
"Sampai kapan kau akan menyembunyikan identitas mu, Ken?" Kenan tiba-tiba bertanya, jika saja semua orang mengetahui siapa Kenzo, putranya itu pasti bisa membereskan masalahnya sendiri tanpa bantuannya. "Kau sudah cukup dewasa sekarang."
"Sampai penyakit ku benar-benar sembuh total Dad. Saat itulah aku akan ikut andil di perusahaan tanpa menyembunyikan identitas ku." jawab Kenzo dengan tegas. Iya, walau dia sendiri tidak tahu kapan penyakit itu akan menghilang dari tubuhnya, tapi dia percaya penderitaan di dalam tubuhnya itu akan segera berakhir.
Kenan sesaat terdiam, dia bisa mengerti apa yang di rasakan putranya sekarang, menjadi pewaris tunggal keluarga Wijaya begitu beresiko jika musuh-musuh nya mengetahui kelemahannya. "Bagaimana sekarang, apa kau merasa ada perubahan dalam tubuh mu?" tanyanya memastikan, jika masih tetap begitu-begitu saja tanpa perubahan, dia benar-benar akan membawa Kenzo ke luar negeri untuk pengobatan.
"Sekarang sudah lebih baik Dad." timpal Kenzo menceritakan, jika dia terus menjaga ketat tubuhnya dari udara dingin perlahan penyakit itu akan menghilang dengan sendirinya. "Udara malam pun tidak terlalu menyiksa." ucapnya lagi berusaha meyakinkan Daddy nya kalau dia akan baik-baik saja.
Kenan sedikit bernafas lega, sepertinya menikahkan putranya memang berdampak positif terhadap kesehatan tubuh nya, "Iya, mungkin karena sekarang ada yang menghangatkan ranjang mu, jadi udara malam tidak akan menyiksa lagi." timpal Kenan dengan tersenyum kecil sambil menepuk pundak putranya.
Kenzo sendiri sampai terbatuk-batuk dengan wajah yang bersemu merah, sang Daddy memang selalu tahu apa yang ada di pikirannya.
Melihat Kenzo yang diam tanpa kata sepertinya dugaannya benar adanya, "Sepertinya Daddy tidak perlu terlalu khawatir lagi, apalagi sampai mengajak mu ke luar negeri, karena memang obatnya adalah istri mu sendiri." timpal nya lagi malah meledek Kenzo. Putranya itu malah diam tanpa kata, hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya.
"Daddy harus segera kembali, lama-lama di sekolah bisa memancing perhatian orang." tutur Kenan untuk pamit pergi, sang sekretaris sudah keluar dari ruangan guru, jadi mereka harus segera kembali ke kantor.
"Iya, Dad. Terima kasih bantuannya."
...*...
Sementara itu di dalam kelas, Alicia dan Jessica dari tadi memperhatikan keadaan Shasa, wanita yang duduk di depan mereka memasang wajah kusut dengan mood yang terlihat buruk, mereka jadi pasangan apa yang sebenarnya terjadi dengan atasan mereka.
"Sha?" Alicia berbisik, memberanikan diri untuk bertanya, walau sedang dalam pembelajaran di kelas dan anak-anak yang lain sedang mencatat tugas yang guru berikan, dia benar-benar penasaran dengan keadaan Shasa, terlebih terlihat jelas memar di bagian pipinya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya penasaran.
Shasa refleks menoleh ke belakang, kesempatan baik karena saat ini tidak ada guru di kelas, dia memang harus mengeluh masalahnya pada kedua temannya itu, "Kacau, kalian lihat pipi ku kan! Si Tiara benar-benar jadi monster gila, sampai berani menampar ku." tutur Shasa mengeluarkan kekesalannya.
Kedua temannya itu sampai menohok tak percaya, "My God, kau tidak main-main kan, Sah?" Jessica yang sewot, pasalnya terakhir dia bertemu dengan Tiara, wanita itu juga terlihat begitu sensitif dan berani melawan nya.
__ADS_1
"Iya, sepertinya dia menjadi berani seperti itu karena ada Kenzo, coba kalau tidak ada Kenzo di sampingnya, aku yakin nyalinya pasti akan menciut lagi." timpal Shasa dengan begitu frustasi, dia benar-benar begitu kesal karena di kalahkan Tiara.
"Mau di coba? Aku jadi penasaran seberapa beraninya dia." timpal Alicia dengan menyeringai tipis. Bukankah akan lebih menarik jika wanita itu menjadi monster, mereka bisa lebih menggila mengerjai nya.
"Di coba bagaimana, Tiara tidak pernah lepas dari Kenzo, yang ada kita kembali terkena masalah," Jessica sedikit ragu, mau di kerjain seperti apapun pada akhirnya mereka yang kena imbasnya.
"Tenang lah, aku hanya ingin melihat keberaniannya saja, besok saat jam olahraga, tidak mungkin kan Kenzo mengikuti nya ke ruang ganti wanita, aku jadi penasaran, bagaimana reaksinya jika aku mengusiknya."
Percakapan mereka tiba-tiba terpotong, gemuruh murid laki-laki yang duduk di belakang terdengar jelas sampai menjadi pusat perhatian semua murid di dalam kelas. Salah satu dari mereka rupanya melihat sosok Kenan dan sekretaris nya yang baru mau pergi meninggalkan sekolah.
"Tuan Kenan dan sekretaris nya tuh, sepertinya mereka dari kantor, ada apa ya tiba-tiba Tuan Kenan datang ke sekolah?"
"Apalagi kalau bukan mengecek keadaan sekolah, yayasan ini kan milik keluarga Wijaya."
"Rugi banget ya jadi putranya Pak Kenan, percuma jadi pewaris tunggal tapi tidak bisa menikmati pasilitas sekolah elit ini."
Percakapan murid laki-laki yang duduk di bangku belakang mulai heboh, berita tentang keluarga Wijaya memang selalu menjadi bahan pembicaraan hangat bagi mereka yang bersekolah di sana. Bukan hanya karena kekuasaan keluarga Wijaya yang sudah terkenal di mana-mana, sosok pewaris keluarga mereka juga selalu menjadi bulan-bulanan mereka, karena tidak pernah di publikasikan ke khalayak di luar sana.
Tiara yang mendengar percakapan mereka langsung mengepalkan tangannya geram, tidak sopan sekali mereka menghina suaminya, rasanya dia ingin membungkam mulut mereka dan mencabik-cabik mulut kotor itu. "Sabar Tiara, ini sedang jam pelajaran. Kau tidak boleh berbuat onar." gumamnya dalam hati, dia hanya bisa menenangkan diri sendiri, jika dia berbuat onar dan memarahi murid laki-laki itu, pasti Kenzo sendiri yang akan kembali di repot kan karena ulahnya.
"Hahaha. Percuma dong kaya juga, kalau hidupnya sangat merepotkan." timpal salah satu murid lagi, lelaki itu sampai tertawa begitu senang menghina sosok pewaris keluarga Wijaya yang identitasnya di sembunyikan.
Pembicaraan mereka masih berlanjut, rasa iri pada sosok pewaris keluarga Wijaya sepertinya tertanam kuat di hati laki-laki di luaran sana.
"Assist, dasar bajingan-bajingan menyebalkan." Tiara sudah tidak bisa menahan amarahnya, pembicaraan mereka semakin tidak tahu batasan membuat dia makin geram, dia tidak bisa hanya tinggal diam membiarkan mereka.
"Iya, dari pada menyembunyikan identitasnya kenapa tidak mati saja sekalian, percuma kan kalau hidup hanya bisa mere--"
__ADS_1
Brukkk.
Belum juga lelaki itu membereskan ucapnya, mulutnya langsung terbungkam saat sebuah sepatu mendarat persis di bibirnya. "Jir." Murid laki-laki itu sampai kaget dengan meringis kesakitan. Langsung menoleh ke arah dari mana sepatu itu berasal. "Tiara, apa-apaan kau hah?" decak nya kesal, rupanya Tiara yang melemparkan sepatu padanya, dan kini wanita itu sedang berjalan ke arah bangku yang di duduki nya dengan penuh amarah.
"Kenapa hah? Bahkan sebuah sepatu saja masih lebih baik untuk membungkam mulut kotor kalian." decak Tiara tidak kalah geram. Rasanya belum puas melampiaskan kekesalannya, dia langsung mengambil buku catatan murid laki-laki itu dan melemparkan buku itu pada muka salah satu temannya lagi.
Plakk
"Kau?" Kedua murid laki-laki itu langsung terperangah geram, bahkan bukan hanya mereka saja, semua murid yang ada di dalam kelas langsung menoleh ke arah Tiara dan dua murid laki-laki itu.
Kenapa Tiara bisa semarah itu, kedua murid laki-laki itu bukan sedang membicarakan nya, kenapa malah Tiara yang marah sampai melempar sepatunya.
"Apa, hah?" Tiara sampai kembali mengambil sepatunya dan bersiap-siap untuk kembali melemparkan nya, "Kalau tidak tahu faktanya jangan suka bicara seenaknya, bodoh." decak Tiara lagi. Di lemparnya sepatu itu di meja mereka sampai kembali terpental ke badan mereka berdua.
Murid laki-laki yang terkena lemparan sepatu Tiara langsung berdiri, menatap Tiara dengan tajam, setelah seenaknya melemparkan sepatu di bibirnya wanita itu bahkan mengatainya bodoh. "Apa kau gila, kita membicarakan si misterius itu kenapa kau yang marah hah?" decak nya dengan membentak Tiara, dia sampai kesal sendiri karena bibirnya terasa nyut-nyutan setelah kena lemparan sepatu wanita ini.
Suasana semakin panas. Raut wajah Tiara masih terlihat kesal karena percakapan murid laki-laki yang berani menghina Kenzo, sedangkan dua murid laki-laki itu sendiri sama-sama melebarkan mata memelototi Tiara.
Jonathan yang melihat dari kejauhan tidak bisa tinggal diam, dia langsung berlari menghampiri Tiara, dan melerai perdebatan mereka. "Sudah-sudah, kita sedang belajar, dan kau duduk." titah Jonathan pada murid laki-laki itu. Langsung melihat Tiara dan mengajak wanita itu untuk kembali ke tempat nya. "Ayo duduk, jangan melawan mereka, mereka laki-laki Tiara." Jonathan sampai gelang kepala, rupanya Tiara juga bisa marah, bahkan sampai berani melawan dua orang murid laki-laki sekaligus.
"Kau membela mereka?" protes Tiara tidak terima, dia belum selesai memberi perhitungan pada para murid laki-laki itu, kenapa Jonathan malah melerai nya
"Bukan membela mereka, aku sedang membela diri, Kenzo sudah menitipkan mu, kalau kau lecet sedikit saja, aku pasti akan kena amukannya, jadi ayo kita duduk." Jonathan sampai harus mendorong punggung Tiara, wanita itu benar-benar penuh amarah, bahkan saat sudah ingin duduk pun, Tiara kembali mencecar kedua lelaki itu.
"Awas ya, kalau kalian sampai bicara seenaknya lagi, bukan hanya sebelah, kedua sepatu ku akan ku lempar bersamaan ke wajah mu." ancam Tiara dengan begitu kesal.
Jonathan sampai kewalahan meredam amarah Tiara, "Sudah, Tiara. Kenapa kau semarah itu, memang nya kau kenal siapa yang mereka bicarakan, kenapa kau sampai membelanya seperti itu."
__ADS_1
"Karena dia suami ku, bodoh." Ingin sekali Tiara mengucapkan itu, tapi dia tahan dan memilih menginjak kaki Jonathan, kalau saja lelaki itu tidak melerai dia, dia akan melepas satu sepatunya lagi dan akan dia lemparkan pada wajah murid laki-laki yang berani menghina suaminya.