
Hanya perlu waktu empat puluh lima menit untuk sampai ke kediaman utama.
Maria sudah menunggu Kedua cucunya di depan pintu.
Padahal hanya pergi sepuluh hari tapi rasanya lama sekali.Wanita yang masih terlihat cantik dan anggun meski sudah mempunyai cucu itu sangat merindukan si kembar.
Hari-harinya tidak ada kegiatan lagi selain mengisi waktu di halaman belakang dengan berbagai macam bunga.
Maria merentangkan kedua tangan nya menyambut Riza dan Hafi yang baru saja turun dari mobil menapaki tanah.
"Riza Hafi,jalan saja tidak usah tergesa-gesa.Oma tidak akan kemana-mana!!" umurnya memang baru empat tahun tapi postur tubuh kedua nya sangat tinggi dengan badan yang berisi.Sesuai dengan Fandi dan Ara yang tinggi,jika tubuh mereka gempal mungkin karena pola makan yang baik.Karena kedua orang tua nya tidak ada yang menggendut.
Ara dan Fandi mengikuti di belakangnya.
"Kopernya letakan saja di depan kamar ya Siti.Lalu koper yang kecil dan travel bag itu kau letakan di ruang tengah.Ada sedikit hadiah untuk kalian" Ara tersenyum dan di balas senyum juga oleh art nya.
Keluarga Brahmana baik,tapi menantu nya lebih baik.Bijaksana dan penyayang,tidak pernah memilih jika bergaul.Hingga Hafi dan Riza pun di sekolah kan di sekolah yang tidak terlalu bonafit.Semua kalangan ada di sana.
Kedua nya di peluk erat oleh Maria.Menciumi pipi gembul mereka dengan gemash.
"Oma kangeennn sekali!!"
Riza yang risih pun langsung mengelap pipi nya.
"Kami juga kangen Oma,iya kan Za?"
"Cium nya jangan terlalu menekan Oma.Pipi ku merah nanti.Aku laki-laki!!"
Ara yang mendengar itu menepuk jidat nya.Riza memang benar-benar kaku dan dingin.
Maria pun tergelak,,
"Tidak ada Riza,lipstik Oma mahal.Tidak menempel!"
"Siapa tahu kan Oma,mata ku tidak bisa melihat pipiku sendiri jika tidak bercermin"
__ADS_1
"Benar kata Oma Riza,pipi mu tidak merah" Hafi menggeleng dan membela Oma nya.
"Ah sudahlah.. Ayok kita masuk ke dalam.Oma ingin tahu dari kalian,ada cerita apa saat di sana?"
Tangan kedua nya di gandeng masuk oleh Maria,satu sisi kanan dan satu sisi kiri.
Fandi yang melihat itu sangat senang,Mamah nya bahagia hiburan nya sudah pulang.
"Terimakasih sayang" satu ciuman mendarat di kening Ara.
"Untuk?.."
"Kebahagian yang kau berikan sungguh sangat banyak,termasuk dua jagoan kita.Mereka membawa dampak yang sangat baik dan besar.Opa kembali sehat meski harus rajin kontrol,mamah juga terlihat sangat Bahagia" Tangan nya memeluk pinggang istri nya.
"Aku juga bahagia mas".
🍀
🍀
🍀
"Tentu.. Baik-baik disana,aku merindukan mu"
Sepenggal percakapan antara She dan Yugo.Menjalani hubungan jarak jauh tidak lah mudah,She memang sering pulang ke Ibu kota.Hanya untuk melepas rindu dengan Yugo.
Memutuskan menjalin hubungan yang serius tiga tahun lalu,dengan syarat lelaki itu mau menunggu She selesai sekolah fashion nya.Yugo pun menyetujui nya.
Demi menghindari Allan,dan menjadi orang ketiga antara Allan dan Jelita,She merelakan perasaan nya dan belajar membuka hati untuk Yugo.
She mengakhiri panggilannya.Ponselnya dia tutup dan simpan ke dalam tas.Berdiam diri di negri orang,sebuah restoran sederhana yang sering dia kunjungi.Hanya untuk sekedar menghabiskan waktu menikmati secangkir kopi dan sepotong bolu tiramisu kesukaannya.
.
.
__ADS_1
Malam hari di Indonesia.
"Malam ini lebih cerah dari sepuluh malam sebelum nya"
Tangan Fandi melingkar di perut istrinya,memeluk dari belakang dan mengusak hidungnya di balik kuping Ara,menghirup dalam-dalam wangi yang dia rindukan beberapa hari lalu.
Ara tertawa terbahak "Modus!" Fandi tersenyum mendengar jawaban istrinya.Ternyata Ara tidak seperti dulu yang mudah di gombalin.
Ara menepuk tangan suaminya "Jangan begini mas,Sabar!Dua jagoan ku belum tidur.Lihat saja mereka pasti sebentar lagi menyusul mu ke sini"
Benar sekali apa yang Ara ucapkan,baru selesai berbicara Hafi berlari ke balkon menghampiri orangtuanya.
"Mah,Apa kita besok sudah mulai sekolah lagi?"
Terpaksa Fandi melepaskan peluk nya.Ara berjongkok menyamakan tingginya dengan Hafi.
"Iya sayang.Besok back to school!"
Riza tak terlalu tertarik dengan Hafi,dia sudah tahu dan paham besok mulai kembali sekolah.
"Hafi ini saat nya tidur!" mereka kembali masuk ke kamar,sudah ada Riza di ranjang.
"Za,kenapa tidur disini?" Fandi bertanya karena kamar mereka ada di sebelah,kenapa anaknya sudah rebahan di kasur.
"Aku ingin tidur di sini sama mamah dan papah"
Fandi terkejut mendengar nya.Keinginan nya gagal malam ini karena jika Riza ingin,sudah di pastikan Hafi pun sama.
Ara terkekeh,menahan senyumnya.
"Sabar ya mas!" kedipan mata Ara antara menggoda atau mengejek,hanya dia lah yang tahu.
.
.
__ADS_1
.
to be continue