
Hingga malam menjelang yang di harapkan Ara pun benar-benar sirna,suami nya tidak mengunjungi ke kamar.
Ara yang berusaha mencari di sekeliling rumah nyatanya memang tidak menemukan Fandi.Hingga dia kesal sendiri ada apa sebenarnya dengan suaminya.
Bukan malah merindukan nya yang berhari-hari,bahkan hampir dua Minggu tidak bertemu.Ara bertambah kesal ketika ingin bermanja tapi tak bisa.
Jam sudah menunjukkan tengah malam,Ara Ter bangun dari tidurnya,menepuk sebelah kasurnya ternyata kosong,masih dengan posisi yang sama, bantal ,guling ,dan selimut.Memasuki kamar mandi pun,ubin nya masih kering.Mungkin terakhir kali di gunakan ketika Ara buang air kecil akan tidur tadi.
Pikiran Ara mulai menebak-nebak yang tidak karuan.
Awas saja ya nanti,kalau butuh aku tidak mau.Aku akan pulang saja ke rumahku.Aku tinggal pergi baru tahu rasanya rindu yang tak terbalas.Untuk apa disini jika tidak di inginkan.
Air matanya menetes, Ara naik kembali ke ranjang, merebahkan dirinya kembali ,dan mulai mengarungi mimpinya lagi.
Ciuman di kening,namun dia pura-pura menganggap nya mimpi.
Fandi merebahkan tubuhnya di sebelah Ara,setelah membersihkan diri di kamar mandi.Remuk redam yang dia rasa.
Bayangan itu melintas lagi di pikiran,posisi nya berganti miring memandang sang istri yang sedang tertidur lelap.Tangan nya mengusap Surai indah milik Ara.
Merasa dirinya sudah mengantuk.Bantal guling di letakan di tengah untuk membatasi.
🍀
🍀
🍀
Suara kumandang adzan mulai terdengar,Ara terbangun dan mendapati suaminya sudah di sebelah,namun dengan posisi membelakangi dirinya.
Rasa kecewa terbesit di hatinya.Perasaan dan hati tak sejalan memang,setelah mandi dan menunaikan kewajiban menghadap sang pencipta.Ara bergegas ke bawah membuat segelas teh untuk Fandi,membawa ke kamar.
Ternyata Fandi sudah bangun,dan hanya melirik Ara dengan ekor matanya.Fandi beranjak ke kamar mandi untuk mandi.
Ara masih merasakan perubahan suaminya semakin kentara,semakin kesal di buat nya.
Memilihkan baju dan meletakkan di atas ranjang.
Diraih nya koper disebelah lemari,beberapa lembar baju mulai dikeluarkan dari lemari,dimasukan koper.
"Mau di apakan bajunya?!" suara Fandi terdengar keras di belakang,Ara hanya menjeda aktifitas nya,melirik lewat ekor mata.
Merasa tidak ada sautan,Fandi mencekal pergelangan tangan Ara.
"Bajunya mau di kemanakan?"
__ADS_1
Berusaha terlepas dari cengkraman Fandi,Ara menggeser dirinya meraih tas,memasukan beberapa kosmetik dan dompet nya.
Fandi mengerutkan kening.
"Fahira Feryaldi,aku bertanya mau kau apakan koper dan tas ini?!" Fandi yang merasa di cuekin pun menekan kan kalimatnya di setiap kata.
"Pulang!!" Mata Ara mulai mengembun.
koper ditutup. Kaki nya mulai melangkah,tangan nya hendak meraih koper.
Braggkkk!!
Koper terhempas di sudut kamar mandi,Fandi sudah dulu meraih nya dan melemparkan.
"Aku berhari-hari mencari mu,sampai hampir gila.Ketemu,lalu kau akan meninggalkan ku,dan pulang??!"
"Kalau hanya untuk ditemukan,lalu di abaikan.Untuk apa aku disini!!"
Langkah nya terhenti,ketika Fandi memeluk dari belakang.
Ucapan Ara menyadarkan, bahwa istri nya sedang merajuk karna merasa di abaikan.
Mungkin salah Fandi juga yang semenjak sarapan tidak pamit mau kemana,dan tidak mengabari.Lelah yang Fandi rasa mungkin di salah artikan.Padahal sengaja menghindar untuk menyelesaikan masalah Ara di kepolisian.
Fikirannya pun bertanya,Bagaimana malam-malam sebelumnya, apakah Ara dan Reno sempat menghabiskan malam bersama?
Ara meronta ingin di lepaskan.Tapi pelukan Fandi semakin erat.
"Maaf...Maaf sayang"
Mendengar nya,air mata Ara meluncur seketika,menunduk,menangis. Tubuhnya di balik berhadapan.Tangan Fandi mengangkat wajah nya.
"Maaf... aku minta maaf sayang!" Fandi merengkuh,memeluk.Ara menangis sesenggukan.
"Kenapa mas,mengabaikan ku?"
Apa tadi dia bilang?mas?ahh sungguh manis sekali kedengarannya.
"Bukan mengabaikan,mas butuh waktu untuk menyelesaikan laporan di kepolisian.Reno,mas pastikan akan menjamur di penjara.Semua saksi mata harus mas lindungi.Termasuk mantan mertua mu".
Mendengar itu,Ara merenggang kan pelukan nya.Fandi mengusap air mata di pipi.Ara memandang lekat Fandi.
"Dimana Jelita mas?"
Fandi tersenyum.
__ADS_1
"Mas harus berterima kasih banyak pada nya,Karna dia sudah menjaga kesayangan ku ini dan calon anak-anak ku"
Tangan nya bergeser ke perut Ara,wajahnya menunduk dan Fandi memberondong dengan kecupan di sana.Meski tertutup baju,Ara merasakan geli.
"Jelita ada,dan mas lindungi.opa mengirim beberapa anak buahnya untuk menjaga rumah dia.Mas juga sudah memenuhi kebutuhannya selama kasus ini berlangsung,sampai selesai_"
"Dada ku sakit sayang,melihat kau di cumbu sangat brutal oleh Reno,walau kau menolak.Sempat berfikir sebelum malam itu pasti kau pernah menghabiskan malam bersama dengan nya.Tapi setelah mas bertanya dan mendengar penjelasan dari jelita,fikiran kotor itu langsung menguap hilang_"
Kedua nya menatap lekat.
"Maaf kan mas ya,mas bahkan mempunyai pikiran jelek sebelum mas sendiri bertanya kebenaran nya pada mu"
Wajah Ara muram,bibirnya mengerucut.Tangan Ara mencubit dada suaminya,yang sedari habis mandi masih memakai handuk yang melilit di pinggang nya.
"Jangan seperti ini!!" Fandi mencubit gemas bibir Ara,Dipeluk erat kembali tubuh istrinya yang semakin terlihat berisi.
"Sayang..."
"Hem..."
"Pintunya di kunci tidak?"
"Iya,dikunci.. " Ara mengangguk "kenapa memang mas?"
"Aku rindu!!" Fandi berbisik di telinga Ara.
"Hemppff..."
Sudah tidak butuh jawaban istrinya,Fandi merampas bibir Ara,awalnya hanya mengecup,tapi lama-lama semakin dalam menuntut.
Tubuh istrinya di giring ke ranjang dan direbahkan nya.Berhari-hari hingga hampir dua Minggu tidak bertemu dan merengkuh nya.Ara di buat melayang oleh setiap sentuhan suaminya.
"Ijinkan papah menengok kalian" bisikan di atas perut,terdengar jelas oleh Ara.
"Pelan-pelan mas!"
Fandi memposisikan dirinya,mengabaikan ucapan Ara.Penyatuan mereka pun terjadi di pagi itu.
.
.
.
to be continue_
__ADS_1