
Bali, di sinilah Tiara dan Kenzo berada. Di sebuah villa di tepi pantai. Sebuah hunian yang tidak terlalu luas namun terlihat begitu mewah menambah kesan estetis dengan keindahan pasir pantai dan hamparan laut biru yang membentang di depannya. Seliweran angin pantai yang sepoi-sepoi menambah kesegaran bak keindahan surgawi.
Para pelayan keluarga Wijaya yang ikut ke sana sudah terlihat berlalu lalang menyiapkan segala keperluan Tuan dan Nona muda mereka, waktu yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi membuat mereka bergemuruh. Sang majikan yang harus mereka layani dari tadi malam sampai saat ini belum juga terlihat keluar kamar, padahal segala keperluan untuk mereka jalan-jalan sudah di siapkan.
"Apa Tuan dan Nona muda baik-baik saja?" tanya salah satu pelayan, dia begitu khawatir terlebih saat mereka sampai di sini keadaan nona muda mereka terlihat begitu memperihatinkan karena baru pertama kalinya naik pesawat.
"Mereka baik-baik saja, Nona juga sudah lebih baik, kata Den Kenzo seharian ini mereka akan tetap di kamar untuk beristirahat." jawab salah satu pelayan menimpali, dia bertugas menyiapkan sarapan pagi tadi, jadi tahu bagaimana keadaan Tuan dan Nona muda mereka.
"Syukurlah. Jadi kita tidak perlu menyiapkan semua ini sekarang." timpal satu pelayan yang lainnya. Dia bertugas menyiapkan segala properti untuk berjalan-jalan ke pantai nanti.
"Iya, siapkan nanti saat Den Kenzo memerintah saja," timpal pelayan tadi. Dia harus bergegas kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk majikannya. Para pelayan yang lain pun kembali ke tempat nya masing-masing.
Sementara itu di dalam kamar, Tiara terus merengek karena jatah liburannya di potong sang suami, rencana awal liburan tiga hari ini untuk berjalan-jalan dan main di pantai, kini seharian ini malah harus dia habiskan rebahan di dalam kamar.
"Ken, aku baik-baik saja, kok. Ayo ke pantai!" ajaknya lagi, entah sudah ke berapa kalinya kata itu keluar dari bibir Tiara tapi Kenzo tidak pernah menggubrisnya, lelaki itu malah terus saja mendekapnya dan tidak mengijinkan untuk turun dari tempat tidur. "Kenzo!" pintanya lagi karena lelaki itu masih diam tanpa melepaskan pelukannya.
"Baik dari mana? Semalam saja kau hampir pingsan, apa kau ingin membuat ku khawatir lagi." tolak Kenzo dengan tegas, tangannya langsung bergerak menyentuh kening Tiara dan menekan kening itu dengan telunjuknya. "Tidur saja!" titahnya dengan tegas.
"Itu kan semalam, sekarang aku baik-baik saja kok." timpal nya berusaha memohon, suaminya ini memang ada-ada saja masa iya liburan harus seharian di dalam kamar. Kalau mau terus rebahan kenapa harus jauh-jauh datang ke Bali, tau gini mending di rumah saja. "Sayang, ayo! Kau yang mengajak ku liburan, kenapa malah terus rebahan." omelnya lagi tidak terima. Bukan karena apa-apa, gemuruh ombak pantai terdengar begitu jelas bak lambaian tangan yang terus mengajaknya untuk bermain dan melihat keindahan di luar Villa.
"Diam lah! Kalau kau terus mengoceh dan merengek meminta ke pantai, bukan hanya hari ini saja, tapi selama tiga hari di Bali kau akan terus ku kurang di dalam kamar." timpal Kenzo dengan datar, dia bukan tidak ingin mengajak Tiara keluar, hanya saja dia khawatir dengan keadaan sang istri, semalam saja sudah hampir mau pingsan karena mabuk udara, bagaimana kalau sekarang gadis itu malah kembali kelelahan kalau langsung di ajak jalan-jalan. "Ini hukuman untuk mu, karena berani muntah di pakaian ku." lanjut nya dengan begitu datar tanpa ekspresi, padahal dalam hati sudah tersenyum kecil, dia memang harus sedikit lebih tegas agar wanita ini menurutinya. "Ayo tidur saja!" ajaknya sambil mempererat pelukannya, mendekapnya dengan begitu erat, agar gadis ini tidak merengek lagi apalagi sampai berani turun dari tempat tidur nya.
"So all day we are in the room?" ucapnya dengan lirih, besar hati ingin langsung jalan-jalan tapi sang suami tidak mengijinkan. "Bosan tahu." keluhnya sambil membalas pelukan lelaki itu, mau bagaimana lagi, dia memang harus tidur menuruti perintah suaminya.
__ADS_1
"Bosan?" ucapnya dengan menyeringai, Kenzo kembali meregangkan pelukannya, dan menatap sang istri dengan tatapan penuh arti. "Aku bisa membuat mu tidak merasa bosan lagi." lirihnya sambil mengangkat dagu Tiara, mencium bibir sang istri, tanpa memberikan jeda saat wanita itu mau bicara. "Ambil nafas, Tiara" bisik nya lagi, saat tautan bibir itu terlepas. Kenapa wanita ini selalu payah dalam berciuman, padahal dia sudah berkali-kali mengajarinya.
"Kau tiba-tiba mencium ku, aku kan kaget." timpalnya dengan begitu polos. Bisa-bisanya di momen yang seharusnya romantis lelaki itu malah mengomelinya. "Dasar Tuan muda menyebalkan!" gumamnya pelan.
Kenzo sampai terkekeh, "Maaf." lirihnya sambil kembali mencium bibir wanita itu dengan begitu lembut dan perlahan, tangannya malah sudah menyelusup masuk ke balik pakaian sang istri. Tapi detik selanjutnya kegiatannya tiba-tiba terhenti saat nada panggilan di ponsel Tiara terdengar begitu nyaring dan begitu mengganggunya. "Aisst."
Tiara sendiri sampai tersenyum kecil, langsung mengambil ponsel yang senagaja ia simpan di samping bantalnya. "Azzura video Coll, Ken." ucapnya memberi tahu sang suami setelah melihat panggilan di layar ponselnya.
"Angkat saja!" timpalnya dengan begitu santai, mengizinkan Tiara mengangkat panggilan nya tapi dengan syarat jangan beranjak dari tempat tidur nya. "Di sini saja!"
"Tapi!"
"Di sini atau jangan di angkat sama sekali!"
Dua pilihan yang sama-sama tidak mengenakan, jika tidak di angkat itu dari Azzura, bagaimana kalau wanita itu ada urusan penting, tapi jika di angkat wanita itu pasti akan berpikiran yang lebih dari itu saat melihat nya berbaring di tempat tidur di siang bolong seperti sekarang. "Akh, aku angkat saja." gumamnya sambil mengangkat panggilan itu.
Tiara sampai terbatuk-batuk, bercinta dari mananya orang mau mulai saja wanita itu malah mengganggunya, "Ada apa-apa kenapa sampai video call?" tanyanya langsung. Tidak mungkin Azzura memanggilnya tanpa alasan, apalagi kalau hanya sekedar ingin menggodanya.
"Aku hanya ingin menghubungi mu, bosan tahu, Ra. siapa tahu kau ingin lihat suasana camping kita di sini. Lihat tuh!" timpal Azzura sambil memperlihatkan keadaan sekitar, memperlihatkan beberapa tenda yang sudah bertengger memperlengkap camping mereka.
"Apa belum ada kegiatan? kenapa kau terlihat santai sekali?" tanya Tiara lagi, beberapa orang-orang di sana masih terlihat memasang tenda, tapi Azzura terlihat santai saja.
Azzura sampai menyeringai, "Tenda ku sudah beres karena di bantu ketua osis," ucapnya dengan tersenyum bangga, "Bahkan lelaki itu ada di sini, apa suami mu mau menyapa sahabatnya ini," lanjutnya malah menggoda.
__ADS_1
"Jangan, kau gila." cegah Tiara dengan begitu sewot. Yang tahu hubungan mereka kan hanya Azzura, kalau Jonathan melihat dia dan Kenzo sedang rebahan di tempat tidur bisa bahaya.
"Kalau tidak ada hal yang penting, sudah kita sibuk," ucap Kenzo ikut menimpali, yang tadi hanya diam saja kini dia menampakkan diri nya, dan langsung memeluk Tiara, kesal sendiri di kira ada hal penting, ternyata hanya pembicaraan biasa saja. "Mengganggu sekali."
Azzura sampai geleng kepala, "Aisst, mataku benar-benar ternodai," umpatnya dalam hati. Ini memang bukan pertama kalinya melihat kemesraan mereka, tapi tetap saja kesal sendiri kalau melihatnya, jiwa jomblo nya langsung meronta-ronta, "Tunggu jangan di matikan dulu, kau harus lihat ini." cegahnya sambil menggerakkan arah kamera ke sudut lain.
Tiara dan Kenzo sampai bisa melihat dengan jelas, di balik layar ponselnya terlihat pergerakan Devan yang sedang membantu Priscillia membangun tendanya.
"Setelah di perhatikan, dari kemarin si Devan terus saja mendekati Priscilla bahkan begitu perhatian pada wanita itu. Apa kau yang menyuruhnya?" tanya Azzura heran. Bukannya Tiara bilang akan berusaha mendekatinya setelah acara camping nanti. Tapi kenapa Devan yang merupakan teman Kenzo malah terlebih dulu mendekatinya.
Tiara langsung menatap sang suami, dia tidak pernah merasa menyuruh Devan, "Apa kau yang menyuruhnya?" tanyanya memastikan.
"Hem." jawab Kenzo singkat, sambil menganggukkan kepala.
"Kenapa?" tanya Tiara heran, dia tidak pernah menyuruh sang suami melakukan itu.
"Aku hanya menyuruh Devan untuk mengawasi nya saja, aku tidak mengira mereka akan sedekat itu." jawab Kenzo dengan datar. Dia hanya berjaga-jaga saja, karena wanita itu adalah harapan satu-satunya supaya sang istri bisa mengalahkan Shasa dan kedua kawannya, dia menyuruh Devan untuk memastikan kalau tiga wanita itu tidak mendekati Priscilla apalagi sampai menghalangi wanita itu untuk bergabung dengan sang istri.
Azzura sampai geleng kepala, bahkan Tiara sendiri langsung tersenyum senang, di balik rencananya yang sudah rapih, ternyata Kenzo telah membantunya mengantisipasi segala sesuatu yang bisa terjadi. "Terima kasih suamiku." ucapnya lirih. Dia kembali menatap Azzura untuk mengakhiri video call nya. "Azzura sudah dulu ya, selamat bersenang-senang dengan camping nya." pamitnya sambil mematikan panggilan itu.
Di simpan nya ponsel itu dan langsung membalas pelukan sang suami, "Terima kasih untuk semuanya," lirihnya lagi. Di balik sikapnya yang dingin dan kasar ternyata begitu banyak perhatian yang lelaki itu curahkan padanya.
"Hanya terima kasih saja," godanya dengan tersenyum kecil.
__ADS_1
"Terima kasih, sayang." ucap Tiara lagi, dia bahkan langsung mengangkat wajahnya dan mengecup bibir sang suami dengan begitu cepat. "Sudah ya, kau kan menyuruh aku tidur." ucapnya lagi dengan cengengesan. Ekspresi Kenzo terlihat begitu kesal saat kata tidur keluar dari bibinya.
"Coba saja kalau mau tidur, aku akan terus mengganggu mu."