
"Aaaaaaa."
Tiara berteriak sekeras-kerasnya, mengeluarkan semua benak dan rasa sakit di dalam dada, duduk di sebuah bangku di atap bangunan sekolah; tempat di mana pertama kali Kenzo mengajak nya ke sana. Kenzo lah asal mula sampai dia di panggil guru BK, sekarang dia hanya ingin menyendiri, untuk menenangkan hatinya, sebelum menemui lelaki itu.
"Argggh...." Hatinya goyah, perkataan guru BK benar-benar telah mengkontaminasi pikiran nya bahkan terus terngiang di kepalanya; 'kenapa harus menuruti perkataan lelaki itu kalau akhirnya malah merugikan'. Di tambah lagi mendengar perkataan Jessica yang mengatainya lemah, perkataan itu benar-benar mengusik nya, sesaat dia menyalahkan Kenzo, kalau saja lelaki itu mengizinkan nya ikut walau tanpa dirinya, semuanya tidak akan serumit ini. Guru BK tidak akan memandang nya sebelah mata, Jessica si anggota osis itu tidak akan terus memandang nya lemah.
"Aku tidak lemah, aku akan baik-baik saja, Ken. Aku tidak akan terus terkena masalah meski tidak ada kau di samping ku." lirihnya dengan terisak, ingin rasanya mengutarakan itu pada Kenzo, namun tidak mampu takut lelaki itu menjadi marah pada nya.
Dia hanya ingin mematuhi suami nya juga ingin mematuhi peraturan sekolah, tapi kenapa begitu sulit. Fakta kalau Kenzo melarang nya pergi karena mengkhawatirkan dirinya membuat nya serasa menjadi wanita paling lemah, wanita yang tidak bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Rasanya dia sudah tidak mempunyai wibawa sampai Jessica saja berani menghinanya.
"Jangan seperti itu Tiara, apapun yang Kenzo lakukan itu semua demi kebaikan mu." Iya, dia hanya bisa menghibur diri sendiri, menenangkan hatinya sendiri, bicarakan saja baik-baik Kenzo pasti akan lebih mengerti tentang dirinya.
...*...
Di kelas unggulan, Jonathan terlihat sedang menyuruh salah satu murid untuk membantunya; membagikan beberapa lembar brosur untuk bimbingan camping nanti.
"Ada apa memanggil ku?" Suara Azzura tiba-tiba terdengar jelas di kelas itu, wanita itu langsung berjalan masuk dan menghampiri Jonathan yang sedang duduk di bangkunya. "Kau merindukan ku?" candanya dengan tersenyum jahil, dia langsung duduk di bangku kosong di sebelah Jonathan.
"Aisst, siapa yang menyuruhmu duduk hah?" umpat nya kesal, iya itulah Azzura yang dia kenal, wanita yang mempunyai paras cantik sekelas model, memiliki kepercayaan diri setinggi langit, sampai tidak pernah kaleng-kaleng saat bercanda. "Nih, bagikan ini di kelas, mu!" titahnya sambil memberikan beberapa brosur dan dipukulkan pada kepala gadis itu. Dia harus menyadarkan Azzura kalau dia memanggil nya bukan karena apa-apa, hanya memintanya membagikan brosur untuk teman sekelasnya.
"Aww, sakit Nathan." pekik Azzura dengan kesal, tangannya langsung meraih brosur itu, dan di lihatnya lembaran kertas itu dengan seksama. "Apa kegiatannya sebanyak ini?" tanyanya kaget. Di dalam brosur itu terlihat jelas rangkaian acara untuk camping akhir pekan nanti.
- Upacara hari Pramuka.
- Senam pagi bersama.
- Jelajah alam.
__ADS_1
- Upacara api unggun.
- Hasrat Karya.
- Perlombaan.
- Jelajah malam.
"Itu hanya poin penting nya saja. Dalam agenda osis, masih banyak acara yang di susun oleh panitia." tutur Jonathan menjelaskan. Yang di kira banyak oleh Azzura itu tidak seberapa.
"What? Mau camping atau mau latihan militer si, padat amat, acaranya." umpat Azzura sampai geleng kepala, pantas saja Tiara tidak mendapatkan izin Kenzo, si brandal sekolah itu sudah bisa menebak keadaan, terlebih panitia osis acara camping nanti sudah jelas si wanita setan itu adalah ketuanya.
"Kenapa, kau mendadak tidak mau ikut?" timpal Jonathan dengan tersenyum kecil dia sudah bisa membayangkan bagaimana model Trisakti harus berbaur dengan alam yang kotor, gadis itu pasti akan kesusahan dan merengek minta pulang. "Kau pasti akan di persulit sama panitia," ucapnya malah menakut-nakuti.
Bukannya ketakutan, Azzura malah menyeringai, "Kan ada kau, aku tinggal bersembunyi di belakang mu agar tidak ada yang berani menjahili ku." timpal nya dengan begitu santai. Untuk apa punya teman berpangkat tinggi seperti Jonathan kalau tidak memanfaatkan posisinya.
Jonathan sampai mendelik kesal, bukan Azzura kalau wanita itu tidak mempersulit nya, "Sudah pergi sana, kepala ku bisa pecah terus meladeni perkataan mu." Jonathan langsung angkat tangan, terus di ladenin wanita itu pasti tambah menyebalkan.
Belum juga beranjak, Kenzo terlihat memasuki kelas dan menghampiri mereka, "Tiara belum kembali?" tanyanya tiba-tiba. Perasaan dia sudah cukup lama nongkrong dengan Devan, tapi saat masuk kelas dia tidak melihat keberadaan istrinya.
"Bukannya tadi di panggil guru BK." Azzura yang menimpali, sedikit kaget, kalau hanya di panggil guru BK kenapa lama sekali. "Ku kira Tiara sudah kembali dan sedang bersama mu."
"Aisst, apa kau tahu kenapa dia tiba-tiba di panggil guru BK?" tanyanya pada Jonathan, dia langsung mengambil ponselnya berusaha menghubungi Tiara.
"Entah, tapi sepertinya karena masalah tidak bisa ikut camping." jawab Jonathan menjelaskan, iya, itulah tugasnya guru BK, mendisiplinkan murid yang melanggar peraturan.
Kenzo sampai semakin cemas, kalau memang tentang itu dia bisa menebak apa yang guru BK bicarakan pada Tiara. "Percuma, meski sampai dipanggil kekantor pun, kita tidak akan ikut." timpal nya pada Jonathan, dia tahu sahabatnya itu ketua osis yang akan menertibkan para murid, tapi sekeras apapun pihak sekolah membujuk, dia benar-benar tidak bisa ikut dan otomatis Tiara pun tidak bisa.
__ADS_1
"Tapi kenapa cuma Tiara, seharusnya Kenzo juga di panggil guru BK kan?" timpal Azzura heran. Kenzo dalang di balik Tiara tidak bisa ikut, kenapa lelaki ini tidak ikut di panggil juga.
"Dia terlalu sering melanggar peraturan, guru BK sudah kena mental sampai tidak mau menegur dia." timpal Jonathan dengan cepat. Dia dan Azzura terus menyinggung Kenzo, tapi yang di bicarakan tak acuh karena sedang fokus menghubungi Tiara.
"Kau di mana? Apa masih di ruang guru?" tanya Kenzo saat panggilannya di angkat Tiara. "Apa yang di bicarakan guru BK?" tanyanya lagi karena terlalu penasaran.
"Kita bicarakan nanti di rumah, aku sedang di atap." Jawab Tiara singkat, wanita itu membutuhkan waktu lama untuk menenangkan hatinya, sampai belum siap memberi tahu Kenzo apa yang di katakan guru BK itu padanya dan apa keluhannya.
"Di atap? sedang apa? Aku ke sana sekarang!" Kenzo sampai keheranan, melihat tingkah Tiara dia bisa menebak kalau sang istri pasti mendapatkan tekanan.
"Tidak usah, Ken. Aku akan turun sekarang."
Percuma, Kenzo sudah melangkah pergi dia harus memastikan kalau wanitanya baik-baik saja.
Di bangku lain, rupanya Shasa dari tadi memperhatikan mereka, bahkan tahu setiap kata yang Kenzo ucapkan. "Bagaimana kalau Tiara tidak terhasut perkataan guru BK dan Jessica?" gumamnya sambil memikirkan cara yang efektif untuk melihat Tiara terluka tanpa harus menunggu acara camping tiba. Percuma dia terus mendekati Kenzo tapi tidak membuahkan hasil, dia harus menuruti saran yang Arzan usulkan. Dia langsung beranjak dari duduknya dan melangkah pergi mengikuti Kenzo berada.
"Ken!" Shasa berusaha memanggilnya, terus mengikuti langkah Kenzo, walau lelaki itu tidak mempedulikannya. "Kenzo!" panggilannya lagi semakin keras.
"Ada apa hah?" Kenzo sampai risih, menghentikan langkahnya bermaksud mengusir Shasa. "Apa kau tidak punya rasa malu sampai terus mengikuti ku." decak nya geram. Apa yang ada di pikiran wanita itu sekarang sampai terus-menerus mengganggunya.
"Apa kau tidak bisa lebih lembut sedikit saja, aku hanya ingin membantu kalian agar tidak mendapatkan teguran dari sekolah karena tidak ikut camping." timpal nya dengan tegas sampai terdengar meyakinkan. Berusahalah, dia hanya butuh momen Kenzo bisa berada sedikit lebih dekat dengan dirinya. Dengan cepat dia langsung melangkah mendekati lelaki itu.
"Heh, aku tidak butuh bantuan mu." cibir Kenzo dengan tersenyum manis, sedikitpun dia tidak mempercayai perkataan wanita ini. "Tanpa bantuan dari siapapun aku bisa mengurusnya." Kenzo kembali berbalik dan melangkah pergi, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti.
"Ken?" Shasa menarik tangan Kenzo dengan cukup keras, lelaki itu sampai kembali berbalik menghadapnya. Matanya melihat kehadiran Tiara yang sedang menuruni tangga menuju koridor dimana mereka berada. "Waktu yang pas, kau lihat Tiara, kau telah mengambil Kenzo dari ku, maka kau harus merasakan sakit yang aku rasakan." gumamnya dengan menyeringai.
"Aku benar-benar ingin membantu mu, Ken." lirihnya dengan begitu meyakinkan, di rasa Tiara sudah melihat ke arah mereka, dengan cepat dia menarik switer Kenzo sampai lelaki itu tertunduk dan dia sendiri langsung berjinjit mendekatkan wajahnya mencium bahkan melu-mat bibir lelaki itu dengan begitu cepat.
__ADS_1
"Kau gila." Kenzo sampai terperangah tak percaya, menyeka bibirnya dengan begitu keras, pergerakan wanita itu terlalu cepat bahkan dia tidak mengira Shasa akan seberani itu padanya.
Di sudut lain, Tiara bahkan sampai memejamkan mata, "Kenzo!" Hatinya sakit, menggigit bibir bawahnya dengan begitu keras, tubuhnya lemas bagi tercabik-cabik tak berdaya. Tangannya mencekam seragamnya menahan sesak di dada. Shasa benar-benar mencium suaminya persis di depan matanya, bahkan Kenzo pun tidak menghindar sama sekali. "Argh." Tubuhnya sampai tidak bisa bergerak karena terlalu syok melihat pemandangan di depannya.