
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, Kenzo baru tersadar dari tidurnya, matanya langsung celingukan mencari Tiara karena gadis itu sudah tidak ada di sampingnya. "Dia kemana?" Kenzo perlahan bangun, langsung melihat jam, baru sadar kalau ternyata ini sudah siang. "Argh, pantesan." Sudah tahu Tiara pasti sedang sarapan. Dia pun mulai berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, berjalan dengan lemas karena kepalanya terasa berat, "Malam yang paling buruk," decak nya kesal, kejadian semalam sungguh menyesakkan dada, dia sampai tidak bisa tidur nyenyak, karena harus menahan keras hasrat nya.
Beberapa menit berlalu, Tiara terlihat memasuki kamar sambil membawa nampan berisi sarapan untuk Kenzo, dia sudah tahu kebiasaan sang suami yang tidak mau sarapan atau makan di meja makan, tanpa permisi dia langsung masuk tanpa tahu apa yang di lakukan suaminya di dalam, "Akh, maaf!" Tiara sampai kaget, nampan yang ia bawa sampai oleng, saat masuk kamar dia mendapati Kenzo sedang telanjang dada dengan sebuah handuk yang melilit di pinggang nya. Rupanya Kenzo baru keluar kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya.
"Ini sarapan mu, aku simpan di sini." ucapnya sambil melangkah pergi, tubuh Kenzo yang terlihat seksi terlihat begitu menggoda sampai dia tidak mampu untuk terus melihatnya.
"Mau kemana?"
Baru juga mau keluar kamar, suara itu terdengar jelas, membuat langkahnya terhenti, "Keluar." jawab Tiara dengan tersenyum kikuk. "Kau mau pakai baju kan, lanjutkan saja, aku keluar dulu." titahnya dengan malu, air liur nya bisa-bisa menetes, jika terus melihat penampakan roti sobek suaminya.
"Kenapa harus keluar?" cegah Kenzo dengan tersenyum kecil, mereka kan suami istri, kenapa harus malu-malu seperti itu. "Tolong ambilkan baju ku?" titah nya malah dengan sengaja mengerjai Tiara.
"B-baju?" Tiara sampai terbata-bata, sudah tahu dia begitu canggung kenapa malah di suruh mengambilkan baju, mau menolak pun tidak bisa.
"Iya, aku kesiangan seperti ini juga karena siapa? cepat ambilkan baju." titahnya dengan begitu datar, suaranya terdengar begitu dingin tapi dalam hati sudah bersiul-siul riang karena pagi-pagi sudah bisa mengerjai Tiara.
"Akh." Tiara tidak bisa menolak, menjauh dari pintu menuju koper Kenzo dan perlahan membukanya, lelaki itu sendiri langsung duduk di sofa mulai menyantap sarapan nya, sambil tersenyum jahil melihat Taira yang sedang memilih pakaiannya.
"Nih!" Tiara mendekat, bagi sedang cuci mata, kenapa lelaki itu terlihat begitu santai, duduk tanpa dosa menghabiskan sarapan masih dengan keadaan telanjang dada, bahkan lebih parah bawahan nya hanya mengenakan handuk saja. "Cepat pakai baju sana, ini sudah siang, nanti kita telat ke lokasi lomba." titah nya berusaha mengalihkan kecanggungan.
Kenzo pun langsung berdiri, bukannya langsung mengambil pakaiannya dia malah langsung nyosor mengecup bibir Tiara tanpa aba-aba, bukan hanya bibir bahkan kedua pipi dan hidung wanita itu sudah terjamah bibir Kenzo dengan seenaknya.
"Kenzo!" Tiara protes, bukan karena apa-apa, debaran jantungnya sampai berdegup kencang, Kenzo bertelanjang dada di depannya, bagaimana dia bisa tenang.
Kenzo sendiri malah tersenyum senang, langsung mengambil pakaiannya dan berakhir mengacak rambut Tiara karena gemas melihat ekspresi wanita itu. "Terima kasih!" ucapnya sambil berlaju pergi. Tiara sampai berdiri mematung, sungguh sangat mengejutkan perubahan Kenzo sekarang. "Tenang lah, Dia suami mu, pemandangan seperti itu harusnya menjadi hal biasa." umpat nya sambil mengelus-elus dadanya. Ingin menoleh tapi suaminya kembali bicara.
"Kita langsung menuju tempat perlombaan saja, tidak perlu ke hotel dulu." tutur Kenzo memberi tahu, berjaga-jaga saja, dia tidak mau Tiara kembali terkena masalah karena Arzan pasti masih ada di sana. "Kalau mau melihat, lihat saja, jangan curi-curi pandang seperti itu." lanjutnya dengan tertawa. Dia tahu kalau Tiara sedang memperhatikannya.
...***...
__ADS_1
Perlombaan sudah di mulai sejak tadi, sudah beberapa kali babak penyisihan dan kini tinggal babak penentuan, grand final yang akan menunjukkan pasangan putra dan putri dari sekolah mana yang akan menjadi pemenang.
Semua peserta terlihat istirahat sejenak menunggu grand final di mulai, Kenzo dan Jonathan terlihat duduk bersama, berpisah dari Tiara dan Michel yang duduk di bagian tempat yang berbeda.
Kenzo seperti biasa duduk memainkan ponselnya, dia tidak terbiasa dalam kebisingan dan memilih fokus dengan permainan di ponselnya.
"Ken, sepertinya kali ini kau yang akan jadi pemenangnya," ucap Jonathan dengan penuh bangga, dia jadi malu karena dia dan Michel sendiri sudah tumbang di babak semifinal.
"Kali ini gue tidak bisa mengalah karena ada dia, sorry." timpal Kenzo dengan datar, masih dengan menundukkan kepala fokus pada ponselnya. Iya sebenarnya dia juga tidak akan sampai seserius itu mengikuti lomba kalau bukan karena Tiara.
Jonathan seketika tertawa, rupanya ada saat di mana lelaki dingin itu memprioritaskan sesuatu bukan untuk dirinya, padahal biasanya lelaki itu hidup acuh tanpa keinginan. "Si brandal sekolah sekarang sudah jinak ya." timpal Jonathan masih dengan tawa, dia langsung menepuk pundak Kenzo merasa salut dengan perubahannya.
"Apa terlihat jelas?" timpal Kenzo malah bertanya, dia ingin tahu pendapat sahabat nya itu mengenai dirinya.
"Make nanya, seisi sekolah juga tahu kali, bahkan mereka masih tidak percaya kalau Tiara si murid baru bisa berpacaran dengan seorang Kenzo. Bagai keajaiban dunia yang kedelapan."
"Ken, aku yakin kau pasti menang. Apa kau akan menghadiri pesta sekolah nanti?" tanya Jonathan penasaran, kalau Kenzo dan Tiara menang, maka pesta perayaan pun akan di gelar dan otomatis mereka berdua tokoh utama di pesta itu. "Kau sebelumnya tidak pernah tertarik dengan acara-acara seperti itu." timpal nya lagi penasaran dengan jawaban Kenzo sekarang. Jika dulu selalu acuh tak acuh bertingkah sesuka hati, kini berbeda cerita karena ada Tiara.
"Entahlah, tergantung nanti." Kenzo tidak ingin membahas nya sekarang karena itu belum pasti, dan jikapun mereka menang, dia harus mendengar dulu pendapat Tiara mengenai pesta itu baru bisa memutuskan nya.
...*...
Sorak dan tepukan tangan mulai bergemuruh, siulan kebanggaan terdengar jelas dari para penonton lomba, tropi juara kini sudah di berikan pada pasangan primadona lomba kali ini yaitu Kenzo dan Tiara, perwakilan SMA Trisakti yang sedari dulu memang telah menorehkan sejarah. Sang guru penanggung jawab lomba pun sampai tidak henti hentinya memberi tepukan tangan, ancaman Kenzo yang waktu itu langsung terlupakan oleh prestasi yang diraih nya sekarang. "Pantesan memilih Tiara, rupanya dia sudah tahu kalau murid baru itu adalah pasangan terbaik untuk nya." gumam guru itu menatap Tiara dan Kenzo dengan penuh bangga.
Shasa yang dari tadi duduk di samping guru itu sampai jengah mendengarnya, dia langsung beranjak pergi, muak sendiri jika terus melihat senyuman Tiara. "Dasar menjengkelkan, lihat saja nanti Tiara." geramnya kesal. Dia langsung menuju tempat sepi dan bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi Jessica.
"Jess, sekolah kita menang, segera siapkan acara nya!" titahnya to the poin saat Jessica sudah mengangkat panggilan nya.
"Apa si cupu itu yang menang?" tebak Jessica, mendengar suara Shasa yang begitu kesal, sudah pasti saingannya lah yang memenangkan perlombaan.
__ADS_1
"Iya, buat acara seperti biasa. Lakukan rencana yang sudah ku beritahu sejak awal, dan pastikan kali ini benar-benar rapih." titah Shasa dengan menyeringai.
"Sip, Alicia juga sudah ku beritahu," timpal Jessica dengan penuh kesiapan. Rasanya sudah bosan terus diam tanpa membuat keributan, sudah lama tidak menyaksikan perdebatan orang-orang yang akan saling menyalakan karena keusilan nya.
"Pastikan Mario yang akan menjadi kambing hitam nya, aku sudah muak melihat lelaki itu terus sekolah di SMA Trisakti," seru Shasa dengan begitu kesal, dia akan membuktikan bahwa ancaman nya bukan hanya sekedar gertakan, tapi itu akan menjadi kenyataan.
"Oke, Sha. Kapan kau akan mengirimkan barang nya?" tanya Jessica memastikan, jika hasilnya ingin rapih, dia harus menyiapkan nya matang-matang.
"Mungkin malam nanti, nanti ku hubungi lagi."
"Oke, gue tutup dulu, Sah. Kita masih ada jam pelajaran."
Percakapan mereka berakhir, Shasa kembali ke tempat duduknya dengan tersenyum puas, waktu yang pas, Tiara yang sudah turun dari podium kini sudah ada di depan matanya. "Hasil yang sangat memuaskan," ucapnya sambil menatap Tiara. Tangannya langsung bergerak dan ia ulurkan di hadapan gadis itu, "Selamat." ucapnya dengan tersenyum manis.
Tiara sudah curiga ada yang aneh, bukan Shasa kalau wanita itu tiba-tiba baik pada nya. "Terima kasih." timpal Tiara langsung menerima uluran tangan Shasa. Dia tahu wanita itu sedang bersandiwara, dia hanya perlu melayaninya dengan waspada.
"Sampai bertemu lagi di pesta perayaan sekolah, dan bersenang-senang lah di pesta nanti, karena kau pantas menerima." ucap Shasa dengan begitu santai, bibirnya memang tersenyum, tapi perkataanya terdengar penuh penegasan. Dia langsung melangkah pergi meninggalkan Tiara yang sudah berdiri mematung dengan penuh tanya.
"Pesta?" Tiara sampai mengerutkan keningnya, mengulang perkataan Shasa seolah kata itu terdengar begitu janggal.
"Apa dia menyakitimu?" Suara Kenzo tiba-tiba terdengar, dia langsung menghampiri Tiara saat melihat Shasa berbicara dengan istrinya itu. "Bicara apa dia?"
"Tidak, dia hanya mengucapkan selamat dan katanya sampai bertemu di pesta. Aku tidak tahu apa maksudnya." timpal Tiara dengan bertanya. Kebetulan Kenzo menghampiri nya jadi dia bisa menghilangkan ke penasaran nya. "Pesta apa, Ken? Kau tahu?"
"Setiap kali ada perlombaan, jika sekolah kita menang, anggota osis selalu mengadakan acara, ya, bisa di sebut sebuah pesta perayaan, mungkin." timpal Kenzo menjelaskan. Melihat ekspresi Tiara sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di pikiran nya. "Kenapa?"
"Entahlah mungkin hanya perasaan ku saja."
"Jangan terus memikirkan hal yang tidak pasti jika itu akan menjadi beban. Ayo pulang! Aku sudah sangat lelah." ajak Kenzo langsung meraih tangan Tiara, genggaman tangannya malah membuat wanita itu langsung lupa akan kekhawatirannya.
__ADS_1