
Kesal?Sudah pasti kesal.Demi anak nya yang kata orang bawaan bayi.Ara memilih kembali ke kediaman Brahmana,walau hatinya masih sedikit sakit.
Tidak bisa tidur setiap malam,kandungan yang sudah memasuki tiga puluh dua Minggu,Ara sering di buat terbangun karna pergerakan mereka.
Akan berhenti jika Ara membuka foto Fandi yang secara random dan memakai kaos suami nya yang kedodoran.Tidak mungkin kan harus selalu seperti itu sampai berbulan bulan lamanya,sementara dia berjanji akan kembali?..
Perkara ngambek,dia bisa berdrama di rumah, pura-pura ngambek kepada suaminya.Akhirnya memutuskan kembali adalah jalan terbaik.Mungkin saja kedua anaknya rindu belaian papahnya,suaranya juga.
Di kamar yang cukup luas Ara memandang foto yang di bingkai amat sangat besar di tembok atas ranjang.Kamar yang dia tinggalkan kurang lebih dua Minggu itu.
Masih sama seperti terakhir kali dia yang hampir emosinya tak terkontrol.Hanya saja hiasan di dinding ada yang berubah.Foto suami dan dirinya yang sedang berpelukan dan berciuman pada saat empat bulanan berada di sana.
Mungkin foto itu bisa mengobati Fandi yang rindu akan dirinya,Ara tersenyum memandangi nya.
ceklek! pintu di buka dari luar,Ara mendengar nya tapi tak ingin menengok.
Tiba-tiba tangan kekar melingkar di perut yang sekarang semakin membesar,kepala Fandi di jatuhkan di bahu Ara,terpejam dan mengusak ke ceruk leher Ara,menghirup dalam-dalam aroma yang selama ini dia rindukan.
Ara pun terpejam,merasakan suami nya yang sedang memeluk dirinya erat.
"Sudah bermain-main nya sayang?"
Ara tersenyum,mengusap lengan suami nya.
"Aku masih ngambek dengan mu mas,kemari hanya ingin melihat foto ini"
Fandi membuka matanya,mengangkat kepala.Tidak percaya dengan apa yang istrinya ucapkan barusan.
"Kamu serius sayang?"
Ara yang masih membelakangi nya pun mengangguk.
"Coba saja pergi lagi!kali ini akan aku kunci semua pintu di rumah ini!"
"Kamu lupa aku punya Opa?aku bisa bilang ke Opa,cucunya ini menyakiti ku dan membuat aku stress_" Ara membalik kan tubuhnya,mencubit hidung bangir Fandi dengan gemash.
__ADS_1
"hingga aku dilarikan ke rumah sakit!mereka tidak bisa menjaga ku dan calon cicitnya" Ara mengusap perut buncitnya.
"Beneran akan bilang seperti itu ke Opa?" wajah Fandi kembali murung.
"Tergantung_"
"tergantung nanti kalau cucu nya tidak bisa di pegang lagi omongan nya,aku akan pergi jauh.Terserah Opa akan membawa ku kemana.Anak mu akan aku bawa semua!"
Fandi berjongkok "Nanti bantu papah membujuk mamah kalian ya jika marah!" Fandi mengecup perut Ara.
Mereka berpelukan saling menyalurkan kerinduan.
Bragk!! Pintu di buka kasar.
"Ohh maaf,maaf Tuan aku terlalu senang"
Pelukan terlepas,Ara girang melihat Jelita ada di sana.
"Jelita,apa kabar.Aku merindukan mu" pelukan Ara berpindah pada assisten nya.
Jelita yang merasa sangat senang dipeluk oleh nona nya,dia juga menyesal tidak menceritakan perbuatan Tuan.
"Sudahlah Ita,biarkan itu jadi pembelajaran"
"Kalau begitu,aku permisi dulu ya nona.Mari Tuan"
Undur diri karena merasa tuan nya terganggu.
🍀
🍀
🍀
Malam menjelang,Ara merebahkan tubuhnya di kursi balkon kamar.Disana udara nya sangat segar,selain pemandangan yang mengarah ke jalanan disudut kota.
__ADS_1
Banyak lampu berkedip disana,terlihat sangat indah memang.Tapi Ara hanya sesekali menikmati nya.Karna balkon jarang di buka,dan tidak boleh terlalu lama disana oleh suaminya.
"Jangan disana sayang,nanti masuk angin."
Fandi berteriak dari dalam kamar setelah memakai baju karena sudah selesai mandi.
Ara masih tetap disana tak menghiraukan teriakan suaminya.Menikmati dan mengusap perut nya yang kian membulat.Dia menunjuk dan mengusap,anak nya di dalam sana pun membalas dengan gerakannya.
"Ini sudah di rumah papah sayang,kenapa kalian masih saja bergerak dari tadi siang.Aktif ya nak yaaa"
Fandi menghampiri Ara dan jongkok di depan perut nya.
"Apa mereka rewel saat kabur-kaburan dengan mu" Fandi mengulum senyumnya,dan mata Ara menyipit menatap tajam ke arahnya.
"Jangan seperti itu,kau jelek jika seperti itu sayang!!" Fandi menangkup wajah istrinya.
"Mereka selalu membangunkan ku tengah malam,anteng lagi jika aku membuka foto-foto mu di ponsel,dan memeluk baju mu"
Fandi terbahak "memang kau membawa baju ku sayang?" Ara mengangguk.
"Ternyata hamil menjadi alasan mu saja,aslinya memang mamah nya yang kangen papah,ya kan sayang??" Fandi menggelitik perut istrinya gemas.
Ara terus terbahak karena kegelian.Malam itu di habiskan mereka berdua untuk saling bercerita dan terbuka.
Hingga Fandi tau siapa yang menyembunyikan Ara selama ini,ternyata Allan si assisten gadungan.Fandi pun tahu jika Allan menaruh hati pada Ara,dia khawatir jika Allan merebut Ara.
"Kenapa aku dulu tak menerima cinta Allan saja ya??" tiba-tiba Ara bergumam.
"Sayang!!!"
Ara terbahak dengan perubahan wajah suaminya yang menjadi kusut,padahal hanya bercanda.Sama sekali tidak punya niat untuk menjadi kekasih Allan.
.
.
__ADS_1
.
to be continue