Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Bantulah aku!


__ADS_3

"Tiara...." Azzura memanggil Tiara dengan begitu riang, tiga hari tidak bertemu membuat nya begitu merindukan wanita ini, tanpa ragu dia langsung memeluk Tiara melepas kerinduannya.


"Ada temannya saja, aku langsung di abaikan." umpat Jonathan yang ada di antara dua gadis itu, dari tadi Azzura terus menempel mengganggunya sekarang langsung melupakannya begitu saja.


"Kau kenapa?" tanya Azzura sambil menyentuh kedua pundak Tiara memastikan keadaan temannya ini, bukan hanya karena mengenakan switer, wajah wanita itu pun terlihat begitu kusut. "Kau sakiti?"


"Tidak, hanya sedang kesal saja." Tiara menjawab singkat, setelah duduk di bangku nya dia langsung menyimpan tas sekolahnya dengan begitu kasar, masih pagi tapi sudah banyak beban pikiran yang memenuhi kepalanya.


"Kesal kenapa?" Azzura langsung duduk di samping temannya itu karena penasaran, "Apa gara-gara berita yang beredar?" tanyanya memastikan. Dari tadi dia terus berbicara dengan Jonathan menanyakan kebenaran berita tersebut, tapi lelaki itu terus menggelengkan kepala tidak tahu apa-apa.


Tiara sampai kaget, ada masalah apalagi sekarang. "Berita apa?"


"Apa kau belum melihat artikel yang beredar pagi ini, semua murid bahkan sudah mengetahui beritanya, Tiara."


Azzura yang heboh sendiri, langsung menjelaskan situasi. Pasalnya pagi ini ada berita besar yang mengejutkan mengenai perusahaan Wijaya. Salah satu brand unggulan perusahaan mereka yang menyentuh pasar internasional di kecam tidak lagi memenuhi standar, sampai para investornya langsung berpindah haluan pada perusahaan lain yang lebih menjanjikan yang tidak lain itu adalah perusahaan Prawira.


"Kau pasti kesal gara-gara berita miring itu, kan?" bisik Azzura kembali bicara, itu tentang nama baik keluarga suami Tiara, pasti wanita ini juga ikut kesal memikirkannya. Terlebih perusahaan yang menikung nya adalah perusahaan sahabat suaminya sendiri.


Tiara sampai menghela nafas, "Astaga, mereka benar-benar licik sampai mempengaruhi opini publik." gumamnya sambil memijat pelipisnya. Jadi ini bagian dari skenario yang Shasa buat. Bukan hanya mempengaruhi para investor sang Daddy, lelaki yang bersekutu dengan Shasa bahkan sampai menjual berita bohong untuk menjatuhkan perusahaan keluarga mereka.


"Kau tidak ingin bicara pada Jonathan, dia mungkin bisa membantu kalian." bisik nya lagi memberi saran. Jika saja Jonathan tahu siapa mereka, lelaki itu pasti bisa membantunya.


Belum juga Tiara bicara, suara Kenzo tiba-tiba terdengar memotong pembicaraan dua wanita ini.


"Minggir!" titahnya meminta Azzura untuk kembali ke tempat duduknya.


"Astaga, kau selalu saja membuatku kaget." Azzura sampai mengelus dada, sepasang pasutri ini pagi-pagi sudah memasang wajah yang menyeramkan. Dia langsung beranjak bangun kembali ke tempat duduknya.


Kenzo langsung duduk, tangannya langsung bergerak mengeluarkan laptop dari tas nya, terserah anak yang lain mengiranya sedang mengerjakan apa, dia tidak tega jika harus bolos kelas dan memberikan Tiara sendirian saja.


"Ken!" Tiara ingin mengadu, tapi sebelum dia bicara lelaki itu sudah mengetahui isi pikirannya.


"Jangan memikirkan masalah berita itu karena sekretaris Daddy sudah membereskannya." ucap Kenzo dengan cepat, dia perlahan membuka laptopnya karena ada beberapa dokumen yang barusan Daddy nya kirimkan. "Kau hanya perlu memikirkan basket mu besok, kau belum bicara pada Priscilla kan?" timpal nya sambil menoleh ke arah Tiara. Setelah mempersulit keadaan perusahaan wanita licik itu masih belum puas dan malah mempersulit istrinya.

__ADS_1


Tiara sampai terkejut, "Kau juga tahu tentang itu?" tanyanya heran, dia belum bercerita prihal desakan Shasa, tapi Kenzo sudah mengetahuinya.


"Aku melihatnya dari cctv." jawabnya singkat, semenjak kejadian pesta waktu itu dia bisa mengakses cctv sekolah dengan leluasa, "Saat aku tidak di samping mu, aku akan terus memperhatikan mu, jadi jangan pernah merasa takut." timpal nya lagi, tangannya langsung bergerak merapihkan poni Tiara dan membelai rambut panjangnya. Dia melihat jelas bagaimana Shasa memperlakukan Tiara, istrinya ini pasti tertekan karena nya.


"Terima kasih," Tiara sampai tersenyum senang, kekhawatiran yang tadi menumpuk di kepalanya kini perlahan sirna, lelaki ini memang selalu ada untuk nya, "Tapi Shasa meminta waktu match nya besok, Ken. Rasanya aku belum siap."


"Kau pasti menang, kita datangi Priscilla nanti siang." tutur nya lagi berusaha meyakinkan sang istri. "Kita bereskan dulu masalah ini, baru setelah itu kita bersiap untuk bergerak di perusahaan."


Tiara langsung mengangguk mengerti, apapun masalahnya, sebesar apapun itu, kalau bersama Kenzo semua itu pasti akan terasa mudah.


...***...


Jam makan siang tiba.


Tiara dan Azzura berjalan beriringan menuju kantin, mereka terus berbincang prihal basket besok. Terus berjalan paling depan di ikuti Kenzo dan Jonathan di belakang mereka. Bagai sedang double date dua lelaki itu tidak bisa berjalan jauh dan terus memperhatikan wanita yang berjalan di depannya masing-masing.


"Saat Azzura meminta ku untuk mengajari nya bermain basket ku kira dia sedang mengerjaiku saja." Jonathan mulai bersuara mengajak Kenzo bicara, dia tidak mengira kalau pertandingan basket antar tim Tiara dan tim Alicia bukan hanya lelucon belaka. "Bukankah akan sulit kalau lawannya Alicia?" ucapnya lagi.


"Tidak karena ada, Priscilla." jawab Kenzo singkat, walau belum pasti. Dia akan membuat wanita itu bisa membantu istrinya.


Kenzo enggan merespon, dia hanya mengangkat sudut bibirnya, "Tidak untuk sekarang karena aku sudah menempatkan Devan di samping wanita itu." gumamnya dalam hati. Dia sudah meminta Devan untuk menjinakkan wanita itu, jadi istrinya tidak akan begitu susah mendekati nya.


Sementara itu di kantin. Setelah membeli menu makanan Devan terlihat menghampiri meja di mana Priscilla berada, wanita itu selalu menyendiri jadi dia bisa dengan mudah duduk di samping wanita itu. "Sendiri saja?" ucapnya tanpa permisi langsung duduk di sana.


Priscilla sampai tidak bisa berkata-kata, terus menghindar pun percuma, lelaki itu terlalu keras kepala. "Kenapa kau terus seperti ini?" ucapnya malah kembali bertanya dengan datar.


"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja." jawab Devan dengan begitu santai, langsung menyendok makanan dan melahapnya tanpa mempedulikan kalau perkataanya itu memiliki makna yang dalam.


Priscilla sampai terbatuk-batuk, langsung menoleh ke arah Devan, apalagi sebenarnya yang lelaki ini inginkan, dan apa pula maksud ucapannya itu, "Tanpa ada kau aku akan baik-baik saja," cecar nya dengan tegas


Devan sama-sama menoleh dan menatap wanita itu dengan tersenyum kecil, "Jangan galak-galak!" timpal nya malah meledak.


Priscilla sampai kembali membuang muka, ingin beranjak berdiri tapi terhenti karena ada Tiara dan Azzura yang menghampiri meja yang di tempati nya.

__ADS_1


"Hai, Cilla." Sapa Azzura dengan begitu ramah, dia yang membuka pembicaraan karena kalau Tiara yang memulai akan lebih aneh karena dua wanita itu sebelumnya tidak pernah saling bertemu apalagi bertutur sapa. "Boleh kita duduk di sini?"


Priscilla tidak bisa langsung menjawab, aneh kan kalau seorang Azzura tiba-tiba mendekatinya terlebih wanita itu bersama cewek nya si brandal sekolah. Jangan bilang dua wanita itu akan melabraknya seperti yang pernah dia alami dulu, "Permisi," Tidak ingin banyak bicara, dia masih cukup trauma mengingat perlakuan Shasa saat membully nya. Dia memilih untuk pergi tapi langkahnya terhenti.


"Tidak apa-apa, mereka tidak sejahat yang kau bayangkan, duduk lah!" cegah Devan dengan cepat, dia langsung meraih tangan Priscilla agar kembali duduk. "Akan ku pastikan kau baik-baik saja, duduk lah!" pintanya lagi karena wanita itu malah diam dan menatapnya dengan penuh tanya.


Priscilla akhirnya kembali duduk dan menatap Azzura dan Tiara bergantian, kepalanya langsung bertanya-tanya, "Ada apa ini?" tanyanya heran. Dia tahu Devan adalah teman baiknya si brandal sekolah, dan tanpa angin Tiara yang merupakan pacar si brandal sekolah itu tiba-tiba muncul di hadapannya. "Kalian sudah merencanakan semuanya?" tebaknya dengan begitu tegas.


Tiara sampai angkat jempol mengakui kepandaian Priscilla, wanita itu bahkan begitu peka hanya dengan membaca situasi saja. "Hai, sebelumnya aku minta maaf karena telah mengganggu." ucapnya lirih. Dia dan Azzura perlahan duduk karena harus bicara lebih serius.


"Tidak perlu basa-basi. Apa yang kalian inginkan?" Perkataan Priscilla semakin dingin, langsung bicara saja dari pada tersenyum ramah padanya.


Tiara sampai menghela nafas, sesuai yang Azzura katakan, wanita ini memang tidak mudah di dekati. "Baiklah, karena kau tidak mau basa-basi aku akan langsung bicara pada intinya. Aku membutuhkan bantuan mu, Cill." ucapnya to the poin.


Priscilla sampai kaget, bantuan apa? wanita ini merupakan pacar si brandal sekolah, apapun yang dia inginkan pacarnya itu bisa dengan mudah mengabulkannya.


"Aku di tantang bermain basket oleh Shasa dan kedua kawannya, dan hanya kau yang bisa ku andalkan untuk bisa melawan mereka." tutur nya lagi menceritakan maksud kedatangannya. "Tolong! bergabung lah dengan tim ku." pintanya tanpa basa-basi.


"Shasa?" Priscilla sampai kaget, dia sudah malas mendengar nama wanita itu apalagi sampai kembali berurusan dengan nya. "Tidak bisa." tolaknya dengan tegas. Dia tidak ingin kembali membuat masalah dengan wanita licik itu.


"Cilla, aku tahu kau pasti enggan berurusan dengan mereka lagi, tapi ku mohon, bantulah aku. Kau tidak perlu takut, kau sekarang tidak sendiri, ada kita, ayo kita berkerja sama dan lawan mereka sama-sama." ajak Tiara lagi berusaha meyakinkan. Tidak perlu takut karena sekarang dia tidak sendirian.


"Tid--" Ingin menolak, tapi kata-katanya tiba-tiba terhenti, ada sosok Kenzo di belakang Tiara yang menatapnya dengan tajam. Tidak perlu di perjelas dengan kata-kata dia mengerti apa maksud tatapan itu. "Aisst, mimpi apa aku semalam sampai harus berurusan dengan lelaki ini." umpatnya langsung menundukkan kepala. Dia enggan berurusan lagi dengan Shasa, tapi enggan mencari masalah dengan si brandal sekolah.


Tiara sampai kebingungan, kenapa wanita ini tiba-tiba diam. Dia langsung menoleh ke belakang, dan baru sadar ada sang suami di belakangnya. "Ken?"


"Nih!" Kenzo memberikan makan siang Tiara, langsung duduk di samping sang istri di ikuti Jonathan yang langsung duduk di samping Azzura dan sama-sama memberikan makan siang untuk wanita itu.


Priscilla sampai semakin gugup, situasi macam apa sekarang, dua lelaki populer Trisakti kini duduk di depannya. Dia tahu ini bukan acara tripel date, semua orang yang duduk di sana memang sudah berencana untuk mendekatinya, hanya karena menginginkan dia mengikuti ajakan Tiara.


"Bagaimana? kau mau kan bekerja sama dengan ku?" ucap Tiara kembali bertanya, sudah lihat kan ada siapa saja yang mendukung dirinya. Jadi Priscilla tidak perlu ragu apalagi sampai takut untuk bekerjasama dengan nya, wanita itu tidak akan rugi, justru malah akan menguntungkan nya.


"Baiklah." jawab Priscilla masih dengan menunduk, dia menginginkan kehidupan yang tenang, mana berani menolak ajakan Tiara jika yang mendukung wanita itu seorang Kenzo. Dia sudah bisa membayangkan akan semarah apa seorang Kenzo kalau dia tidak menuruti kemauan pacarnya.

__ADS_1


Jonathan dan Azzura sampai geleng kepala, mana yang katanya wanita ini tidak mudah di dekati, hanya dengan satu kali tatapan saja wanita itu langsung tertunduk dan mengikuti apa yang di inginkan Tiara, bukannya itu terlalu mudah.


Tiara sampai kegirangan, langsung mengulurkan tangannya menjabat tangan Priscillia. "Terima kasih, mohon kerjasamanya."


__ADS_2