
Tiara duduk di meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya sudah terlihat cantik sempurna, kini tinggal rambutnya yang sedang di tata oleh stylish yang Ze perintahkan. Tiara kembali menunduk, menatap foto lama yang sedari tadi di pegang nya, foto pernikahan kedua orang tuanya jaman dulu yang sudah usang termakan waktu. "Ayah, Ibu, lihat! Tiara cantik kan," lirih nya dengan suara bergetar, matanya sampai berkaca-kaca, hanya foto itu yang dia punya karena orang tuanya terlalu cepat meninggalkan nya. "Yah, putri Ayah akan menikah, Tiara harap Ayah dan Ibu bisa merestui pernikahan kami." gumamnya dengan hati yang semakin pilu, tidak sampai sepuluh tahun kebersamaan mereka, membuat rasa rindu terus membekas di dalam hatinya. "Maaf, jika Tiara tidak pernah hadir di antara kalian, Ayah dan Ibu pasti akan baik-baik saja." Tiara sampai memejamkan mata, air matanya benar-benar jatuh, hatinya tidak tahan jika kembali mengingat masa lalu. Walau ia sudah berusaha keras menutup telinga, cacian orang-orang terus membekas di pikirannya.
"Nak, kenapa menangis?" Stylish yang mendandani Tiara kaget, dengan cepat mengambil sebuah tisu menyeka air mata Tiara yang mulai membasahi pipinya.
"Akh, maaf. Tante sudah bersusah payah mendandani ku tapi aku malah merusaknya."
Tante itu langsung tertegun, dia bisa melihat jelas sebuah foto yang Tiara pegang, "Tidak apa-apa, Nak. Terkadang dengan menangis bisa membuat kita sedikit tenang," tuturnya berusaha menghibur Tiara. Dalam sebuah pernikahan sosok orang tua memang sangatlah penting, dan dia tahu kalau gadis ini pasti merindukan orang tua nya.
"Apa itu Ibu dan Ayah, kamu?" tanyanya sambil kembali menata rambut Tiara, biarlah gadis itu menangis sepuasnya, barulah dia akan kembali mendandani nya.
Tiara mengangguk, tidak mampu bicara karena menahan keras air matanya.
"Kamu sama cantiknya dengan Ibu mu. Kalian mirip sekali." ucapnya lagi, dia akan terus menghibur Tiara sampai keadaan gadis itu sedikit lebih tenang.
"Iya. Nenek juga selalu bilang kalau aku mirip sekali dengan ibu." timpal Tiara sambil mengelus foto kedua orang tuanya. Perkataan Tante itu membuatnya sedikit terhibur, sebelumnya tidak ada yang berkata demikian selain neneknya.
"Tidak perlu bersedih. Kedua orang tua mu pasti bahagia melihat kamu sudah tumbuh besar bahkan sekarang mau menikah. Mereka pasti akan bahagia jika kamu bahagia." tutur nya lagi sambil mengelus kepala Tiara. Dia serasa merasakan kesedihan gadis itu.
"Tan! Apa benar jika kita tidak mendapatkan restu dari keluarga pernikahan kita tidak akan baik-baik saja?" tanya Tiara tiba-tiba, dia kembali menunduk itulah pertanyaan yang selalu mengganjal di hatinya, dia ingin mendengar pendapat orang lain, tidak mampu bertanya pada sang nenek karena hal itu menyangkut kedua orang tuanya.
__ADS_1
Tante itu sampai tertegun, dia tidak mengira gadis muda itu akan bertanya hal demikian. "Nak." ingin bicara tapi ketukan pintu tiba-tiba terdengar jelas dari luar.
"Nak kamu sudah siap belum? mommy masuk ya!" Suara Ze terdengar, bersamaan dengan terbukanya pintu kamar Tiara, gadis itu dengan cepat menyeka setiap air matanya, tidak ingin membuat Ze menjadi khawatir jika melihatnya menangis.
"Mom!"
"Sebentar lagi, Bu." Tante itu dengan cepat menjawab, kembali merapihkan makeup Tiara, dan tersenyum manis pada gadis itu, "Restu dari keluarga memang penting, Nak. Tapi kita harus melihat keluarga yang seperti apa? Baik dan tidaknya sebuah pernikahan bukan karena orang lain, melainkan karena mereka sendiri yang menjalankan nya." bisik nya pelan, dia tidak tahu persis apa yang gadis itu rasakan tapi tidak tega melihat kesedihannya, dengan perlahan mengelus kedua pipi Tiara dan mengecup keningnya. "Berbahagialah! Anggap ini restu seorang Ibu, yang menginginkan putrinya hidup bahagia dengan pasangannya."
Tiara sampai tersentak, matanya terpejam, hatinya terasa tersayat mengingat kalau keluarganya sendiri tidak pernah menyayangi nya, tapi setidaknya dia harus tersenyum karena masih ada orang yang menyanyi dan peduli padanya. "Terima kasih, Bu."
"Ayo sayang! Semuanya sudah menunggu di bawah. Keluarga paman mu juga sudah datang." ajak Ze, dia langsung menggandeng Tiara dan memapahnya untuk turun ke bawah.
"Yah!" Shasa masih memohon, berharap Arya berubah pikiran dan tidak melanjutkan pernikahan ini.
Arya menghela nafas, baru mau bicara tapi Tiara sudah terlihat turun berjalan ke arah mereka. Bahkan kini sudah duduk di depannya bersanding di samping Kenzo yang akan menjadi suaminya. "Haruskah aku menikahkan mereka?" gumamnya dalam hati penuh kegundahan. Kemarin dia bisa terima jika mereka memang mau menikah, tapi perasaannya sekarang berbeda, ada kecemburuan mendalam saat pemandangan di depan mata tidak sesuai keinginannya. Apalagi itu menyakiti putrinya sendiri. Ayah mana yang mau melihat putrinya tersakiti karena saudaranya sendiri. "Kau memang tidak jauh berbeda dengan ibu mu, Tiara." gumamnya kesal. Dia menjadi mengingat kembali kejadian masa lalu yang membuat hubungan dia dengan sang Kakak menjadi meregang karena Kakaknya lebih memilih dan peduli pada wanita yang merupakan Ibu Tiara.
"Pak, bukannya mereka terlalu muda untuk menikah, bagaimana jika kita batalkan saja pernikahan ini." ucap Arya dengan begitu tiba-tiba, dia mendadak mempunyai keberanian tinggi untuk membangkang keinginan Kenan.
Semua orang terkejut, tidak terkecuali Widia dan Shasa, mereka langsung tersenyum senang dengan keputusan Arya.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba, apa anda sengaja ingin mempermalukan saya!" Kenan geram, tidak percaya Arya akan seberani itu padanya. Penghulu para saksi semua sudah ada, kenapa dengan tiba-tiba ingin membatalkan acaranya.
"Bukan seperti itu Pak, justru kita yang akan malu jika terus melanjutkan pernikahan ini." Kini Widia yang menimpali, ini adalah kesempatan bagus untuk nya bicara, walau keluarga Kenan selalu membela Tiara, tapi dia bisa membuat Tiara mundur sendiri dari pernikahannya, "Pernikahan bukan sekedar sebuah komitmen, tapi pernikahan menyatukan hubungan dua keluarga untuk menjadi lebih dekat. Tiara masuk di keluarga bapak dan ibu tanpa beban, tidak peduli itu membuat hubungan keluarga kita jadi meregang. Saya sebagai keluarganya menjadi malu, maaf karena gadis ini malah menyusahkan keluarga Ibu, dan Bapak." Widia sampai bicara dengan suara melemas. Seolah tingkah Tiara sebuah kesalahan dan itu mempermalukan nama keluarga.
"Ya Tuhan, serumit ini kah kehidupan ku." Hati Tiara mulai gelisah, dia sudah mengira hal ini pasti terjadi, keluarga pamannya tidak pernah setuju dengan pernikahan ini, mereka pasti melakukan segala cara untuk mempersulit nya.
"Kami tidak merasa di susahkan, justru dengan pernikahan ini akan mempererat hubungan keluarga kita." ucap Kenan menyangkal perkataan Widia.
"Tingkah Tiara telah menyakiti putri saya jadi kami tidak pernah merestui pernikahan ini,"
"Kami tidak butuh restu dari kalian, tanpa Pak Arya menjadi wali nya pun Tiara bisa saya nikahkan dengan putra saya." timpal Kenan dengan tegas.
"Pak pernikahan yang tidak mendapatkan restu dari keluarga bisa menjadi petaka, tanya sendiri pada wanita yang akan menjadi menantu bapak, anak itu hadir dari sebuah pernikahan yang tidak pernah di inginkan, dan pada akhirnya dia menjadi pembawa sial untuk keluarga, bahkan orang tua nya meninggal dunia di usia muda karena kesialan yang di bawanya. Saya hanya kasihan kalau kedepannya dia akan menjadi beban untuk keluarga bapak." Widia makin berani, bicaranya makin tidak kontrol, ini adalah puncak kekesalan nya pada Tiara, dia ingin wanita itu sadar diri dan mundur sendiri dari pernikahan ini. Jika Shasa tidak bisa menjadi bagian dari keluarga Wijaya, maka Tiara pun tidak akan pernah bisa.
Kenzo, Kenan dan Ze sampai terkejut, mereka memang tidak pernah tahu seperti apa masa lalu Tiara, dan bagaimana cerita tentang keluarganya.
"Ibu..." Tiara seketika langsung menekuk kan kepalanya, tangannya bergetar, dadanya menjadi sesak, kenapa bibirnya harus membahas itu, dia sudah berusaha keras menutup kupingnya dari cacian orang-orang, kenapa malah bibirnya sendiri yang membangkitkan rasa sakitnya.
"Kenapa diam, Tiara. Apa kau akan mengikuti jejak Ibu mu. Menjadi wanita penghancur hubungan keluarga orang dan pada akhirnya pernikahan mereka menjadi petaka, wanita itu masih membiarkan kau tumbuh di rahimnya pada jelas keluarga kita dan Nenek tidak pernah menginginkan pernikahan itu, membuat Ayah mu terpaksa mempertahankan nya. Kau masih tidak sadar kalau Ayah mu meninggal di usia muda karena siapa, itu karena ibu mu yang tidak pernah sadar diri terus hadiri di keluarga kami."
__ADS_1
"STOP." Tiara berteriak sekencang-kencangnya, hatinya sudah teramat sakit, bisakah hentikan semua ini. Dia langsung melepas cincin pertunangan dari jari manisnya, lekas berdiri menghampiri Widia, dan menyimpan itu di telapak tangannya. "Bibi boleh menghinaku, tapi jangan pernah menghina Ibu! ini kan yang bibi inginkan?"