Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Masalah akan terus menghampiri.


__ADS_3

Perut Kenzo sudah sedikit bersahabat setelah ia isi dengan berbagi makanan yang di bawa Tiara, kali ini dia sudah bisa fokus bekerja tanpa terhalang gangguan cacing di dalam perutnya.


Mata Kenzo kini menatap Tiara, memperhatikan nya dengan seksama.


"Dia terlihat fokus sekali, apa dia benar-benar bisa mengerjakan nya." gumam nya dalam hati. Dia langsung mendongkangkan kepala mengecek layar laptopnya, "Dia sudah membuat satu folder." decak nya kagum. Padahal dia hanya sekali menjelaskan tapi Tiara benar-benar langsung paham dan bisa mengerjakan nya.


Kenzo kembali menegakkan posisi duduknya, mengambil satu piring cake yang masih tersisa, "Hei, buka mulut mu!" pinta Kenzo tiba-tiba. Tiara yang sedang mengetik langsung kaget di buatnya.


"Mau apa?" tanya Tiara heran, seketika dia langsung mencondongkan tubuhnya menjauh dari lelaki itu.


"Kau pikir aku mau apa, kenapa reaksinya seperti itu!" timpal Kenzo dengan sewot, tidak mau wanita itu berpikir yang aneh-aneh dia langsung mengambil satu sendok cake dan ia todongkan ke mulut Tiara. "A' aku tidak mau kau jatuh pingsan sebelum kau membereskan pekerjaan ini," timpalnya lagi. Dia menyuruh Tiara untuk membuka mulut biar dia menyuapinya selagi Taira mengerjakan tugasnya.


"Dasar tidak ada manis-manisnya," gumam Tiara berdecak kesal, bukannya romantis suapan Kenzo malah terlihat dramatis. Lelaki itu mau menyuapinya karena akan menjajahnya nya. Mau tidak mau Tiara menerima suapannya dan kembali fokus pada layar laptopnya.


"Anak pintar," timpal Kenzo dengan terkekeh, dia mengingat gaya Tiara saat wanita itu menyuapinya. Jika saat itu Tiara menepuk pundaknya, kali ini dia mengelus-elus kepala Tiara membalas perlakuan Tiara waktu itu.


"Hei, kalau kau terus mengganggu, pekerjaan ini tidak akan beres." sewot Tiara, seenaknya saja lelaki itu mengelus kepalanya, kalau terus seperti itu jantungnya benar-benar akan meloncat keluar karena terus berdetak kencang.


"Dasar tidak tahu di untung." timpal Kenzo dengan begitu datar, perkataan nya memang terdengar begitu kasar seolah sedang menjajah Tiara, padahal dalam hati tidak tega melihat wanita itu yang pasti sama sama kelaparan sepertinya.


Dia pun terus menyuapi Tiara sambil sesekali menyuapkan cake itu pada mulanya sendiri, terus bergantian tidak peduli mereka memakan cake menggunakan satu sendok yang sama.


Bahkan Tiara pun tidak menyadarinya.


"Saat kejadian di sekolah, apa ada siswa lain di sekitar kalian saat kejadian waktu itu?" Kenzo tiba-tiba bertanya. Sebenarnya ia enggan sekali kembali mengungkit masalah foto itu, tapi dia harus mencari tahu dan membereskan masalah itu sampai akar nya agar tidak tumbuh lagi masalah baru. "Mungkin ada orang yang kau curigai?" timpalnya lagi.

__ADS_1


Tiara sesaat diam mencoba berpikir dan mengingat. "Astaga, kenapa aku sangat lengah sampai tidak berpikir sampai ke sana. Saat itu ada Jessica dan di susul Alicia yang menghampirinya." jelas Tiara menceritakan. Dia langsung sadar kalau di balik kejadian ini pasti ada sangkut pautnya dengan mereka berdua.


"Tebakan ku benar, Mario pasti membual. Awas saja kau Mario. Kau harus membayar dengan setimpal uang yang telah ku berikan." Kenzo berdecak kesal, kalau sekarang bukan malam hari dia pasti akan langsung menghampiri lelaki itu dan memberi dia pelajaran.


"Apa maksudnya?" Tiara penasaran, dia memang tidak tahu perihal Mario, dan apa yang sebenarnya telah Kenzo lakukan. "Uang, apa maksudnya?" tanyanya lagi penasaran.


"Bukan urusan mu, nih habiskan!" Kenzo memberikan suapan terakhir. Mengalihkan ke-penasaran-nan Tiara, wanita itu tidak harus mengetahui perihal dia dengan Mario, biar dia sendiri yang akan membereskannya sampai akhir.


"Bersiaplah untuk esok hari, dan berhati-hatilah, karena kedepannya masalah pasti akan selalu mengintai di setiap langkah mu." tutur Kenzo berusaha menasehati. Setelah mendengar keterangan Tiara, dia bisa menafsirkan kalau semua itu pasti ada sangkut pautnya dengan Shasa, wanita itu pasti tidak akan pernah puas untuk mengerjai Tiara.


Tiara hanya mengangguk mengerti, dia juga sadar dari awal dia menginjakkan kaki di kota, selalu kesialan yang menimpa nya.


Kenzo kini beranjak berdiri menuju nakas, membuka salah satu lacinya dan mengambil sebuah laptop dari sana.


"Laptop lagi?" Tiara sampai kaget, dia tahu keluarga Wijaya memang kaya raya, tapi tidak pernah mengira kalau Kenzo memiliki beberapa laptop di kamarnya. Dia sampai refleks mengitari seisi kamar, jangan jangan masih banyak laptop lagi yang bertengger di kamar lelaki itu.


"Tidak apa-apa." Tiara kembali menatap laptopnya. Bikin malu saja, rupanya lelaki itu terus memperhatikan nya.


Kenzo kembali duduk, membuka laptopnya dan membagi tugas dengan Tiara agar dokumen-dokumen yang di kirimkan sang Daddy bisa cepat di bereskan.


...***...


"Mario, apa kau gila. Aku sengaja memberi mu bahan berita agar tim penyiar kalian bisa lebih populer, tapi kenapa kau menghapus berita itu, hah?"


Emosi Shasa meluap-luap. Saat dia mengecek forum sekolah dia sadar kalau berita tentang Tiara sudah tidak ada di sana. Wanita itu langsung marah-marah menghubungi Mario meminta pertanggungjawaban dari lelaki itu.

__ADS_1


"Aku sudah membayar mu cukup mahal." decak nya lagi begitu kesal.


Mario yang berada di balik teleponnya tidak terlalu merespon kemarahan Shasa, terserah wanita itu akan marah-marah seperti apa, uang yang di berikan Shasa tidak seberapa dengan uang yang di berikan Kenzo padanya.


"Mario! Kenapa diam saja hah!" bentak Sahsa, kali ini dia semakin mengeraskan suaranya.


"Ayolah Sha. Hidup itu butuh sesuatu yang lebih. Uang yang kau berikan tidak bisa membuatku menuruti semua permintaan mu. Kenzo memberikan tiga kali lipat dari yang kau berikan, mau tidak mau aku menuruti kemauan nya." tutur Mario menjelaskan. Biar wanita itu tahu siapa dalang di balik dia menantang keinginan nya.


"What? Kenzo?" Shasa sampai kaget. Seharusnya Kenzo ilfil melihat foto itu, tapi kenapa lagi-lagi Kenzo malah membela Tiara. Tidak habis pikir kenapa Kenzo terus membela wanita itu.


"Iya, tapi tenang saja. Kenzo tidak akan tahu kalau foto itu dari mu.


Sepertinya dia percaya dengan kebohongan ku." timpal Mario menceritakan. Dia memang tidak berpihak pada siapa-siap. Dia hanya berusaha meredakan amarah Shasa karena wanita itu yang terlebih dulu memberi keuntungan padanya.


"Ku pegang ucapan, mu. Kalau kau sampai membocorkan nya pada siapapun, ku pastikan kau akan keluar dari sekolah Trisakti." ucap Shasa dengan penuh ancaman. Sebenarnya berurusan dengan Mario baginya adalah ancaman, salah melangkah dia yang akan terjerumus pada lubang yang ia gali sendiri. "Ingat! Aku tidak main-main, Mario!" ucapnya lagi menegaskan.


Mario sampai menelan keras saliva nya. Dia tahu siapa Shasa. Dan dia tahu kalau wanita itu tidak pernah main main dengan ucapannya. Banyak murid yang sudah tumbang karena wanita itu. "Iya, aku bisa menjamin kalau kau aman." timpalnya dengan begitu percaya diri. Dia merasa semua akan baik-baik saja.


Karena yang Mario tahu seorang Kenzo tidak pernah ikut campur lebih jauh dan repot-repot mengurusi kehidupan orang lain. "Gue saja kalau berada di posisi Kenzo, malas sekali harus ikut campur urusan Jonathan sampai sejauh itu." gumam Mario, dia masih saja mengira kalau apa yang Kenzo lakukan semata-mata karena sahabat nya.


Shasa sudah menutup panggilan nya, langsung memijat pelipisnya yang terasa begitu berat. Matanya menatap sebuah foto Tiara dan Jonathan. Langsung tersenyum miris, bisa-bisanya wanita itu masih mendapatkan perlindungan Kenzo.


"Tiara, ku pastikan kau tidak akan hidup tenang karena berani merebut posisi yang seharusnya menjadi milik ku." tuturnya dengan begitu geram. Dia sudah bertekad keras, sesuatu yang ia inginkan, pasti bisa ia dapatkan. Apapun caranya, dia pasti akan melakukan nya.


"Jonathan," ucapnya dengan menyeringai.

__ADS_1


kali ini lelaki itu lah yang harus membantunya.


__ADS_2