
Sudah dua Minggu Ara masih bekerja di Brahmana Group,tidak ada satu orang pun yang mengetahui dia adalah nyonya Fandi Brahmana,mereka hanya mengetahui Fahira Feryaldi yang dia kenal.
Selepas tempo hari,Fandi terbang ke luar pulau untuk beberapa hari menyelesaikan proyek besar di sana.
Selama dua Minggu hanya beberapa hari saja bertemu dengan istrinya, Ara belum juga mengajukan resign,Allan pun belum mengambil alih masalah bosnya untuk memecat Ara.
Allan masih sibuk mendampingi Fandi ke luar kota,sempat beberapa hari mereka berada di Australia,demi memenuhi undangan sahabat opa Brahma.
Hari ini Ara bekerja seperti biasa,rok sepan berwarna navy selutut, blouse berwarna baby blue terdapat hiasan pita di kedua lengannya,rambutnya setengah dia jepit ke belakang.Tak lupa high heels berwarna senada dengan kostumnya.
Kaki jenjang itu melangkah memasuki loby.Pagi yang cerah,seperti biasa awal bulan yang selalu di nanti oleh para karyawan.
"Dorrrr!!!..." seseorang mengagetkan nya dari belakang,dia tergelak tawa.
"Astagfirullah Saly! kau mengagetkan ku saja!" Ara memegangi dada nya.
"Cantik bener buk,tumben blue blue gini,kaya awan biru lagi jalan" keduanya tertawa terbahak.
"sialan lu sel" Ara tersenyum.
Mereka bersandar di meja resepsionis,mengobrol santai.Karna masih terlalu pagi dan mereka sudah datang.
Satu dua orang karyawan sudah mulai berdatangan.Mereka masih betah di sana hingga security berbaris memposisikan diri di depan pintu masuk.
Sely dan Ara yang mengetahui itu pun hanya mengedikan bahu.Mereka tidak tahu akan ada kunjungan.
Beberapa orang terlihat memasuki pintu,Opa Brahma dan assisten,kemudian di susul Fandi di belakangnya yang lengan nya melingkar tangan seorang gadis, kira-kira umurnya sekitar 24 tahun.Disampingnya ada Allan yang slalu bersamanya.
Pemandangan itu tak luput dari mata Ara,dada nya mendadak sesak,nafasnya terasa berat,mata nya sudah berkaca-kaca.Rombongan opa Brahma berjalan mendekat ke arah Ara,memang ruangan nya berada di jalur itu.
Mata Fandi dan Ara bertemu sejenak sebelum Ara menunduk hormat pada mereka.Fandi bisa merasakan tatapan Ara.
__ADS_1
Setau Ara,Fandi memang pulang hari ini.Tapi dia tidak tahu jika sepagi ini dia sudah langsung masuk kantor,mungkin Allan yang menyiapkan keperluan nya tadi.
Kepala Ara mendadak sakit,dia memejamkan mata.
"Sel,kau masuk saja dulu.Aku mau ke toilet sebentar" Ara pergi ke toilet,bukannya membuang hajat,dia berdiri di depan cermin,buliran bening meluncur begitu saja di pipinya.
hahh.. Ara tersenyum getir.Matanya tidak salah melihat. Perempuan tadi tangan nya melingkar di lengan Fandi,dia bersandar manja.
Ara memijat keningnya, benar-benar seketika kepala nya terasa berat dan sakit.Menghirup udara banyak lalu membuang nya perlahan.
apa dia selingkuh selama ini,siapa perempuan itu?
Mata nya terpejam mencoba melupakan bayang-bayang tadi.
Ara keluar dari toilet,ternyata Sely masih di sana menunggu nya.
"lama sekali Ra?wajah mu kenapa mendadak pucat?" Sely menggamit dagu Ara memperhatikan wajah temannya itu.
"Tiba-tiba kepala ku pusing Sel,tapi mungkin nanti akan membaik.Aku akan mencoba meminta obat kepada OB nanti"
🍀
🍀
🍀
"Pulanglah Mel,tujuan mu bukan disini kan?"
Melda adalah gadis berumur dua puluh tahun,anak dari rekan bisnis opa.Dia sengaja ikut pulang ke Indonesia karna ada satu alasan penting.
Tapi hendak pulang ke rumah nya opa menyarankan untuk ikut ke perusahaan dulu,nanti akan di antar Allan.Melda pun dengan senang hati menuruti kata opa,sambil berenang minum air,dia yang sedari tadi terus menempel kepada Fandi,membuat pria itu jengah.
__ADS_1
Benar saja,di loby kantor mereka bertemu dengan Ara,Fandi semakin di buat takut kala menyadari tatapan Ara tadi.
"Iyaa,aku akan pulang sebentar lagi" Melda masih duduk di sofa bersebelahan dengan Fandi.
"Lann,Allan!!!" suara nya sangat lantang.
"antar kan dia pulang sekarang juga Lan,kepala ku sakit melihat nya dari tadi di sini"
"Kak.." Melda merasa kehadiran nya tidak di inginkan,wajahnya cemberut.
"pulanglah,mamah mu sudah menunggu di rumah mel!"
Akhirnya dengan berat hati Melda pulang bersama Allan.
Tak..tak... Tangan Fandi bermain pulpen di goyangkan membentur meja.Sedari tadi mencoba menghubungi Ara tapi tidak di jawab satu pun panggilannya.
Fandi membuka laptopnya,menampakan CCTV ruangan divisi Ara,terlihat di sana Ara sedang brefing dengan yang lain,sesekali dia memegang keningnya.
Fandi sudah rindu dengan istrinya,tiga hari tidak bertemu membuat dia ingin segera pulang dan memeluk erat.
Tanpa dia tau,istri yang di rindukan sedang berada di mode tidak baik-baik saja.setelah melihat apa yang terjadi di depan tadi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
to be continue