pura tertidur bagaimana?
🍀
🍀
__ADS_1
🍀
Keduanya tertidur hingga magrib menjelang,Ara yang merasa semakin lama semakin berat nafasnya.Membuka mata,ternyata tangan kekar suaminya ada di atas dada nya.
Mungkin tadi mengusap perut nya,lalu ketiduran.fikirnya seperti itu.
Tangan nya menepuk lengan Fandi.
"Bangun mas,aku berat.Susah nafas!"
Fandi mengerjap dan menggeser tubuh, posisinya memunggungi istrinya.
Hendak membuka handle pintu,ponsel Fandi berbunyi.Ara meraih dan mencoba membuka nya.
"AM"
"Terima kasih untuk waktu nya tadi siang.
Aku benar-benar senang bisa bertemu dengan mu lagi.
See u next time 😘"
Insting wanita memang kuat, Ara membuka catatan panggilan.Benar saja ada beberapa panggilan masuk dan keluar dengan durasi yang lumayan lama untuk mengobrol.
Tapi selain chat itu tidak ada yang lain.Sabar nya masih luas untuk marah hari ini.Mengumpulkan bukti-bukti lain adalah tujuan nya.
Tiba-tiba dia merasa kan perutnya sedikit kram,Ara menumpu tubuhnya di sofa dengan tangan nya.Dan tangan yang satunya mengelus perut,keringat sudah membasahi kening nya.
mamah mohon nak!tenang.
menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan.Ara melihat pantulan suaminya dari vas bunga hiasan di sudut.Masih terlelap tidur.
tok..tok..tok...
"Nona..."
"Iya sebentar!"
Pintu di buka oleh Ara "Maaf non,baju kotornya mau bibi ambil"
"Biar aku saja bi,bibi tunggu di sini" Ara meraih keranjang berukuran besar.Dan membawa nya ke dalam.Satu persatu baju di pindahkan,benar saja parfum wanita,buka parfum nya,mamah,atau pun jelita.Tidak mungkin sekali kan Jelita,sementara dari tadi dia bersamanya.
__ADS_1
pletak..
Bersamaan dengan sesuatu jatuh dari jas, Fandi pun terbangun.Ara meraih sesuatu itu,mata suami nya pun melihat.
"Mass... ini lipstik siapa?!"
"Aku tidak tahu Ra" Fandi pun terkejut akan barang itu.
"Ini jatuh dari jas mu,kau sedang tidak bercanda kan,kau tidak memakai ini kan?!" Emosi Ara sudah mulai tidak terkontrol.
"Itu bisa saja dari baju mu sayang,di keranjang itu ada baju kita" Fandi masih bingung dengan barang itu.
"Lihat!!!!Lihat lah,sejak kapan aku memakai merk ini,dan sejak kapan kemeja mu bau parfum perempuan?_" Entah kerasukan dan keberanian dari mana,Ara melempar kemeja itu jatuh tepat di muka suaminya.
"Kau bohong mas!!!"
aakhhh.. perut nya kram lagi,Ara menahan sakit itu.
"Sayang" Fandi mendekat berusaha meraih,tapi Ara menghindar.
"Sekarang aku minta buka ponsel mu!!!siapa yang kau beri inisial AM di ponsel itu?!!"
Mata Ara sudah berkabut,menahan kram,sesak di dada,dan menahan tangisnya.
Suaminya membuka ponsel,Ara berjalan keluar tepat menubruk bibi yang sedang membawa sebuah kotak.Isi nya tercecer berhamburan.
Ara memandangi satu per satu foto yang ada di lantai,dia meraihnya dan mengumpulkan nya.
Fandi yang dibelakangnya terbelalak mengetahui itu.
"Ini Ayu Mahesa kan?aku mengenali wajah ini,sangat mengenali.Kalian??"
Ara menggeleng tidak percaya,suaminya berkhianat.
Matanya menatap suaminya,Fandi pun sama dia menggeleng.Bibirnya masih kelu untuk berkata.
.
.
to be continue_
__ADS_1