
Pak Tono memarkirkan mobilnya di dapan sebuah minimarket, lekas keluar untuk membeli sebuah barang yang di inginkan Tuan mudanya, entah apa yang terjadi dengan Tuan dan Nona mudanya, dari tadi saat keluar kamar sampai sekarang, terlihat ada aura yang berbeda dari mereka, keduanya sama-sama terdiam, tidak ada yang bicara, tapi tidak terlihat pula pertengkaran dari keduanya.
Mereka memasang raut wajah berbeda yang tidak bisa di tebak guratan wajahnya. Dan lebih aneh lagi, sekarang dengan tiba-tiba Tuan mudanya menyuruhnya membeli sebuah foundation yang dia sendiri tidak tahu seperti apa bentuknya dan apa kegunaannya. Dia hanya perlu dengan cepat membelinya karena harus melanjutkan perjalanan menuju hotel untuk mengantarkan keduanya sampai tujuan.
Sementara itu di dalam mobil, kecanggungan kembali terjadi saat hanya ada Tiara dan Kenzo di sana, tidak ada yang bicara, semua membisu tanpa kata.
"Akh, kenapa cuacanya panas sekali," Tiara hanya bisa bergumam dalam hati, tangannya terus menggerakkan syal yang melingkar di leher nya karena gerah, wajahnya kembali memerah saat kembali mengingat kejadian saat di kamar villa tadi. "Tenang lah, Tiara." gumamnya nya lagi menenangkan diri, rasanya dia ingin menggali lubang karena malu setengah mati. Bagaimana tidak, tingkah Kenzo yang menggerayangi tubuhnya kembali terngiang di kepalanya, ciuman panas lelaki itu masih terasa begitu hangat di bibirnya. Bahkan lelaki itu sendiri yang menyarankan nya menggunakan syal untuk menutupi bekas kecupan yang dia tinggalkan di lehernya. "Akh, aku benar-benar bisa gila." jerit nya dalam hati. Kenzo menerkam nya tiba-tiba, tetapi lelaki itu masih memasang ekspresi tanpa dosa, dan yang lebih membuat nya malu, dia sendiri menikmati setiap sentuhan yang di lakukan suaminya itu. Tidak bisa menegur karena itu hak nya, tidak bisa protes karena dia sendiri menikmati semuanya, dia hanya bisa diam membisu karena malu.
Pak Tono kembali, lekas masuk mobil dan memberikan pesanan tuan muda nya itu. "Ini Den. Saya tidak tahu foundation seperti apa, saya meminta staf di dalam untuk mengambilkan nya." Pak Tono menoleh ke belakang, langsung memberikan barang itu biar Tuan mudanya mengeceknya sendiri, jika itu salah dia akan kembali ke dalam untuk menukarnya.
Tangan Kenzo meraih barang itu, mengiyakan kalau barang yang di beli supirnya itu tidaklah salah, langsung menyuruh pak Tono untuk kembali melajukan mobilnya.
Kenzo langsung menatap Tiara, memberikan foundation itu kepada sang istri, "Nih, gunakan ini untuk menutupi bekas nya! kau akan kegerahan jika terus menggunakan syal itu." tutur nya masih dengan suara datar, cuaca hari ini sangatlah cerah, akan terasa aneh jika Tiara malah menggunakan syal di cuaca panas seperti ini, dia merasa bersalah karena Tiara sampai kegerahan seperti itu karena ulah nya. Makanya menyuruh Pak Tono membeli foundation, menggunakan itu sepertinya lebih efektif untuk menutupi tanda merah bekas kecupan nya yang terlihat kontras dengan kulit putih nya, dan tentunya cara itu tidak akan membuat Tiara tidak nyaman, apalagi sampai kegerahan, "Ini, kau hanya perlu mengoleskan nya ini di leher mu." ucapnya lagi memberi tahu, tapi Tiara masih diam tidak ada pergerakan.
Bukan karena apa-apa, Tiara hanya terlalu malu, sampai tidak mampu memperlihatkan wajahnya.
"Apa perlu aku yang mengoleskan nya?" ucapnya lagi, Kenzo sudah bergerak menghadap Tiara, bahkan tangannya sudah bergerak membuka tutup foundation itu untuk membantu nya.
"Tidak apa-apa, biar aku sendiri yang melakukan," cegah Tiara dengan cepat, dia langsung mengambil foundation itu dan kembali memalingkan wajahnya. "Akan ku gunakan saat sampai di hotel nanti." ucapnya lagi.
Kenzo hanya bisa tersenyum kecil, ekspresi malu-malu Tiara sampai terlihat jelas, membuat dia tidak tega jika terus menggodanya. Dia hanya menggerakkan tangannya menepuk-nepuk pelan puncak kepala sang istri, seolah meminta maaf karena dia telah mengagetkan nya.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di hotel, Tiara dan Kenzo langsung turun, masuk ke lobby hotel menemui Jonathan dan lainnya.
__ADS_1
"Ken, aku ke toilet dulu." pamit Tiara, sambil melihat sekitarnya. Dia harus bergegas menuruti nasehat Kenzo untuk mengoleskan foundation itu sebelum bertemu dengan Michel dan juga Jonathan.
"Mau di antara?" tanya Kenzo sedikit khawatir, ini kali pertama Tiara di luar kota bahkan mungkin kali pertama menginjakkan kaki di sebuah hotel, apa wanita itu tidak akan nyasar.
"Aku bisa sendiri." tolaknya pelan, Karena masih malu, rasanya butuh waktu bagi Tiara untuk menjaga jarak dengan Kenzo, sehingga dia tidak terlalu malu jika kembali mengingat hal itu.
"Kau yakin?" tanya Kenzo masih ragu. Dia bisa mengantar Tiara dan menunggunya di area toilet.
"Tidak apa-apa, aku bisa bertanya pada staf hotel di sini." jawab Tiara dengan lugas, dia bisa bertanya pada orang-orang di sini, jadi Kenzo tidak perlu khawatir.
"Iya, jangan lama-lama! Aku tunggu di sini."
Tiara langsung melangkah pergi, Kenzo terus melihat kepergian wanita itu sampai punggung sang istri benar-benar menghilang dari pandangannya.
Beberapa menit berlalu, dengan setia Arzan menunggu Tiara keluar dari toilet wanita, dia bersandar di dinding sambil memasukkan kedua tangan di saku celananya, bersiul-siul riang akhirnya ada waktu dimana dia bisa mengerjai wanita yang telah meledeknya, dia sudah membayangkan betapa serunya mengerjai wanita yang terlihat so jual mahal itu.
Pintu pembatas area toilet wanita terbuka, terlihat sosok Tiara keluar dari sana sambil menenteng sebuah syal di tangannya, rambut wanita itu di ikat tinggi-tinggi, sepertinya karena harus mengoleskan foundation di bagian lehernya dia sengaja mengikatnya agar mempermudah kegiatan nya, dia seketika langsung membelalakkan matanya saat melihat sosok Arzan yang sudah tersenyum lebar menatapnya. "Astaga! Kenapa dia ada di sini?" gumamnya dengan begitu kaget, perasaannya sudah sangat gelisah, ingin segera pergi tapi lelaki itu tiba-tiba bergerak menghalangi jalannya.
"Hai, mau ke mana cantik kenapa buru-buru sekali," cegah Arzan dengan seringai nya, matanya sampai tidak berkedip menatap Tiara, rupanya wanita itu terlihat lebih cantik di tambah leher jenjangnya yang terekspos terlihat semakin menggoda. "Kalau saja wanita ini bisa menjadi pasangan ku bukan kah itu lebih menarik," gumamnya lagi dengan penuh damba, wanita ini lebih menggoda tidak seperti Shasa yang dengan begitu mudah di dekatinya.
"Anda, mau apa. Jangan macam-macam ya!" Tiara sudah mulai ketakutan, tatapan mesum lelaki itu membuat nya merinding, dengan cepat kembali mengenakan syal itu dan menutupi leher dan semua bagian depannya. Lelaki itu benar-benar tidak sopan dengan tatapan senonoh nya. "Saya bisa berteriak kalau anda macam-macam." ucapnya lagi dengan berjaga-jaga, melihat ke sekitar mencari bantuan, namun nihil tidak ada seorang pun di sana. Bahkan saking gugupnya dia lupa harus kembali ke arah mana.
Arzan malah tergelak, "Berteriak lah, tidak akan ada orang yang mendengar teriakkan mu," tuturnya dengan tersenyum senang, dia langsung mengeluarkan satu tangannya, hendak menyentuh Tiara, namun wanita itu dengan cepat langsung menghindarinya, "Kenapa ketakutan seperti itu? Apa karena tidak ada bodyguard mu?" ucapnya sambil melangkah mendekati wanita itu, "Kemarin kau berani sekali pada ku, bukankah sekarang kau harus membayar ketidak sopan nan mu itu." ucapnya lagi dengan senyuman tipis di bibirnya.
__ADS_1
"Kenzo!" Tiara hanya bisa memanggil nya dalam hati, dia menjadi menyesal karena telah menolak tawaran Kenzo saat tadi mau mengantarnya. Dia semakin ketakutan, Arzan sudah kelewatan sampai berani main tangan untuk menyentuhnya, dia semakin ketakutan karena tidak bisa melawan lelaki itu, dia lebih memilih berlari, berlari entah ke arah mana yang ada di pikirannya hanya ingin menjauh pergi dari lelaki yang menakutkan itu. "Kenzo, tolong!" lirihnya dengan badan yang sudah melemas ketakutan. Terus melangkah pergi tetapi lelaki itu terus saja mengikutinya.
"Kenapa malah berlari ke arah sana, bukankah itu akan lebih menguntungkan untuk ku." gumam Arzan semakin tersenyum senang.
Semangat itu di lobby hotel, Kenzo terus saja memperhatikan jam di tangannya, mengecek waktu, ini sudah terlalu lama tapi Tiara masih juga belum terlihat batang hidungnya. "Kenapa lama sekali?" gumamnya sedikit bersabar mungkin Tiara sebentar lagi kembali.
Dari arah lain, terlihat Shasa berjalan ke arah Kenzo berada sambil celingukan mencari keberadaan Arzan. Di susul Michel dan Jonathan yang berada lima langkah di belakang Shasa yang sama-sama berjalan ingin menghampiri Kenzo. Sampai kini mereka semua berkumpul di satu titik dimana Kenzo berada.
"Loh Sha kau masih di sini? Mana Arzan? Bukannya mau ke rumah sakit?" Jonathan tiba-tiba bicara dengan penuh tanya, setelah nya langsung menatap Kenzo karena reaksi sahabatnya langsung terlihat kaget saat kata Arzan keluar dari mulutnya. "Jangan bilang kau belum membaca pesan ku, Ken?" tanyanya sama-sama kaget. Melihat Tiara tidak bersamanya, dia bisa langsung menebak apa yang ada di pikiran sahabatnya itu.
"Jir, sial..." Kenzo dengan cepat langsung pergi ke arah toilet untuk menghampiri Tiara, jangan sampai apa yang di dia khawatirkan nya benar-benar terjadi pada istrinya.
Jonathan yang sama-sama kaget langsung melangkah pergi mengikuti langkah Kenzo, tidak menutup kemungkinan Tiara benar-benar dalam masalah karena Arzan sama-sama tidak ada di sana, terlebih dia tahu kalau Arzan dari kemarin sudah uring-uringan karena Tiara meledeknya.
Brakk, pintu kamar mandi terbuka dengan begitu keras, persetan itu toilet wanita, Kenzo harus mencari keberadaan Tiara dan memastikan kalau istrinya itu baik-baik saja. "Tiara!" panggilannya dengan nada suara semakin gelisah, dia mengecek setiap toilet tapi nihil istrinya itu tidak ada di dalam sana. "Argh, dia kemana?" sudah makin frustasi. Kenzo kembali keluar toilet untuk terus mencarinya.
"Apa Tiara tidak ada?" tanya Jonathan ikut khawatir, melihat ekspresi Kenzo sepertinya wanita itu benar-benar lepas dari pengawasan nya.
"Tadi dia mau ke sini tapi di dalam tidak ada," jawab Kenzo sambil mengusap kasar rambutnya, kesal sendiri, kenapa dia bisa lengah seperti ini sampai tidak bisa mengawasi Tiara. Dia langsung melihat ke sekitar, ada tiga lorong di depan matanya, satu lorong menuju lobby, dan dua lorong itu kemungkinan jalan di mana Tiara berada.
"Aku cek ke arah menuju restoran, dan kau cek ke arah gudang penyimpanan," ucap Jonathan menunjuk dua arah itu, dia adalah putra pemilik hotel ini, jadi dia tahu betul denah hotel nya. Dia akan membantu mencari Tiara, dan menyuruh Kenzo ke arah gudang, karena tidak menutup kemungkinan kalau si Arzan gila itu benar-benar bertingkah diluar batasan dan mempersulit Tiara di gudang sana.
"Gudang?" Kenzo terkejut bukan main, pikirannya langsung tidak karuan, tanpa pikir panjang dia langsung berlari ke arah yang Jonathan tunjukkan, "Ya Tuhan, tolong jaga istri ku!"
__ADS_1