Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Dendam baru tentang masa lalu.


__ADS_3

Shasa terus menunduk, matanya sudah sembab karena dari tadi terus saja menangis, duduk di sofa bertumpu pada lututnya, pikirannya benar-benar buntu, bagaimana dia akan melangkah ke depannya setelah berbadan dua, terlebih aibnya sudah tersebar ke mana-mana. "Bu!" lirihnya dengan begitu pilu.


Widia yang sedari tadi duduk di samping Shasa langsung merangkul tubuh itu dan memeluknya, air matanya ikut terjatuh, dia tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa terus mengelus Shasa menenangkan perasaan putrinya. Sejauh mereka melangkah dia tidak pernah berpikir nasib putrinya akan seperti ini.


Arya sama-sama membantu, dia masih diam tanpa kata, hanya bisa menatap putrinya dengan penuh luka, dengan penyesalan yang begitu dalam. Tidak bisa menyalahkan Shasa karena sedari awal mereka mendukung hubungan putrinya dengan Arzan, bahkan dia dan sang istri sendiri yang selalu memberi nasehat agar putrinya itu bisa lebih dekat dengan Arzan agar kehidupan putrinya bisa lebih nyaman dengan berlimpah kekayaan.


Sedikitpun tidak pernah menyangka kalau kenyataan tidak sesuai dengan harapan, bukannya bahagia putri mereka malah ternoda dan terluka, setelah mengetahui fakta kalau sosok Arzan hanyalah sebuah figuran dalam keluarga Prawira, mereka begitu muak jika harus meminta pertanggung jawaban lelaki itu, terlebih setelah melihat sifat aslinya.


"Jangan terus menangis, Nak. Kau masih muda, masa depan mu masih panjang." tutur Arya berusaha menenangkan Shasa, jangan merasa terpuruk, karena masih ada mereka di sisinya. Jangan merasa tersakiti karena Arzan sendiri pasti mendapatkan akibatnya, jangan merasa tertekan karena berita itu pasti akan reda dengan sendirinya.


"Tapi, Yah. Bagaimana dengan janin ini? Bagaimana sekolah ku, semua orang sudah mengetahui ini." keluh Shasa kembali terisak, ini semua memang kesalahannya, ini semua buah dari rasa bencinya, tidak bisa di pungkiri, jikapun tidak muncul dari barita di televisi dan artikel pun lambat laun orang-orang di sekitarnya akan mengetahui tentang kehamilannya.


"Biarpun Ayah begitu membenci bapak dari janin itu, tapi janin itu tetap anak mu, jaga lah sampai dia lahir. Kau bisa homeschooling sampai lulus SMA, tidak perlu berkecil hati," tutur Arya berusaha meringankan beban putrinya, jangan memikirkan tentang pandangan orang, justru dengan adanya berita itu bisa menarik persepektif orang-orang kalau putrinya hanya korban dari kebiadaban seorang Arzan. Lelaki yang seenaknya meniduri nya tapi enggan bertanggung jawab dengan segala tindakan nya. Mereka hanya perlu mengganti langkah untuk berubah menjalani hidup yang lebih baik tanpa di dasari sebuah demam.


...*...


Plakk.


Arzan berdiri mematung, wajahnya begitu pasrah menerima tamparan dari Prawira yang sedang membabi-buta memarahinya, rahangnya yang masih sakit akibat pukulan Arya kini tertimpa tamparan Ayah angkatnya.


"Bukannya Shasa pacar mu? Kenapa kau begitu kejam malah menyuruhnya melakukan aborsi dari pada bertanggung jawab menikahinya?" Kemarahan Prawira begitu meluap-luap, kalau saja lelaki ini bisa berpikir jernih dan lebih manusiawi untuk bertanggung jawab dia tidak akan se-kecewa ini. Di mana martabat nya? Di mana harga dirinya? Karena kelakuan anak angkatnya itu keluarga dirinya juga terbawa-bawa. "Bicara, bodoh!" decak nya lagi karena Arzan masih diam tanpa kata.


Arzan tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa mengumpat dirinya sendiri, baru kali ini kesenangannya malah menjadi bumerang untuk nya, rencananya untuk menghilangkan jejak malah kandas di tengah jalan. "Maaf, Yah. Awalnya aku hanya tidak ingin mengecewakan Ayah, tapi aku tidak menyangka ada pihak ketiga yang malah memanfaatkan situasi ini." tutur Arzan mulai bersuara, hanya itu pembelaannya, bak nasi yang sudah menjadi bubur, dia tidak bisa mengulang kembali sesuatu yang sudah terjadi, dia hanya perlu mencari alasan untuk membela diri.


"Dasar bajingan. Memang salah besar aku mempercayakan perusahaan pada mu. Kau sama saja dengan preman pasar yang tidak tahu perasaan." decak Prawira geram, begitu percaya diri sekali lelaki itu memberi alasan, ingin menyembunyikan kesalahan dengan membunuh janin yang tidak tahu apa-apa. "Jangan pernah berharap akan kembali memimpin perusahaan, karena perusahaan tidak membutuhkan seorang pemimpin yang bejat seperti mu."

__ADS_1


"Ayah!" Arzan sampai tersentak, inilah yang dia khawatirkan, jika dia tidak bisa mempunyai kekuasaan dia tidak bisa dengan mudah membalaskan dendam Ayah aslinya. "Yah, tolong berikan satu kesempatan lagi, setidaknya sampai rapat terbuka besok. Aku akan membuktikan kalau aku pantas memimpin perusahaan." Dia sampai memohon, izinkan dia mengikuti rapat terbuka nanti, dia bisa membuktikan dia bisa, dia hanya ingin melihat sosok pewaris keluarga Wijaya untuk membalaskan dendam kematian Ayah nya.


"Kau masih punya muka untuk menunjukkan wajah mu setelah skandal itu, akan banyak media yang akan menyoroti acara itu dan kau masih ingat ikut ke sana. Nama baik perusahaan Prawira benar-benar akan tercoreng, dengan keberadaan mu, bodoh." tolak Prawira tidak bisa memberi lelaki kesempatan, apa anak ini tidak punya otak, justru jika Arzan ikut turun tangan itu akan lebih memalukan. "Introspeksi diri, jika kau memang sudah pantas, kau bisa kembali, walau tidak akan pernah ku berikan jabatan tinggi."


"Argh...." Tangan Arzan sampai mengepal geram, padahal tinggal satu langkah lagi dia bisa membalaskan dendam nya, pada akhirnya dia harus bermain kasar untuk mengakhiri semuanya. "Lihatlah Kenan, kau telah merenggut nyawa Ayah, dan kau harus membayarnya dengan nyawa putra mu."


...*...


Di kediaman keluarga Wijaya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, para pelayan yang sudah mau beristirahat kini di buat repot setelah kedatangan Roni dan Rani di kediaman mereka.


Tiara dan Kenzo yang sudah terlelap di alam mimpi kini terbangun karena suara ketukan pintu dari luar kamar mereka.


"Ken, Kenzo." Tiara langsung menggeliat melepaskan pelukan sang suami, Ze terdengar memanggil mereka tapi suaminya itu tidak kunjung bangun juga. "Kenzo, bangun! Mommy terus memanggil tuh." ucapnya sambil menyibakkan poni sang suami. Mereka memang baru saja terlelap setelah kegiatan panas mereka, tapi mau bagaimana lagi, Kenzo harus bangun menghampiri sang Mommy.


Ze yang sedari tadi menunggu di luar pintu sampai tersenyum kecil melihat penampilan putranya sekarang, padahal biasanya udara malam adalah kelemahan nya, tapi sekarang putranya itu terlihat baik-baik saja walau bertelanjang dada. "Apa Mommy mengganggu tidur kalian?" tanyanya basa-basi, dia sampai tersenyum kecil melihat ekspresi masam putranya, apalagi penampilannya terlihat begitu kusut sekali. Terlebih saat mencuri pandang melatih ke dalam, dia melihat jelas Tiara yang terbaring terbungkus selimut tebal sampai menutupi seluruh tubuhnya.


"Mengganggu sekali." decak nya kesal, sudah tahu mengganggu masih saja bertanya. "Ada apa, perasaan ini sudah malam, kenapa mommy membangunkan kita?"


"Om Roni dan Tante Rani baru sampai, Daddy menyuruh kalian turun katanya ada beberapa hal yang harus di bahas." jawab Ze menjelaskan. Dia tahu putranya sedang beristirahat, tetapi ada hal mendesak yang mengharuskan putra dan menantu nya itu untuk ikut turun mendengar briefing dari suaminya, sebelum menghadiri rapat terbuka besok.


"Kan bisa besok, Mom." tolak nya tidak bisa, bukan karena apa-apa kalau harus turun sekarang mereka harus memakan banyak waktu untuk bersiap. Terlebih istrinya itu pasti kelelahan kalau harus turun sekarang.


"Katanya ada hal penting, cepat bersiap! Daddy sudah menunggu." timpal Ze menjelaskan.


Aisst, Kenzo sampai menghela nafas, sepertinya keinginan Daddy nya itu tidak bisa di bantah. "Satu jam, kita akan bersiap. Satu jam lagi kita akan turun." ucapnya patuh. Mau bagaimana lagi, lelah juga tidak apa-apa, dia dan sang istri sudah di tunggu di bawah.

__ADS_1


"Satu jam?" Ze sampai kaget, "Lama sekali?" tanyanya heran. Cuma di suruh bersiap masa menghabiskan waktu sampai satu jam.


"Kita harus mandi dulu, Mom." jawabnya cepat. Masa mereka harus turun ke bawah sambil membawa aroma-aroma wangi khas percintaan.


Ze sampai terkekeh, langsung menggerakkan tangan menyuruh putranya lekas kembali ke dalam, "Iya, mandi sana, jangan lupa keringkan rambut kalian biar tidak masuk angin."


Kenzo kembali masuk, setelah menutup pintu kamar dia langsung menghampiri Tiara, "Ayo!" ajaknya sambil mengulurkan tangan, Tiara pasti mendengar jelas percakapan mereka jadi dia tidak harus menjelaskannya, dia langsung menggendong tubuh sang istri untuk mengajaknya mandi bersama.


"Ada hal penting apa ya? Apa ini menyangkut berita yang tadi?" tanya Tiara penasaran, tangannya langsung melingkar di leher sang suami. Yang awalnya sudah mengantuk matanya tiba-tiba jadi melek mendengar perkataan mommy nya.


"Entahlah, kita akan tahu jawabannya nanti."


Satu jam lebih sepuh menit telah berlalu, setelah berbincang menyambut kedatangan Rani dan Roni Tiara dan Kenzo langsung di ajak keruangan Kenan bersama dengan Roni untuk membahas informasi dari apa yang Roni bawa. Hal penting yang harus di ketahui Kenzo dan Tiara sebelum mereka turun ke lapangan besok untuk membantu perusahaan Wijaya.


"Ada apa?" Kenzo yang terlebih dulu bertanya, dari tadi ekspresi Roni dan Kenan terlihat begitu serius, membuatnya penasaran.


Kenan sampai menghela nafas, berita ini juga sangat mengejutkan untuknya, tapi dia tetap harus memberi tahu Kenzo agar putranya itu juga mengetahui nya, "Arzan Ravindra ternyata putra bungsu Wiranto, Ken." tutur nya dengan sedikit ragu. Putranya itu pasti akan lebih terkejut karena ini menyangkut masa lalu nya. Inilah alasan nya kenapa selama ini dia sampai menyembunyikan identitas putranya.


"Apa?" Kenzo sampai tersentak, hampir tak percaya, detak jantungnya sampai berdegup dengan kencang, trauma masa lalunya tersulut kembali saat mendengar nama itu.


"Ken?" Tiara yang kaget, langsung meraih tangan Kenzo dan menggenggamnya. "Wiranto?" batin nya sampai bertanya-tanya. Dia langsung menatap sang Daddy membutuhkan penjelasan. "Dad?" ucapnya lirih. Dia mengharapkan penjelasan tapi Daddy-nya masih terdiam. Dia semakin penasaran, terlebih saat melihat ekspresi Kenzo, suaminya itu sampai menekuk kan kepala, setelah nama Wiranto keluar dari bibir Daddy nya.


Kenan langsung mendekat menghampiri Tiara, langsung duduk di samping menantunya itu dan mengelus kepalanya.


"Maaf, kami tidak pernah menceritakan tentang ini sebelumnya. Tapi Daddy tidak bisa menjelaskan lebih jauh, biar suami mu sendiri yang menceritakan nya. Tapi jangan bertanya sekarang, sepertinya suami mu cukup syok setelah mengetahui fakta nya." bisik Kenan berusaha meredam rasa penasaran Tiara. Ini tentang masalah masa lalu keluarga mereka, biar Kenzo sendiri yang menceritakan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2