
Tangan Fandi menghempaskan kasar genggaman Ara,hingga Ara terhuyung dan hendak jatuh jika tak kembali di tarik pinggang nya oleh Fandi.
hikz..hikzz..suara tangisnya mulai terdengar.
"Aku takut,apa yang terjadi saat mengandung Riza dan Hafi akan terulang kembali mas_"
"ngidam sampai memasuki tujuh bulan,keluar masuk rumah sakit,aku takut mass"
"Tapi tidak untuk di gugurkan sayang,kau tahu kan itu tidak dibenarkan oleh agama dan hukum.Ada aku,ada Mamah, ada pengawal nanti kita pekerjakan asisten lagi.Kamu istirahat saja!"
"Lalu Riza dan Hafi bagaimana?"
"Mereka pasti senang akan menjadi kakak,kita bicara kan nanti di rumah dengan mereka" Fandi mengusap air mata Ara yang sudah membasahi kemeja suaminya.
"Aku panggil kan dokter lagi ya?"
"Tapiii mas"
"Astaga sayang!!Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan selain ketakutan mu itu.Hanya manusia gila yang tidak normal yang membunuh janin nya sendiri!"
Ara mengerutkan wajahnya.Bukan terpaksa,hanya saja ketakutan nya menjadi senjata bagi dirinya.Dia senang mengandung,dan punya anak lagi.Hanya proses mengidam nya yang dia tidak suka.
"Iya mas"
"Iya apa?!Kamu membuat ku marah,tau tidak?!"
"Aku bukan tidak bahagia,aku bahagia memiliki anak lagi,tapi aku tidak suka proses mengidam nya" Wajah Ara cemberut.
"Bisa tidak,tidak usah mengandung. anak nya tiba-tiba ada di kasur"
"Oh kamu mau yang seperti itu?Ok..Akan aku hamili wanita lain saja,kalau begitu"
Kepala Ara menegak mendengar ucapan suaminya.Mata nya membulat.
__ADS_1
Tangan nya mengepal menonjok lengan Fandi berkali-kali.
"Coba saja,kalau kau ingin kehilangan segalanya!"
Ara pun menurut saja pada suaminya.Dokter kembali ke ruangan.mengecek dan memberikan resep.Beberapa saat berlalu,dia pun sudah di bolehkan pulang dengan syarat istirahat dan kurangi melakukan pekerjaan berat.
Meski sudah empat tahun yang lalu,tapi untuk berjaga-jaga saja jika kandungan nya lemah.
Fandi memeluk nya dengan posesif,Riza dan Hafi sudah lebih pulang karena belum makan siang.Mereka di antar Allan dan Jelita.
Sampai di depan pintu,Fandi masih memeluk Ara yang wajahnya masih murung.Dan sesekali menitikkan air matanya.
"Sudah jangan sedih terus,kasian yang di dalam sana ikut sedih"
Istrinya tidak menanggapi ucapannya.Langkahnya masuk ke dalam lift dan menekan angka dua menuju lantai kamar mereka.
Dia sadar tidak boleh lelah dan capek,maka dari itu Ara menggunakan lift.
Masuk ke dalam,dan membuka kamar mandi membersihkan tubuh nya lalu menaikki ranjang.
🍀
🍀
🍀
Lima belas menit yang lalu.
Maria mendengar suara mobil Fandi.Ingin keluar dari kamarnya,namun mata tajamnya melihat Ara mengusap pipi nya yang sedikit basah.
Masuki lift dengan wajah yang murung.
"Fan, Ara kenapa?"
__ADS_1
"Ara hamil lagi mah"
"Wah,selamat Fan.Mamah punya cucu lagi.Tapi kenapa wajahnya seperti itu?"
Fandi pun menceritakan semua nya,dan tak terlewatkan satu pun.Awalnya Maria kaget mendengar penuturan anaknya.
Tapi memang jika di pikir kehamilan yang pertama membuat dirinya badrest dan keluar masuk rumah sakit,mungkin trauma akan itu.
"Kau yang sabar Fan,dekati Ara,buat dia percaya diri tidak akan terjadi apapun dengan masa-masa mengandungnya"
Fandi mengangguk.
"Aku minta tolong,beri pengertian kepada Riza dan Hafi ya mah.Mereka dimana?"
"Tidur.Setelah makan siang tak lama lalu mereka tertidur"
Fandi pun menyusul Ara menuju kamar,naik menggunakan tangga.Memasuki kamarnya.Menghela nafas saat melihat istrinya sudah berbaring di ranjang dengan posisi membelakangi nya.
Fandi berpikir untuk mendekati Ara kembali,ia pun masuk kamar mandi dahulu untuk membersihkan diri.
Beberapa saat lengan nya melingkar di perut istrinya.Ara membalikan tubuhnya.
"Calon ke sayangan papah, sehat-sehat ya di sana,jangan nakal dan jangan membuat mamah mu susah" Fandi menghadiahi kecupan di perut istrinya.
Akhirnya pekerjaan pun sementara dia tinggal,ia serahkan kepada Susan dan dibantu Allan.
Keluarga adalah segala nya,apalagi ini istrinya.Fandi merelakan apapun jika tentang istri dan anaknya.
Berakhir dengan Ara yang tertidur di lengan Fandi setelah bujukan nya untuk meminum vitamin.
.
.
__ADS_1
.
to be continue