
"Deal" Kata itu terdengar jelas bersama dengan jabatan tangan Arzan dan Arya, tabrakan yang tidak di sengaja ternyata membawa keuntungan yang tidak terduga untuk keduanya. Shasa sendiri bahkan hampir tidak percaya kalau Ayahnya sudah terlebih dulu mengenal sosok Arzan, padahal tadinya dia akan memperkenalkan mereka, tapi tanpa dia bergerak pun Ayahnya sudah lebih tahu apa yang harus dia lakukan.
"Sepertinya dia tidak se-lembek Jonathan, sedikit menarik, setidaknya untuk sementara ini aku harus menuruti kemauan nya, sampai Ayah mendapatkan jabatan tinggi di perusahaan Prawira dan posisi Ayah benar-benar aman. Biar si benalu itu tahu, kita tidak mudah jatuh terpuruk meski keluarga Wijaya menelantarkan kita." gumam Shasa tersenyum puas. Tunggu lah pembalasan nya dengan segala rencana yang sudah dia buat.
"Rezeki anak soleh memang, pagi-pagi sudah mendapatkan dua keuntungan sekaligus." gumam Arzan menyeringai, matanya bergantian memperhatikan Arya dan putrinya itu. Saat dia mendapatkan sinyal perlawanan dari Jonathan malah ada sosok orang yang akan membantunya, Arya yang merupakan mantan pekerja di perusahaan Wijaya malah dengan senang hati menawarkan diri untuk bekerja bersamanya. Bukankah itu rejeki nomplok, selain mendapatkan bantuan dia bisa mengetahui celah kelemahan perusahaan Wijaya dari mantan pekerja di sana. "Bahkan aku dapat mainan baru." gumamnya lagi, sambil terus memperhatikan Shasa. Gadis muda itu bahkan ikut bertransaksi dengan dirinya.
"Ayo, bukannya kamu harus ke rumah sakit!" ajak Arzan dengan tersenyum menatap kekasih pura-pura nya. Iya, itulah transaksi yang dia lakukan dengan gadis itu. Menjadikan nya pacar pura-pura sebagai persyaratan dia akan menerima Arya di perusahaan. Sebuah tarik ulur yang jitu, padahal dia yang begitu di untungkan dengan kehadiran Arya tapi seolah-olah tidak membutuhkan nya. Dia hanya ingin keuntungan yang lebih karena membutuhkan peran Shasa.
"Iya." Shasa beranjak berdiri, langsung menatap Arya untuk berpamitan. "Yah, aku pergi dulu."
"Iya, berhati-hati lah." Arya ikut tersenyum senang mendengar perhatian Arzan, jangankan jadi pacar pura-pura, jika Arzan benar-benar menginginkan Shasa jadi pendamping nya dia akan merestui nya. "Saya titip putri saya, Tuan Arzan." timpal nya lagi sambil melihat ke arah lelaki itu.
"Tidak perlu khawatir, saya akan menjaga nya dengan baik." timpal Arzan dengan tersenyum lebar.
Mereka berdua langsung pergi meninggalkan ruangan.
"Bagaimana aku harus memanggil mu?" tanya Shasa tiba-tiba. Iya, Arzan lebih tua darinya, tidak mungkin kan dia memanggil nya Arzan.
"Kak Arzan! Sepertinya itu lebih baik." jawabnya dengan begitu santai, seketika pikiran Arzan langsung mengingat wanita yang memanggilnya, Om. Kalau saja dia bisa mendapatkan wanita yang so jual mahal itu untuk dia jadikan pasangan pasti lebih menarik. Sayangnya, wanita itu selalu di jaga ketat oleh bodyguard nya.
"Kak Arzan! Tunggu lah di lobby, aku harus ke kamar dulu untuk mengambil tas." pinta Shasa tiba-tiba.
__ADS_1
Seketika Arzan tersenyum senang, panggilan 'Kak' memang lebih cocok dari pada kata Om yang keluar dari bibir wanita yang selalu di jaga Kenzo itu. Kalau saja kembali di pertemukan dengan gadis itu rasanya dia ingin membalas kekesalannya.
...*...
Waktu yang sama di sebuah villa, Kenzo dan Tiara sudah bersiap berangkat ke hotel untuk bergabung dengan yang lainnya.
"Siapa?" tanya Kenzo tiba-tiba, dari tadi dia terus duduk di sofa sambil memperhatikan Tiara yang sedang melakukan panggilan di ponsel nya. Sejak kapan wanita itu punya teman dekat sampai terbentuk senyuman di bibirnya saat bercengkrama dengan lawan bicaranya.
"Michel." jawab Tiara singkat.
Kenzo langsung mengerutkan keningnya, sejak kapan mereka akrab, bahkan sudah mempunyai nomor ponsel satu sama lain, "Apa ada kabar baik?" tanyanya penasaran, Tiara tidak akan berekspresi seperti itu kalau pembicaraan nya hanya bisa saja.
"Jangan mudah dekat dengan orang lain, kau harus lebih berhati-hati, Tiara." timpal Kenzo menasehati, dia tahu apa yang di rencanakan Tiara, wanita itu sedang berusaha keras untuk menduduki posisi Trisakti, dengan cara menguak kelicikan Shasa agar Shasa jatuh dengan sendirinya, tapi itu sangat beresiko, salah langkah saja wanita itu sendiri yang akan kena masalah.
"Aku akan berhati-hati, Ken." Tiara langsung mendekat menghampiri sang suami, ikut duduk di sofa berusaha meyakinkannya agar jangan terlalu khawatir. "Rencana ku sudah matang, sepertinya ini akan menguntungkan bagi kita dan mereka semua. Jika perlahan mendekati mereka dan membicarakannya dengan baik mereka pasti akan mengikuti kemauan kita." tutur nya menjelaskan.
"Menguntungkan?" Kenzo sampai penasaran seperti apa sebenarnya rencana Tiara.
"Iya, itu akan menguntungkan. Seperti teori simbiosis mutualisme, aku akan membantu mereka membersihkan namanya dari kasus yang menimpa mereka, nama baik mereka akan kembali terangkat oleh sekolah, dan itu pasti akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua mereka. Orang tua mereka kan keluarga kaya, pengusaha sukses yang cukup ternama, bukannya itu akan menguntungkan buat Daddy, kalau kita membuat kerja sama." tutur Tiara dengan seringainya. Iya, biodata murid-murid yang dia terima dari Kenzo memberi nya banyak informasi, mereka semua anak-anak orang ternama, pasti mereka punya keinginan untuk membersihkan nama mereka, hanya saja di sekolah mereka tidak punya kekuasaan untuk melawan Shasa, dan memilih diam. Jika rencana nya berjalan lancar, dia akan mendapatkan dua keuntungan, bantuan dari mereka untuk menjatuhkan Shasa, dan bantuan dari orang tua mereka untuk menjadi relasi di perusahaan Wijaya.
Kenzo sampai tersenyum simpul, rupanya pemikiran Tiara sampai ke arah sana. "Kau sudah faham dengan masalah perusahaan?" tanyanya memastikan, tanpa sebuah dasar Tiara tidak akan berpikir sampai sejauh itu. Apalagi sampai berpikir menambah relasi di perusahaan dengan memanfaatkan kelemahan mereka.
__ADS_1
"Sedikit, aku sedikit memahami nya saat membantu mu mengerjakan dokumen-dokumen yang waktu itu." jawab Tiara menceritakan. Iya, waktu itu dia berusaha memahami setiap laporan dan berkas yang dia kerjakan, dan ternyata dia sedikit memahami sebuah kinerja di perusahaan, jadi saat mendengar Arzan telah mengusik perusahaan Wijaya, membuatnya berpikir kalau rencananya itu sedikit efektif untuk melawan Arzan, kekuasaan sang Daddy akan semakin luas jika menambah relasi, dan kemungkinan besar Arzan tidak akan bisa dengan mudah melampaui kekuasaan sang Daddy yang sudah mengepakkan sayapnya lebar-lebar.
Kenzo sesaat terdiam, kepintaran Tiara memang tidak bisa di ragukan, tidak mengira wanita yang sudah menjadi istrinya itu masih sempat-sempatnya berpikir untuk membantu sang Daddy padahal niat awalnya hanya ingin menduduki posisi Trisakti. "Kau pikir akan semudah itu membujuk mereka," kilahnya memberikan peringatan, sebuah rencana memang terlihat mudah, tapi akan sangat susah untuk di praktekkan. Dia hanya ingin memperingati Tiara agar dia tidak lengah, meski sudah merencanakan semuanya.
"Makanya aku membutuhkan bantuan mu," timpal nya, Tiara sampai tersenyum lebar menatap sang suami, seolah memohon kalau semua rencana itu tidak bisa berjalan lancar tanpa campur tangan nya. "Image mu yang selalu di segani semua murid bisa membantu ku dengan mudah," timpalnya dengan penuh bangga. Iya, dia punya senjata ampuh, jika mereka berani melawan atau macam-macam, bahkan mungkin tidak mau menuruti kemauan nya, dia akan membawa nama Kenzo untuk menekan mereka.
Kenzo sampai gelang kepala, "Bukan hanya semakin pintar sekarang kau semakin bar-bar, bahkan kau mau memanfaatkan suami mu ini." decak nya dengan tersenyum kecil, bukannya kesal karena di manfaatkan, kelakuan Tiara yang seperti ini malah semakin menggemaskan di matanya.
"Entahlah, sepertinya semua itu tertular dari seseorang?" timpal Tiara dengan begitu enteng, dia sampai tersenyum kecil saat mengucapkan nya.
"Siapa?" Ekspresi Kenzo sampai berubah dingin. Santai sekali mengucapkan kata seseorang di hadapannya, apa ada orang lain yang dekat dengan wanita itu selain dirinya.
Tiara sampai menahan tawa melihat ekspresi Kenzo, "Suamiku." jawabnya dengan tersenyum kecil, tenang lah jangan marah, tidak ada orang yang dekat dengannya selain suaminya sendiri.
"Tiara!"
"Hei, aku bicara sesuai fakta, k-kau mau apa?" Tiara sampai gelagapan, terus memundurkan tubuhnya karena Kenzo semakin mendekat, dia bahkan tidak bisa bergerak lagi karena tubuhnya sudah berada di ujung sofa, sepertinya kesalahan besar telah mengusik nya.
"Aku suami mu, kan? berarti aku punya hak untuk menyentuh mu." bisik nya dengan tersenyum kecil, dia harus memberi pelajaran pada istrinya itu agar jangan berani-berani mengusik nya.
"Ken, kita--" tidak bisa lagi berkata-kata, bibir Kenzo sudah menempel sempurna, mencium nya dengan lembut dan penuh gairah.
__ADS_1