Takdir Cinta Fahira

Takdir Cinta Fahira
Kerja keras


__ADS_3

Siang menjelang.Kedua nya masih berada di atas ranjang,dengan selimut yang sama,dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.


Ara tertidur pulas di pelukan suaminya.Entah sengaja atau bagaimana orang di dalam rumah tidak ada yang menggangu sama sekali.Mereka memberi ruang dan waktu pada pasangan yang masih di bilang pengantin baru.


Bukan hanya penghuni rumah,Allan pun yang tahu bos nya hingga jam makan siang belum juga datang,memaklumi itu.Terlebih Fandi sering bercerita jika istrinya semenjak hamil bertambah manja.


Memandangi wajah istrinya adalah satu hobi baru bagi Fandi.Dikecup seluruh wajah nya,tangan Fandi meraih tangan Ara.Dilihatnya jahitan yang baru setengah mengering.


Semburat senyum yang amat tipis nyaris tak terlihat di bibirnya.Ara sampai nekat menyakiti diri sendiri demi melindungi kehormatan nya,padahal Fandi sangat sadar sebelum dia merasakan pasti Reno sudah terlebih dahulu,wajar saja saat itu Reno ingin mencobanya lagi.


Ara menggeliat,merubah posisi nya.Selimut nya sedikit menurun hingga dua buah gundukan kenyal terpampang nyata.Beberapa tanda percintaan pun masih sangat jelas disana.


Aysshhh!!!kenapa reaksinya cepat sekali seperti ini.


Benda pusaka kebanggaan nya mengeras,saat melihat gundukan itu.


"Sayaang..." Ara tak jua membuka matanya.


Fandi yang tak sabaran mencoba mengecup bibir,dan berpindah semakin ke bawah.Bermain di leher dan dada,tak lupa tangan nya yang sedari tadi bermain di pucuk gundukan.


"Masssh...." Ara mulai mengerjap, lenguhan mulai terdengar dari bibirnya.


"sekali lagi yaa,sayaaang?!" Gairah nya sudah di ubun-ubun,sayang jika tak di teruskan pikirnya.


Fandi benar-benar melakukan nya,hingga tuntas.Terus menghujam milik Ara,yang menimbulkan suara-suara laknut di ruang kamar.


Tubuhnya tersungkur di sebelah Ara setelah mencapai puncak.Tak lupa mencium kening istrinya,dan memeluk tubuh yang masih polos.


Efek tidak bertemu dua Minggu,kenapa segila ini?

__ADS_1


Batin Fandi,matanya terpejam.Merasa ada sesuatu yang tidak bisa di kendalikan saat tubuhnya bersentuhan lagi.Dia menggendong Ara ke kamar mandi untuk mandi.


Lebih baik memaksa Ara bangun untuk langsung mandi.Jika tak mandi-mandi,tak memakai bajunya bisa gila aku.


Ara pun menuruti suami nya saja.Toh perutnya sudah mulai lapar,hanya terisi segelas susu hamil saja tadi pagi.


🍀


🍀


🍀


Sebenarnya Ara malu,menjelang sore dirinya baru menuruni tangga, menginjakan kaki nya di dapur.


Tapi lain hal nya dengan Fandi,bibir nya tersenyum merekah lebar bak mendapatkan undian mobil mewah sore ini.


Maria yang ada di sofa ruang tengah sampai terheran melihatnya.Anaknya memang menikah di usianya yang sangat matang.Tidak menutup kemungkinan selama itu dia juga tidak punya pacar.Tapi entahlah pergaulan bebas nya mungkin tidak sampai mencicipi hal yang belum semesti nya.


"Mau makan apa mas?"


Fandi yang berada di belakang Ara,mulai memeluk nya.Tidak tahu malu sekali bukan?


"makan kamu terus kalau bisa sayang!"


Sebuah setempel lima jari mendarat di lengan berotot itu.


"Buruan, aku laperr!! Mau makan apa?kamu tunggu sana saja sama mamah!"


Ara sangat geram dengan tingkah suaminya,sudah dari pagi mengurung di dalam kamar.Masih kurang saja,tidak memikirkan calon bayi yang di dalam.Bagaimana rasanya?.

__ADS_1


"Wih galak!.. terserah kamu sajalah sayang" Fandi memutar tubuhnya, menghampiri Maria yang sedang menonton TV di ruang tengah.


Tubuhnya di jatuhkan di sofa panjang.


"Seharian tidur masih kurang Fan?" mamahnya iseng bertanya.


"Kerja keras aku mah,tidur sebentar doang!"


"Kerja keras kau bilang! di dalam perut Ara sudah ada dua,masih di bilang kerja keras?!!" Sebuah bantal melayang,dan di tangkap olehnya.


"Kalau itu udah keluar,nanti kita nambah lagi mah." Bukannya berhenti Fandi sengaja mengerjai mamah nya.


"Ara itu perempuan,sebentar lagi jadi ibu.Wanita itu di cintai,di ratukan,bukan jadi mesin pencetak keturunan mu sampai banyak.Kasian Fan!" Maria geram sendiri kepada anak laki-laki nya.


Fandi yang mendengar pun tertawa terbahak.


"Iya aku tahu mah,aku aja kasian liat Ara..Baru empat bulan tapi perut nya udah Segede itu tuh" sorot matanya melihat Ara yang membawa nampan menghampiri keduanya.


Satu piring stik daging sapi,kentang goreng saus carbonara,satu piring nasi dan dua mangkuk mix buah untuk dirinya dan Maria mertua nya.


Tidak lupa segelas air putih hangat.


"Ra,kandungan kamu sudah empat bulan kan?Bagaimana jika mengadakan empat bulanan?pasti seru,rumah akan ramai."


"Boleh mah,Ara nurut aja sama mamah,sama Opa juga,sama Mas Fandi juga"


"Yaudah nanti mamah yang atur aja" di sela-sela makannya Fandi menimpali.dan di angguki Mamah nya dan juga istrinya.


.

__ADS_1


.


to be continue_


__ADS_2