
Keadaan di rumah Arya yang penuh amarah membuat Kenzo enggan berlama-lama di sana, dia langsung mengajak Tiara untuk kembali pulang ke rumah. Persetan meminta izin untuk menikah, bagi Kenzo tidak ada alasan untuk mereka terus berada di sana.
Kenzo dan Tiara kini duduk di mini bar di dapur rumah, duduk saling berhadapan untuk mengobati pipi Kenzo yang makin memerah bekas tamparan Arya. "Apa sakit?" tanya Tiara dengan penuh kekhawatiran, tangannya langsung bergerak menempel kan kompres-an es batu di pipi Kenzo untuk meringankan rasa sakitnya.
"Aku tidak selemah itu," timpal Kenzo dengan begitu datar, dia langsung meraih tangan Tiara dan menuntun pergerakan tangan wanita itu untuk menelusuri bagian pipinya yang terkena tampar. "Apa dia mengkhawatirkan ku." gumam Kenzo dalam hati, dia terus memperhatikan wajah Tiara, mengingat kembali tingkah wanita itu yang berani membentak Arya karena membela nya.
"Tiara!" panggil Kenzo, dia ingin wanita itu menatap wajahnya, "Lain kali jangan mempedulikan ku jika itu malah membahayakan dirimu sendiri, kalau aku tidak bergerak cepat kau juga akan terkena tamparan nya." omel nya, matanya terus menatap wajah Tiara, gadis itu pasti terpukul dengan kejadian tadi, dia sendiri tidak habis pikir, Arya sampai bernai menampar nya bahkan mau melukai Tiara juga. Dia yang terbiasa hidup di penuhi dengan kasih sayang dan kehangatan dari orang tua merasa kasian melihat dan merasakan hidup pilu yang Tiara rasakan. Gadis ini benar benar malang. "Apa dia baik-baik saja?" gumamnya.
"Bagaimana aku bisa membiarkan nya, paman menampar mu, kau pikir aku bisa diam begitu saja." tutur Tiara dengan begitu lirih, dia merasa bersalah karena Kenzo sampai seperti itu juga karena membela nya. Terkadang ia ingin protes dengan takdir hidupnya sendiri, jika harus hidup penuh derita, cukuplah hanya dirinya, jangan sampai menarik orang yang ada di sampingnya.
Kenzo sampai tertegun, bahkan saat hati Tiara tersakiti wanita itu masih sempat-sempatnya memikirkan keadaan orang lain, wanita itu begitu polos atau memang terlalu baik, "Hanya begitu pada ku, jangan pada lelaki lain!" pinta nya dengan begitu serius. Besar hati ingin menghibur, tapi tidak tahu harus bagaimana. Rasanya tidak terima jika Tiara juga melakukan hal seperti ini selain pada dirinya. Seolah meminta wanita itu hanya mempedulikan dirinya saja dan jangan pernah membagi perhatian nya pada lelaki lain.
"Kenapa harus begitu?" timpal Tiara malah bertanya, perkataan Kenzo seperti sebuah pernyataan cemburu, apa lelaki itu menyukainya sampai melarang nya berbagi perhatiannya? membuatnya semakin berharap lebih, bodoh kalau dia terus mengelak tidak menyukai Kenzo dan menginginkan cinta dari lelaki itu. Kenzo terus mempedulikan dirinya, bagaimana dia tidak menyukainya.
"Karena aku pun tidak akan memberi perhatian ku pada wanita lain." jawab Kenzo dengan lugas, walau bicara dengan raut wajah tanpa ekspresi tapi perkataanya itu seolah-oleh dia telah mengistimewakan Tiara dalam hidupnya.
Tiara yang mendengarnya langsung tersipu malu, debaran jantungnya makin tak menentu membuatnya salah tingkah, dia sampai menurunkan kompres es batu itu dan menghentikan kegiatannya. "Akh, ini gerah sekali. Apa kau harus? mau ku ambilkan minum?" tanya nya berusaha mengalihkan pembicaraan, situasinya mendadak jadi canggung. Dia sampai mengikat rambutnya tinggi-tinggi, dia butuh menetralisir perasaan nya agar tidak semakin salah tingkah. Lekas berdiri untuk mengambil air minum dan meninggalkan Kenzo seorang diri.
"Dasar bodoh!" umpat Kenzo sampai tersenyum simpul, rupanya sebuah perjodohan yang tidak terduga membuat dia bisa di pertemukan dengan Tiara, walau dia tidak pernah tahu apa itu cinta, tapi dia bisa mengakui semenjak hadirnya Tiara, hidupnya menjadi lebih berwarna.
Tiara kembali dengan satu gelas air minum di tangannya, menghampiri Kenzo
bersamaan dengan kedatangan Ze yang menghampiri kedua anak muda itu. "Ken, kau kenapa? mommy kiri kalian belum pulang." tanya nya heran.
Kenzo sampai kaget, dengan cepat menyembunyikan kompres es batu itu agar sang Mommy tidak melihatnya. "Tidak apa-apa, mom." jawabnya singkat, tidak mau Ze mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Bisa-bisa mommy nya itu yang akan marah tidak terima.
__ADS_1
"Kok bisa di sini, bukannya mau menemui Pak Arya?" tanya Ze masih penasaran.
Dengan cepat Kenzo langsung menatap Tiara, memberi isyarat agar wanita itu tutup mulut dengan kejadian malam ini, "Tidak menemui keluarga mereka juga tidak apa-apa, mom. Cukup Daddy saja yang bicara pada Pak Arya." timpal nya, bukan dia tidak mau meminta restu paman dari calon istrinya, dia hanya terlalu muak sampai tidak mau menemui Arya, seperti pengemis saja. Tiara sudah berniat baik karena masih menghargai mereka, tapi mereka malah menghinanya.
"Ya sudah, mommy hanya ingin mengambil minum saja, cepatlah naik dan istirahat." Ze pamit. Dia memang tidak terlalu mempedulikan soal itu, yang Ze harapkan mereka cepat menikah, tidak peduli apapun itu masalahnya.
"Nih!" Tiara kembali duduk, kembali menghadap Kenzo dan memberikan air minum itu, "Apa tidak apa-apa sampai membohongi mommy?" tanyanya merasa tidak enak.
Kenzo meraih gelas itu langsung meneguknya sampai habis setengahnya, dia mendadak jadi haus karena hampir ketahuan mommy nya. "Mommy terlalu posesif, dia pasti akan langsung membalas kelakuan Pak Arya sesukanya, tanpa mempertimbangkan akibat yang akan terjadi ke depannya." tutur nya menjelaskan, dia hanya tidak mau memperkeruh suasana dan itu pasti akan berakibat pada Tiara. Dia tahu seperti apa keluarga Arya; mereka bukan orang yang akan diam dan menurut hanya dengan sekali teguran saja. Selagi mereka belum puas pasti mereka akan melampiaskan nafsu nya.
"Lalu bagaimana dengan Daddy? Daddy meminta kita menemui paman, tidak mungkin kan membohongi Daddy, kita belum bicara apa-apa." tanya Tiara lagi, dia semakin khawatir jika malah timbul banyak masalah.
"Jangan khawatir, Daddy lebih bijak, meski aku menceritakan semuanya, Daddy tahu apa yang semestinya di lakukan." jelas Kenzo memberi jawaban, dia langsung menatap Tiara, menggerakkan tangannya menyentuh kepala wanita itu. "Jangan terlalu banyak pikiran! Kau hanya perlu menyiapkan diri untuk menjadi istri ku." timpal nya dengan ledekan, dia sampai menahan tawa melihat ekspresi malu-malu Tiara.
Esok harinya.
Arya sudah tidak tenang memasuki ruangan Kenan, dia bisa menebak atasnya itu memanggilnya karena masalah tadi malam dengan putranya. "Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?" ucapnya dengan menganggukkan kepala.
"Duduk! Tidak perlu basa basi karena saya sedang sibuk." pinta Kenan dengan begitu datar, dia bahkan tidak menampakkan keramahan dan enggan melihat wajah lelaki itu. "Pilih divisi mana yang akan anda pilih?" tanya nya langsung. Dia bermaksud menurunkan jabatan Arya karena berani menyentuh putranya. Dia masih bisa bersabar karena itu Arya, kalau itu orang lain dia pasti sudah memecatnya.
"Pak!" Arya kaget, apa maksud ucapan atasan nya itu, tiba-tiba menayangkan divisi padahal pangkatnya sudah di atas mendekati direktur utama.
"Anda cukup pintar, jadi saya tidak perlu menjelaskan." timpal Kenan masih bicara dengan begitu datar.
"Pak sungguh saya minta maaf, saya terpancing amarah karena mendengar tangisan putri saya karena tingkah Nak Kenzo. Saya benar-benar minta maaf." lirih Arya, kini dia mengakui kesalahannya. Tolong ampunilah, dia tidak mau turun jabatan apalagi jabatan itu jauh lebih rendah dari posisinya sekarang.
__ADS_1
"Putra saya tidak akan melakukan hal yang merugikan orang tanpa sebuah alasan," tutur Kenan singkat, Kenzo memang tidak bercerita sampai ke sana, tapi dia tahu sifat putranya bagaimana. "Jika minta maaf pada saya, saya tidak punya jawaban karena anda salah orang."
lanjut nya lagi dengan penuh penegasan.
"Pak, saya akan meminta maaf pada Nak Kenzo dan Tiara, dan saya mohon jangan turunkan jabatan saya." Pintanya lagi dengan memohon. Jika jabatannya turun, maka gaji bulanannya pun akan ikut turun, dan itu akan mempersulit finansial keluarga nya.
"Di mana jabatan anda tergantung bagaimana sikap anda dan keluarga anda kedepannya. Dan harus anda ketahui, Tiara dan Kenzo akhir pekan ini akan melangsungkan pernikahan." timpal Kenan memberi tahu, nada bicaranya masih terdengar begitu dingin. "Saya tidak berharap lebih, saya hanya ingin anda yang merupakan wali Tiara bisa merestui pernikahan mereka, dan hadir di acara pernikahan nya nanti." jelasnya lagi.
"Menikah, apa tidak terlalu terburu-buru?" Arya kaget bukan main, kalau mereka menikah berarti harapan putrinya mendekati Kenzo putus begitu saja.
"Tidak ada kata terburu-buru, keputusan saya sudah bulat, saya memberi tahu anda karena Tiara masih menghargai anda, kalau bukan karena itu saya bisa saja menikahkan mereka tanpa memberi tahu anda." jelas Kenan menegaskan, Dia sudah mengira kalau Arya pasti bakal kaget dan tidak setuju. Tapi dia punya banyak cara untuk mengatasi semuanya.
Arya sampai menghela nafas, tidak ada baiknya untuk membangkang Kenan, keadaannya sekarang sangat sulit untuk melawan, dia hanya bisa menuruti semua kemauan Kenan, agar posisinya tidak terancam. "Baik Pak, saya akan menuruti semua kemauan Bapak, saya dan keluarga akan berusaha introspeksi, kehidupan saya ada di tangan bapak, tapi saya memiliki satu permintaan." tutur Arya mulai luluh. Melawan juga percuma dia tidak akan menang. Dia hanya mempunyai satu keinginan yang mungkin tidak akan merugikan kedua belah pihak.
"Apa?" tanya Kenan penasaran.
"Saya mohon Nak Kenzo bisa memperlakukan putri saya lebih baik lagi. Bukankah jika nanti Tiara dan Nak Kenzo sudah menikah berarti hubungan kekeluargaan mereka semakin dekat, setidaknya perlakuan putri saya seperti memperlakukan seorang adik ipar sendiri."
pintanya dengan lirih.
"Itu tergantung bagaimana putri anda bersikap Tanpa di perintah dan di minta Kenzo akan bersikap baik pada orang yang semestinya."
timpal Kenan dengan begitu datar. Dia tahu hubungan Kenzo dan Sahsa meregang karena kehadiran Tiara, tapi itu bukan salah putranya yang pilih kasih melainkan salah Shasa sendiri.
"Saya bisa menasehati Shasa, dan saya mohon, perlakuan lah putri saya sebagimana keluarga bapak memperlakukan Tiara!"
__ADS_1