
Sudah menjadi sukses dan dikenal banyak orang adalah kebanggaan tersendiri.Kedua teman nya juga bangga memiliki sahabat seperti Fandi.
Kedekatan mereka saat sekolah tidak di ragukan lagi,dari hal sekecil apapun hingga masalah perasaan mereka semua tahu.
Toni dan Radit beberapa waktu lalu mereka bertemu dengan Azia kakak perempuan Ara,mereka sempat mengobrol lama.Bahkan kedua nya mengetahui jika Ara dan Fandi sudah mempunyai anak.
Azia pun menceritakan bagaimana awal adik nya bertemu hingga menikah kepada Toni dan Radit.Tanpa sepengetahuan nya bahwa dalang penjebakan adiknya adalah mereka.
Berpura-pura ingin berkunjung dan temu kangen dengan Fandi,karena mereka mengaku sahabatnya.Azia pun memberikan alamat kediaman utama Brahmana.
Mengatur jadwal,karna kedua nya sibuk.Akhirnya bisa menemui Fandi.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan,akhirnya sampai juga di depan gerbang rumah.Mereka pun menekan bel di sudut gerbang.
Security mendekati keduanya.
"Selamat sore,ada yang bisa saya bantu?"
"Ahh iya Pak,benar ini kediaman utama Fandi Brahmana?"
"Ya benar.Ada perlu apa?Tuan Fandi kebetulan belum pulang dari kantor.Mungkin sebentar lagi" Lelaki setengah baya itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kalau Fahira Feryaldi di rumah Pak?" Giliran Toni yang akhirnya maju bertanya.
"Maksud anda nona muda Ara?"
Keduanya saling berpandangan kemudian mengangguk.
"I-iyaaaa..."
"Mohon maaf,dengan siapa saya bicara?"
"Radit" Toni yang menyebut nya.
Tak kalah Toni pun menyebut nama Radit juga,mereka saling melempar.
"Pak Toni dan Pak Radit..Sebentar saya hubungi asisten rumah dulu ya!" Pak security masuk ke dalam pos dan meraih gagang telpon wairless yang terhubung ke rumah.
Berbicara di sana dengan salah satu asisten rumah.Security itu Terlihat berbicara dan sesekali mengangguk.
__ADS_1
"Baik"
Security menghampiri keduanya dan membuka kan pintu.
"Mari saya antar hingga depan pintu"
🍀
🍀
🍀
Ketukan pintu terdengar,Ara yang sedang mengintruksi kedua anaknya mandi sendiri pun melangkah membukakan pintu.
mbak Siti berdiri di depan pintu.
"Maaf nona,ada tamu?"
"Tamu?"
"Katanya teman Tuan dari Jawa,mereka juga mengenal Nona"
"Pak Radit dan Pak Toni?"
Ara berfikir sejenak,mengingat teman-teman nya.Lalu ia pun menggeleng.
Mungkin teman mas Fandi.aku tak merasa mempunyai teman bernama Toni dan Radit.
"Bilang pada mereka tunggu di depan dulu,jangan di persilahkan masuk sebelum aku keluar.Dan bilang pada security jangan meninggalkan mereka berdua.Tunggu mas Fandi pulang atau sebentar lagi aku turun mbak.Aku akan menelfon mas Fandi dulu"
"Baik nona,aku permisi dulu" Ara mengangguk dan mbak Siti pun berlalu dari sana.
Ara menutup pintu dan kembali masuk.
"Riza,Hafi cepat sayang pakai baju nya yang benar ya.Mamah mau menelfon papah dulu"
Kedua anak nya paham,dan memakai baju sendiri.Sungguh anak-anak yang mudah mengerti jika diberi contoh satu kali oleh mamahnya.
Panggilan pun berlangsung.
__ADS_1
"Mas,dimana?"
" ... "
"Kamu punya teman bernama Toni dan Radit?"
" ... "
"Mereka disini!Sudah di depan dengan security, belum aku ijinkan masuk"
"Tetap seperti itu,aku akan pulang lima belas menit lagi.Kamu jangan me_"
Tiba-tiba sambungan terputus karna baterai ponsel Ara habis.
Ya low bat.
"Sayang,mamah mau menemui seseorang.Kalian mau tetap disini atau ikut mamah?atau mau ke Oma?"
"Ikut mamah!" Jawaban itu keluar dari bibir Riza.
Ara mengangguk.Setelah membenarkan pakaian Riza dan Hafi tak lupa menyisir rambut dan memberi sedikit wewangian pada mereka.Seperti biasa keduanya mencium pipi Ara.
Berjalan beriringan dan turun ke lantai satu menggunakan lift.Ara menggandeng kedua jagoannya.Memakai mini dress berlengan pendek,rambutnya tergerai sepinggang.Perutnya sudah terlihat karena memang kehamilan kali ini Ara terlihat lebih berisi.
Mbak Siti yang sudah dari tadi di bawah sedang bersih-bersih pun mengerti jika nona nya akan menemui tamu.
"Saya buka kan pintunya ya non?" Ara mengangguk.
Pintu terbuka lebar,mbak Siti langsung masuk ke dalam lagi.Radit dan Toni yang sedang duduk di sana tercengang melihat penampilan Ara.
"Oh,ternyata kalian.Maaf saya tidak begitu mengenali namanya.Hanya saja sering melihat kalian dengan mas Fandi"
Keduanya tersenyum kepada Ara,dan di persilahkan masuk.Berbincang sebentar,lalu Ara ijin untuk mengantar twins ke ruang bermain,karena mereka sudah bosan.
.
.
.
__ADS_1
to be continue