
Tengah malam Fandi di kaget kan dengan keadaan Hafi yang menurun kesehatannya.Istrinya sudah berulang kali mengecek suhu tubuh balita itu.
Hasilnya masih demam tinggi, padahal beberapa jam lalu sudah di kompres.
Ara merasa kecolongan dengan keadaan anaknya,selama ini sudah sangat protektif dan posesif dengan pola makan ke dua anaknya.
Brangkar rumah sakit di dorong beberapa suster dan Fandi.Ara berjalan sedikit cepat di belakang ditemani Siti.
"Pelan-pelan nona!"
Perut yang semakin besar membuat ruang geraknya tidak bebas,takut jika terpeleset.Lantai di sana sangat lah licin.
Memasuki Unit Gawat Darurat,Fandi yang hanya menunggu di depan pintu menghampiri Ara yang mendekatinya.
"Bagaimana anak ku mas? Bagaimana Hafi?"
"Duduk dulu ya!sedang di tangani dokter.Semoga tidak apa-apa"
Ara duduk dengan perlahan menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu.Bingung dan cemas,itulah yang dia rasakan.Empat tahun ia menjaga kesehatan kedua anaknya.Tapi kali ini baru mengalami demam tinggi pada Hafi.
Fandi mencoba menenangkan istrinya.Hal yang sangat tiba-tiba sekali.Dari sore sebenarnya Ara sudah merasakan jika Hafi tidak enak badan,ingin terus di samping mamah nya,dan mengusap lembut punggung kecil itu, Hafi merasa sangat nyaman.
Hafi memang dari lahir sudah sedikit beda,berat badan yang lebih kecil dari Riza,dan kekebalan nya juga lebih tinggi Riza.
Setelah beberapa menit,dokter jaga itu keluar dari ruangan.
"Bagaimana dok?"
"Anak anda mengalami infeksi karena bakteri,demam nya sudah mulai turun,lebih baik rawat inap dulu dua atau tiga hari untuk pemulihan"
Ara yang mendengar itu sedikit lega.Dia takut buah hatinya terserang penyakit.
Hafi di pindahkan di ruang VVIP,dengan di dampingi Ara dan Fandi, akhirnya anaknya tertidur pulas di pelukan mamahnya yang ikut berbaring di ranjang rumah sakit.
__ADS_1
🍀
🍀
🍀
"Oma,Hafi di mana?"
Riza terbangun dan melihat bahwa dia bukan di kamar nya,terlebih lagi saudara kembar nya tidak ada di sebelah nya.
Merasa aneh,anak kecil itu pun bertanya pada Oma nya.
Maria yang sudah bangun dari subuh pun tersenyum,mengusap punggung Riza.
"Hafi sakit sayang,tadi malam mamah dan papah membawa ke rumah sakit,dan menitipkan Riza pada Oma.Riza anak pintar tidak apa-apa kan jika bersama Oma dulu?"
Riza pun mengangguk patuh.Melihat itu Maria memeluk Riza erat.
"Nanti Oma telfon papah mu dulu ya untuk menjemput?"
"Iya Oma."
.
.
Di Bandara, perempuan cantik nan anggun menyeret kopernya.
Lagi-lagi pulang tidak mengabari keluarga di rumah,sudah menjadi tabiat nya seperti ini.Selalu sesuka hati.
Shelle Brahmana pulang dari Prancis,Beberapa Minggu di Perancis untuk mengikuti festival desain di negara itu,rencana nya memang sepulang dari sana dia akan kembali ke Indonesia,Benar saja hari ini dia kembali.
"She!.." pria tampan itu melambaikan tangan.
__ADS_1
"Yugo!.." She berjalan cepat menyongsong langkahnya,dan memeluk Yugo.
Laki-laki itu sangat merindukan kekasihnya yang hanya pulang beberapa Minggu sekali dan kadang juga beberapa bulan sekali baru dia akan datang.
"Aku merindukanmu She!" Yugo memeluk She dengan erat.
"Aku juga" She tersenyum bahagia.
Tangan nya saling melingkar di pinggang kedua manusia yang sedang melepas rindu itu, berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan.
"Ke rumah sakit Ibu dan Anak ya Go?!"
"Rumah sakit?siapa yang sakit?"
She pun terkejut dengan pertanyaan Yugo.
"Hafi anak kak Ara,mereka tidak mengabari mu?"
"Oh twins?mungkin kak Ara atau kak Fandi belum sempat menghubungi ku_"
"Tidak papa kau langsung ke rumah sakit?tidak cape?"
She menggeleng "Aku merindukan Baby bolu ku twins,sudah lama tak bertemu"
Yugo pun tersenyum dengan ucapan kekasihnya.Dan melajukan mobil membelah jalanan yang siang itu sangat ramai.
.
.
.
to be continue
__ADS_1