Terpaksa Menerima Perjodohan

Terpaksa Menerima Perjodohan
Aku memukulnya.


__ADS_3

Shasa dan Michel hanya bisa berdiri mematung, ada apa sebenarnya, kenapa Kenzo dan Jonathan terlihat kutar ketir seperti itu, keduanya pergi begitu saja tanpa bicara.


"Heh, puas lo?" Shasa langsung menatap Michel, berdecak penuh kekesalan, menatap wanita itu dengan tajam. Dia tidak mengira kalau pada akhirnya malah wanita itu yang ikut perlombaan, "Jangan mengecewakan sekolah lo, dan jangan pernah menganggap kalau kau sudah memang. Kau tidak bisa mengalahkan gue," decak nya lagi sambil menekan pundak Michel dengan telunjuknya. Kali ini Michel bisa maju selangkah, tapi lihat saja saat tangan nya sudah sembuh dia akan membalas kekalahannya.


"Aku bisa dengan mudah mengalahkan mu jika kau tidak bermain curang, Sha." timpal Michel dengan tegas. Tiara benar jika dia tidak melakukan perlawanan, Shasa akan semakin menginjak nya.


"Wah, sekarang kau berani ya?" Shasa sampai sewot, tidak mengira wanita polos itu melawan perkataannya. "Kau salah besar jika berani melawan ku, Michel." lanjutnya lagi dengan menyeringai. Coba saja jika mau melawannya, tapi wanita itu sendiri sendiri yang akan kalah.


"Aku tidak salah, tapi kau yang terlalu pecundang sampai tidak berani bersaing secara sehat." timpal nya lagi dengan penuh penegasan. Tangan Michel sebenarnya sudah bergetar ketakutan, tapi dia harus memberanikan diri dan membuang rasa takutnya, dia ingat ada Tiara yang akan membela nya.


Shasa sampai mengepalkan tangannya geram, apa ini Michel yang dia kenal, kenapa wanita ini berani sekali, bahkan sampai menghinanya, ingin sekali menjambak rambut wanita itu tapi dia urungkan karena guru pengawas perlombaan sudah terlihat menghampiri mereka.


"Mana yang lainnya, kenapa belum terlihat?" tanya pak guru, heran kenapa Jonathan, Kenzo dan juga Tiara tidak ada di sana.


"Kenzo dan Jonathan sedang mencari Tiara, Pak. Sebentar lagi juga ke sini." jawab Michel dengan cepat, sebenarnya dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi saat melihat keadaan, sepertinya dua lelaki itu memang sedang mencari Tiara.


Shasa sendiri baru sadar, memang ada sedikit kejanggalan saat dua lelaki itu pergi begitu saja, dia langsung melangkah pergi menuju ke arah dua lelaki itu pergi.


Sementara itu, Tiara sudah harap-harap cemas berada di dalam gudang, bersembunyi di balik bongkahan barang, berjongkok sambil membungkam mulutnya berusaha untuk tidak bersuara, dia tidak mau Arzan sampai menemukan nya. "Akh, dasar bodoh, kenapa malah berlari ke tempat yang buntu, si." umpat nya dalam hati, mengutuk dirinya sendiri, karena kecerobohan nya. Matanya langsung celingukan mencari sesuatu yang bisa ia jadikan senjata, jika Arzan menemukannya dan macam-macam dia bisa menghajarnya dan kembali berlari ke luar dari sana.


"Hei, aku tahu kau di sini, ayolah jangan merepotkan ku," Arzan celingukan sana sini mencari wanita itu, memang tidak ada tanda-tanda pergerakan, tapi dia yakin wanita itu ada di dalam sana. "Aku bahkan belum tahu siapa nama mu, jika kau mau bicara dengan baik-baik, aku tidak akan macam-macam, cantik." pintanya lagi sambil terus berjalan mengelilingi gudang.

__ADS_1


Brrakk...Suara benda jatuh tiba-tiba terdengar, sontak Arzan langsung menoleh ke sumber suara. Tersenyum senang, akhirnya dia menemukan wanita itu ada di mana. "Haha.. Aku menemukan mu." Arzan sampai tertawa puas.


Tiara berdiri, karena suara yang Ia ciptakan dia sudah tidak bisa menghindari lagi, lelaki itu sudah menemukan nya. "Baiklah, ayo bicara baik-baik," serunya sambil perlahan mendekati lelaki itu, dia berusaha terlihat tenang, dia akan berdamai dan mencari celah untuk kabur dari sana, tangannya satu nya menggenggam sesuatu yang ia sembunyikan di belakang punggungnya.


"Akhirnya kau menyerah." timpal Arzan dengan menyeringai, dia tidak mengira kalau wanita itu sendiri yang berinisiatif menghampiri nya. "Kenapa tidak dari tadi, aku pasti tidak akan repot-repot mengejar mu." ucapnya lagi. Tangannya kembali bergerak ingin menyentuh Tiara, tapi terhenti karena Tiara tiba-tiba bicara.


"Ada orang di belakang mu." ucap Tiara dengan cepat, lelaki itu langsung menoleh ke belakang dan ini adalah kesempatan baik untuk nya. "Maaf." Bug. Dengan cepat dan sekuat tenaga dia memukul punggung lelaki itu dengan sebuah balok kayu penyangga barang-barang yang tadi ia tarik.


Arzan sampai kaget dan meringis kesakitan, kembali menghadap Tiara, tapi belum juga menoleh sepenuhnya, wanita itu kembali memukul pundaknya. "Argh, sial." decak nya geram. Dia sampai berbungkuk kesakitan. Bisa-bisanya dia kecolongan.


"Maaf, makanya jangan macam-macam,"


"Berhenti, kau!" Arzan sampai berteriak kesal, sambil menahan rasa sakit dia perlahan melangkah menyusul Tiara.


Tiara berlari sambil menoleh ke belakang, semakin gugup karena lelaki itu terlihat sangat marah, sudah mulai keluar dari pintu gudang dan tiba-tiba tubuhnya dengan keras menabrak seseorang.


Brug... "Aww." Kepala Tiara terbentur keras, langsung menoleh, seketika langsung memeluk tubuh itu saat tahu kalau itu adalah suaminya. "Ken." lirihnya dengan bibir bergetar, lututnya sampai terasa lemas, untung saja suaminya itu menghampirinya. Dia langsung memeluknya erat mencari perlindungan, kehadiran Kenzo benar-benar membuat nya sedikit lega.


"Tiara!" Kenzo langsung membalas pelukan sang istri, menghela nafas lega, akhirnya dia menemukan nya, mendekapnya dengan erat sambil sesekali mengecup puncak kepala nya, dia begitu mengkhawatirkan keadaan Tiara, apalagi saat melihat wanita itu berlari ketakutan dia sampai hampir gila karena telah lengah menjaganya. "Kau tidak apa-apa, kan? Apa yang terjadi? Kau dari mana? Apa kau terluka?" tanyanya dengan begitu bertubi-tubi, apa yang terjadi sampai berlari ketakutan keluar dari sana.


Belum juga Tiara menjawab, sosok Arzan terlihat sama-sama keluar dari sana, amarah langsung meluap-luap, ingin menghampiri lelaki itu tapi terkejut saat sadar lelaki itu merintih kesakitan dan terus memegang pundaknya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, dia tidak berbuat yang macam-macam kan?" tanya Kenzo sambil mengelus kedua pipi Tiara, melihat keadaan wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kakinya, awas saja kalau Arzan sampai menyentuh istrinya, dia benar-benar akan menghabisi lelaki itu.


"Aku tidak apa-apa, Ken."


"Heh, dasar wanita kurang ajar. Berani sekali kau memukul ku hah!" decak Arzan dengan penuh ocehan, punggung dan pundaknya terasa remuk akibat pukulan wanita itu. Ingin memberi perhitungan tapi langsung terhenti saat sadar wanita itu sudah bersama bodyguard nya, di tambah lagi tatapan tajam Kenzo yang menatap dirinya bak sebuah hunus-an pedang, dia seketika langsung diam.


"Kau apakan dia?" Kenzo terkejut, kembali menatap sang istri, yang tadinya ingin marah dan membabi buta seketika langsung ingin tertawa, raut wajah lelaki itu terlihat begitu menderita. "Kau menghajarnya?" tanyanya lagi memastikan.


"Dia mau macam-macam dan terus menakuti ku, makanya aku memukulnya dengan balok kayu." jawab Tiara dengan begitu polos, dari raut wajahnya terlihat kecemasan dan rasa bersalah. "Maaf kalau aku membuat masalah." keluhannya sambil merangkul lengan Kenzo, sedikit khawatir takut apa yang dia lakukan akan menyusahkan suaminya.


Kenzo sampai tercengang, menatap Arzan dengan penuh ledekan, "Mampus kau," gumamnya sambil tertawa jahil, rupanya Tiara lebih bar-bar dari dugaannya, seorang Arzan saja sampai babak belur di tangan wanita itu. "Tidak perlu minta maaf, itulah yang harus kau lakukan pada lelaki kurang ajar yang tidak tahu sopan santun." jawabnya dengan penuh bangga, bicara pada Tiara, tapi matanya menatap sinis ke arah Arzan.


Arzan seketika mengepalkan tangannya geram, kalau saja punggung dan pundaknya tidak terasa nyut-nyutan dia tidak akan membiarkan mereka.


"Ken?" Jonathan menghampiri mereka, karena tidak menemukan Tiara dia memilih kembali, dugaannya benar, Kenzo memang sudah menemukan Tiara. "Tidak terjadi sesuatu, kan?" tanyanya penasaran, apalagi saat melihat tangan Tiara yang terus-menerus menggandeng tangan sahabat nya, sepertinya Arzan memang telah mengganggunya.


"Tidak apa-apa, Nat." jawabnya singkat, tidak ingin bicara panjang lebar, Kenzo sudah terlalu muak terus melihat keberadaan Arzan, langsung mengajak Tiara dan temannya itu untuk lekas pergi dari sana. Tidak ada gunanya terus melayani lelaki kurang ajar itu, mereka harus segera pergi karena waktu sudah semakin siang, dan mereka harus mengikuti perlombaan.


Walau sedikit bingung dan penasaran, Jonathan mengikuti ajakan Kenzo, sesekali menengok ke belakang melihat keadaan Arzan, entah apa yang terjadi, nanti dia akan bertanya pada kakak angkatnya itu.


Di sudut lain, rupanya bukan hanya ada mereka, Shasa dari tadi memperhatikan dan mendengarkan semuanya. "Arzan-Arzan, rupanya kau sama lembeknya dengan Jonathan." decak nya kesal. Tapi setidaknya dia bisa mengambil keuntungan, melihat Arzan yang berani mengusik Tiara, dia bisa memanfaatkan itu, menyuruh Arzan untuk terus mengganggu Tiara agar gadis itu tidak akan pernah mendapatkan ketenangan dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2