Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Akan berusaha membantu Daddy.


__ADS_3

Shasa menyeret badannya yang terasa lemas menuju kamar mandi, tidak mempedulikan rasa nyeri pada area sensitifnya karena ingin bergegas membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket di penuhi liyur dan bekas kecupan yang Arzan tinggalkan. Menutup pintu kamar mandi dengan kasar, dan lekas menyentuh keran shower untuk mengguyur tubuh polosnya.


"Argh." Dia menjerit kesal, mengacak rambut panjangnya dengan begitu kasar, memukul pelan tubuhnya yang sudah terjamah lelaki itu, "Kau puas, Tiara? Kau puas melihatku seperti ini," air matanya terjatuh, tubuhnya terkulai lemas terduduk di lantai kamar mandi dengan guyuran air shower yang terus berjatuhan di atas kepalanya. Air itu terus mengalir, menghilangkan bekas-bekas kotoran yang menempel di badannya.


"Kenapa harus berakhir seperti ini, Argh." decak nya lagi dengan begitu frustasi. Hidupnya serasa hancur, kesuciannya terampas akibat wanita pembawa sial itu, hatinya yang teramat sakit memberikan goresan hitam, hingga dendam nya makin dalam. Hari ini dia kalah, tapi dia berjanji, dia akan membalaskan rasa sakitnya. "Lihat saja, Tiara." Itulah janjinya, dia akan membalaskan penghinaan ini dengan lebih menyakitkan dan tentunya bukan dengan dirinya yang sekarang.


...***...


Dua minggu berlalu, banyak sekali yang berubah, kehidupan Tiara terasa nyaman dan tentram dengan limpahan perhatian dan kasih sayang yang Kenzo berikan, menjalani hari-hari yang penuh ketenangan tanpa ada serangan dan kejahilan yang biasanya Shasa lakukan.


Bahkan dia sempat bertanya-tanya kemana sosok Shasa yang selalu mempersulit hidupnya, apa insiden minuman itu benar-benar membuat wanita itu jera, saat di sekolah pun wanita itu terlihat lebih pendiam dan berbeda. Saat mereka saling berpapasan pun, tidak pernah ada kontak mata, tidak pernah ada tutur sapa, membuat Tiara kembali bertanya-tanya.


"Apa mereka baik-baik saja?" Tiara langsung memijat pelipisnya, langsung menyandarkan tubuhnya di sofa setelah mengerjakan tugas yang Kenan berikan padanya. Pikiran nya di penuhi bayang-bayang keluarga pamannya, bagaimana keadaan mereka sekarang setelah di pecat dari perusahaan Wijaya. Apa hidup mereka baik-baik saja? atau malah terlantar? Sungguh kepalanya di buat pusing jika memikirkan itu, karena mengkhawatirkan keadaan mereka.


Kenzo baru keluar dari kamar mandi, langsung menghampiri Tiara dan duduk di samping nya, "Kenapa? Jangan bilang kau kembali memikirkan keluarga paman mu itu." tebak nya sambil mengelus kepala Tiara, sudah berkali-kali dia memintanya agar jangan terus memikirkan mereka, tapi istrinya itu memang keras kepala.

__ADS_1


"Iya," jawabnya dengan ragu, dia tahu Kenzo selalu menasehatinya untuk tidak memikirkan mereka, tapi tetap saja, dia tidak bisa mengabaikan mereka begitu saja, mereka keluarganya, "Ini sudah dua minggu lebih, Ken. Tidak ada kabar dari mereka, saat aku menghampiri Shasa pun, dia selalu pergi begitu saja." keluh nya sambil menyandarkan kepalanya di pundak Kenzo. Tidak bisa di pungkiri kalau sebenarnya dia sangat merindukan Shasa, ingin rasanya ia memeluk wanita yang dia anggap seperti adiknya sendiri.


"Sudah ku bilang mereka baik-baik saja, Tiara. Paman mu itu sudah hidup senang di bawah naungan perusahaan Prawira." jelasnya kembali meyakinkan Tiara.


Iya, Kenzo tahu semua itu karena Jonathan selalu mengeluhkan semua masalahnya, bahkan sahabatnya itu memberitahu nya kalau Arzan mempekerjakan Arya di perusahaan Prawira, melakukan kerjasama bahkan Shasa sendiri bersedia menjadi pacar palsu nya, mereka menjadi sekutu dengan niatan untuk memberi serangan terhadap perusahaan Wijaya. Tapi dia tidak bisa menceritakan semuanya pada Tiara, dia yakin wanita itu akan semakin merasa bersalah karena awal mula semua itu akibat dia yang bersikeras mempertahankan Tiara. Dia hanya bisa meyakinkan Tiara kalau mengabaikan mereka bukanlah kesalahan.


"Jangan terus memikirkan mereka karena mereka pun tidak pernah mengkhawatirkan keadaan mu."


Kenzo langsung menarik Tiara ke pelukannya, mendekapnya dengan erat, kenapa nasib wanitanya begitu menyediakan, hati wanita itu terlalu lemah sampai terus mengkhawatirkan orang yang sudah jelas mereka telah membuangnya.


"Hem."


"Apa kau tahu Pak Roni, sudah seminggu ini Daddy meminta ku menyusun laporan, dan semua laporan itu langsung di kirimkan ke email atas nama itu." tanya Tiara penasaran. Wanita itu sampai mendongkangkan kepala menatap wajah Kenzo meminta jawaban. "Sepertinya beliau orang penting?" dia berusaha menebak, jika melihat data-data yang dia kerjakan, semua laporan-laporan itu adalah laporan penting perusahaan, dan Daddy nya tidak akan mengirimkan itu semua tanpa alasan, karena sepertinya Pak Roni itu tidak bekerja di kantor Wijaya.


Kenzo sedikit kaget, "Om Roni ya," sepertinya yang Tiara maksud memang lelaki itu. "Dia sahabat Daddy, teman kuliah Daddy dulu." tutur nya menceritakan, dia sedikit kaget tidak tahu kalau Tiara mendapatkan tugas dari sang Daddy, untuk di kirimkan pada sahabatnya.

__ADS_1


"Apa Daddy benar-benar akan menyuruh Om Roni untuk kembali ke tanah air?" gumamnya berusaha menebak, pasalnya kemarin Daddy nya membahas itu, membutuhkan sosok Roni sebagai pengganti Arya di perusahaan, tapi sampai sekarang belum juga memutuskannya.


"Sepertinya Daddy benar-benar kesusahan karena mengeluarkan paman ya, maaf. Semua ini pasti gara-gara aku." Tiara kembali menunduk, sungguh dia akan menjadi malu jika tidak bisa ikut meringankan beban Daddy nya.


"Tidak juga, Daddy memang sudah lama tidak mengontak Om Roni, kau tahu, bukan hanya sahabat di kampus, dulu Om Roni juga mantan pacar mommy." tutur nya dengan tersenyum kecil, anggap saja dia sedang menghibur Tiara, dia sedikit membahas tentang masa lalu orang tua nya.


"Benarkah?" Tiara sampai antusias, wajah murung nya langsung menghilang, dan itu membuat Kenzo tersenyum senang, "Kok, bisa?" tanya nya penasaran, semakin antusias ingin mendengar lebih jauh cerita keluarga suaminya.


"Dulu Daddy dan Mommy juga di jodohkan, sebelum perjodohan Mommy menjalin hubungan dengan Om Roni, awalnya Daddy dan Om Roni menjadi rival, tapi setelah Daddy membuktikan kalau Daddy lebih pantas untuk Mommy, mereka menjadi teman dekat sampai sekarang."


Tiara sampai mangap mendengar cerita Kenzo, rupanya tradisi menjodohkan anak sudah ada dari sananya, "Bagaimana dengan kita, apa kau juga akan menjodohkan anak kita nanti, sepertinya keturunan keluarga Wijaya memiliki hobi menjodohkan anak nya." tanya Tiara dengan begitu polos.


Kenzo sampai gelang kelapa dan refleks menjitak kening Tiara, "Heh, kenapa kau sudah berpikir jauh ke sana, sekolah dulu yang benar, baru memikirkan soal anak." ucapnya dengan tersenyum tipis, gemas sendiri melihat ekspresi wanita itu, so-so-an membahas tentang anak, di ajak berhubungan **** saja wanita itu selalu malu-malu dan menyembunyikan badan di balik selimutnya.


"Iya, iya. Aku kan hanya bercanda, siapa tahu kau juga akan menjodohkan anak kita nanti."

__ADS_1


Kenzo sampai terkekeh, kata nya bercanda, tapi bibir nya itu kembali mengulang-ngulang kata 'anak kita' membuatnya terharu saja, merasa tidak percaya, yang awalnya dari sebuah perjodohan yang di paksa, kini dia benar-benar menyayangi wanita yang di jodohkan dengan nya. "Pantas saja aku begitu enggan menerima tawaran Om Roni untuk di jodohkan dengan putrinya, rupanya aku akan di pertemukan dengan kau, Tiara."


__ADS_2